Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Thirteen


__ADS_3

Aku menaruh tas jinjing di atas meja makan dan duduk sambil menulis pesanan besok.


Santi mengambil piring untuk menaruh rujak yang ia bawa, dia duduk dihadapan ku dengan mata yang mengisyaratkan sesuatu.


"Nggi..." Panggil Santi yang menghentikan gerak tangan ku.


"Apa?" Jawab ku singkat.


"Aku punya kenalan buat kamu mau ga?" Aku menautkan alis bingung.


"Nggi kali ini anak pelayaran, udah mapan dan matang, aku yakin kamu suka, dia orangnya baik banget." Timpal Santi lagi, dan kini aku tau yang dimaksud dengan kenalan adalah pria dan aku dengan matang segera menjawab.


"Enggak..." Ekspresi Santi seketika langsung berubah menjadi memohon.


"Yah elah Nggi, please... Mau ya... Nggi?" Ucapnya memohon.


"Gak! Sekali gak tetep aja gak!" Seru ku.


"Nggi, barang yang udah lama gak di pakai biasanya bisa lapuk, bisa berdebu dan lama² bakal di buang." ucap Santi sambil memakan rujak yang dia bawa.


"Maksud kamu itu apa sih?" Aku menghela nafas dan mulai mengerti jalan pembicaraan ini.

__ADS_1


"Santi, ini hati bukan barang, ini hari bukan taman bermain, gak ada permainan di dalam sini yang ada cuma keseriusan, dan kalau pun ada yang mau ngajak aku berhubungan serius, dia harus tau konsekuensinya!"


Bukan kali ini saja dia menawarkan perkenalan dengan teman temannya itu, bahkan sering dan aku lagi dan lagi selalu menolak.


Aku menarik nafas menatap Santi yang mulutnya penuh dengan sambal rujak.


"San, kamu tau kan apa alasan aku selama ini, aku gak bisa san!" Jawab ku menetralkan segala macam pikiran yang ada.


"Kamu bisa, tapi terlalu over thinking." Jawab Santi menggebu, aku tau Santi benar sepenuhnya.


"Aku bukan berpikir berlebihan san aku hanya mencegah, kamu tau semua kata kata Raka waktu itu benar, mana ada pria yang mau dengan perempuan seperti aku, bukan hanya membahas masa depan San, bahkan untuk sekedar memiliki aku ragu, aku gak bisa."


"Bukan gak bisa kamu hanya ga pernah mau mencoba." Belum sempat aku menjawab Santi, ibu sudah memanggil ku.


"Nggi... Mau ya???" Dia masih memohon rupanya.


"Jangan bahas ini lagi San, aku ketemu ibu dulu." Aku melepas genggaman tangannya.


Aku menemui ibu di kamar.


"Ada apa Bu?" Tanya ku yang melihat ibu duduk di ranjang sambil memegang sebuah buku.

__ADS_1


"Duduk." Ujar ibu dengan tatapan yang masih tertuju pada buku itu.


"Besok ada berapa jumlah pesanan Nggi?"


"Kira kira ada sekitar 34 paket Bu, tapi ada beberapa yang diantar sama Indah." Jawab ku.


"Ibu minta tolong boleh?"


"Boleh, apa?"


"Ibu minta tolong kamu untuk antar buku ini ke rumah Tante Diana, bisa?"


"Bisa, besok ibu kasih ke aku aja, itu aja Bu? Aku mau nemenin Santi lagi kalo udah." Ucap ku malas, ku kira apa ternyata hanya mengantarkan buku saja.


"Ada lagi, Tante Diana mau kamu kenalan sama anaknya yang baru pulang dari Semarang." Ucap ibu yang tau pasti aku akan menolak.


"Untuk urusan yang satu itu aku gak bisa Bu." Ucap ku lalu pergi dari kamar.


Aku mendengus, bagaimana bisa seharian ini yang dibahas adalah masalah pasangan untuk ku.


Jelas mereka semua tau aku selalu menghindar dengan itu semua.

__ADS_1


__ADS_2