
Pertemuan Pak Mirwan dan Pak Rama berjalan lancar, kerja sama mereka terjalin sangat baik. Kedepannya, ada beberapa kerja sama lagi yang sudah menanti keduanya, tanpa Papa Raisa.
"Mungkin kita bisa makan malam bersama, Pak Mirwan?." Ajak Pak Rama karena sekarang sudah waktunya makan malam.
Papa Mirwan tersenyum tapi menolak halus ajakan Pak Rama. "Mungkin lain kali saja, karena hari ini cucu ku pulang dari rumah sakit."
"Cucu?." Pak Rama mengerutkan dahinya.
"Iya, anak. Acha dan Marvel." Jawab Pak Mirwan tetap memperlihatkan senyumnya.
"Oh, selamat kalau begitu. Selamat sudah menjadi kakek." Pak Rama menjabat tangan Pak Mirwan dengan begitu senang.
"Baik, sekarang aku harus pulang. Mungkin Acha dan Marvel sudah menunggu ku." Pamit Pak Mirwan sambil menenteng tas kerjanya.
"Iya, silakan. Tolong sampaikan salam saya untuk Acha dan Marvel." Balas Pak Rama.
"Iya, nanti akan aku sampaikan." Ucap Pak Mirwan sebelum menutup pintu dan keluar dari ruangan Pak Mirwan.
Pak Rama masih berdiri, dia mengingat sang putra yang sampai saat ini belum ada kabar.
"Kembali lah Dirga, Acha dan Marvel sudah bahagia. Bahkan mereka sudah memiliki anak." Gumam Papa Dirga sambil mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
🍁
🍁
🍁
Papa Rama tidak langsung pulang, dia mengunjungi Irish yang sudah hampir satu Minggu di rawat di rumah sakit.
"Pa..." Panggil Mama Dirga dari depan ruangan Irish.
"Ma...bagaimana keadaan Irish sekarang?" Tanya Papa Dirga ketika sudah bersama Mama Dirga.
"Masih begitu saja, Pa. Irish selalu menanyakan Dirga. Coba Papa tanya Ruslan, siapa dia tahu keberadaan Dirga?."
"Lalu kemana perginya anak itu?." Mama sudah frustasi dengan anak semata wayangnya.
Di sela-sela obrolannya, Papa Dirga menceritakan tentang Pak Mirwan, Acha dan Marvel serta bayi Acha dan Marvel yang baru lahir.
"Apa Dirga tidak akan kembali lagi, Pa?. Karena Acha sudah bahagia dengan Marvel." Ucap Mama dengan sendu. "Kenapa Dirga harus pergi?." Sambungnya lagi sambil menitikkan air mata.
Papa Dirga hanya menghela nafas panjang sambil mengelus punggung sang istri.
__ADS_1
Raisa mendengar apa yang sedari tadi dibicarakan oleh Papa dan Mama Dirga.
"Kau bersembunyi dimana, Dirga?. Andai kita masih bisa bertemu, aku akan bersujud dan meminta maaf pada mu." Gumamnya lirih sambil menatap Irish yang berbaring lemah dengan selang infus.
Papa Mirwan baru saja sampai di rumah. Ketika Marvel dan Acha sedang membahas masalah pekerjaan.
"Mana cucu, Papa?." Papa Mirwan ikut bergabung duduk di sebelah Marvel.
"Tidur, Pa. Baru banget tidur karena tadi dia bangun minta susu." Jawab Acha.
"Papa sudah makan?." Acha bangkit untuk menghangatkan makanan jika Papa Mirwan belum makan.
Papa Mirwan menggeleng.
"Ayo aku temani makan, kalau Papa belum makan."
Papa Mirwan kembali menggeleng, "Tidak Ca, Papa masih kenyang. Jadi Papa tidak makan."
Acha kembali duduk tapi hanya sebentar, karena Devan terdengar menangis. Acha langsung berpamitan pada kedua pria itu.
Kini hanya ada Papa Mirwan dan Marvel.
__ADS_1
"Acha sudah melahirkan. Sekarang kamu harus memenuhi janji mu pada Papa, untuk memberikan Papa keturunan dari mu dan Acha. Bangun lah kebahagian mu dan Acha."