Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Twenty-three


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, kini Hanggi sudah kembali beraktivitas normal seperti biasanya, dan Aryan kini resmi menjadi pengacara, Pengangguran banyak acara.


Bagaimana tidak hampir beberapa hari ini ia pulang larut malam, entah apa yang dikerjakannya, sampai sang mama protes dengan dirinya yang mulai semaunya.


Bangun siang, karena setelah solat subuh ia kembali tidur, dan akan pergi setelah Zuhur, kemudian kembali ke rumah pada pukul 2 pagi.


"Mas, hari ini Uta dan Marsha, akan datang, dia ada acara di Mampang, tempat tantenya Marsha." Ucap sang mama yang sedang membuat teh hangat untuk Aryan yang baru bangun tidur.


"Emmm... Aku mau pergi sebentar." Ucapnya dengan singkat.


"Kamu mau kemana lagi?"


"Ada bisnis ma."


"Mas mama gak mau ya kamu terjerumus hal gak baik!" Tegas sang mama, mana ada bisnis yang di bangun dengan cara berangkat siang pulang malam.


"Ma, mobil bakalan Aryan jual."


"Buat apa?" Mamanya mulai naik pitam.


"Buat modal." Kemudian dia pergi dengan mengambil jaket dan kunci motornya.


"Aryan!" Mamanya teriak tapi dia tetap melangkah pergi keluar rumah.


Di teras sudah ada Hanggi yang mematung melihat Aryan keluar membawa helem.


"Assalamualaikum." Ucap Hanggi datar sambil membawa tas jinjing berisi pesanan catering.


"Waalaikum salam." Ucap Aryan terperangah menatap Hanggi.


"Hanggi, kamu yang antar?"


"Iya mas."


"Sudah selesai urusannya?" Tanya Aryan lagi, karena teman Hanggi yang bernama Ajeng sering sekali di tanyai kabar Hanggi oleh Aryan.


"Iya, besok besok kalau bukan saya yang antar jangan banyak tanya ya mas, teman saya jadi gak mau lagi nganterin kesini." Ucap Hanggi tegas dan tanpa sungkan.


Kenapa Hanggi jadi berani begitu?

__ADS_1


Karena seminggu lalu, Hanggi benar² menelpon Tante Risda dan jawabannya jauh di luar dugaan Aryan, jadi Aryan habis di marahi oleh Hanggi.


Ya... Begitulah Hanggi, dia bisa sangat sopan dan manis bersikap dengan seseorang, dan dalam waktu yang bersamaan pula dia bisa menjadi macan yang siap menerkam mangsa.


"Iya." Ucap Aryan dingin dan meninggalkan Hanggi di depan teras rumahnya.


Aryan memacu motor Kawasaki nya itu dengan kecepatan tinggi, dia akan bertemu dengan temannya kali ini, sampai di tempat yang ia tuju, Aryan melepas helem dan duduk menikmati makanan yang sudah di sediakan oleh sang pemilik cafe.


"Eh...Yan, gimana?" Tanya temannya.


"Mau gak mau, jual mobil kayaknya." Ucap Aryan pasrah.


"Tapi sayang, mobil lu kan baru tiga tahun Yan, masih orisinil lagi, masa mau lu jual buat beli tanah itu." Ucap teman Aryan, sambil membawa beberapa dokumen yang rapih di dalam map.


"Yah... Mau gimana Ril, tanahnya strategis, cocok buat bangun ruko, mumpung yang jual lagi butuh, lagian tabungan gue cukup kok bangun ruko lantai dua 3 petak mah, kalau di tambah mobil." Jelas Aryan.


"Yaudah gue yang urusin semuanya, lu terima beres." Ucap teman Aryan.


Aryan mengurus masalah tanah tersebut dengan temannya, dia juga menyiapkan dokumen jual beli, serta membawa bukti penyerahan ke notaris.


"Ril, thanks ya... Gue balik dulu, sampai semuanya selesai tolong di pantau." Ucap Aryan sambil menghidupkan motornya.


"Om... Alyan..." Teriak gadis kecil yang selalu membuat Aryan ingin memakan pipinya.


"Eh... Frasya... Mana mama papa?"


"Mama papa, di dalem sama Oma."


Aryan menggendong Frasya masuk kedalam, dia melihat Hanggi nampak repot di dapur bersama sang mama, sementara adik iparnya terlihat nyaman berada di ruang Tv.


"Mana Uta?" Tanya Aryan dingin.


"Di belakang." Jawab Marsha cuek.


Setelah selesai dengan kegiatan Hanggi pamit kepada Tante Risda, untuk pulang.


"Tante, Hanggi pamit ya, masih banyak yang mau di urusin." Pamit Hanggi sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


"Gak mau makan dulu Nggi? Aryan juga sama Uta baru sampai, kamu gak mau ngobrol sama Uta?" Tanya Tante Risda.

__ADS_1


"Lain kali mungkin Tan."


"Ya sudah, kalau kamu mau pulang, hati hati."


Hanggi melangkah kakinya keluar dari rumah itu dan di susul oleh Marsha.


"Hanggi tunggu?"


"Ada apa?" Ucap Hanggi dingin, Hanggi masih ingat terakhir bertemu dengan Marsha, Hanggi di tampar di depan umum dan di teriaki wanita tidak tau diri, wanita perebut pacar orang.


"Masih berani kamu menampakan wajah di rumah ini?" Tanya Marsha penuh emosi.


"Kenapa tidak? Saya tidak membuat kesalahan, saya datang hanya untuk mengantar pesanan catering, kemudian Tante Risda meminta saya untuk membantunya, apakah saya salah?" Tanya Hanggi kembali.


"Kamu salah, di dalam rumah ini ada pria yang masih mengharapkan kamu, teman lama yang mencintai kamu dan menghancurkan masa depan saya!"


"Maaf, mungkin dia masih mengharapkan saya tapi saya, saya tidak sama sekali berniat, terlintas di otak saya pun tidak, saya tidak mengharapkan siapapun, yang saya lihat saat ini adalah rasa terima kasih saya pada Tante Risda yang selama masa kehancuran saya dia selalu ada di sisi saya."


Hanggi segera menaiki motor itu dan tidak lagi menatap Marsha.


Uta yang sedikit mengintip, sedikit tersenyum.


"Sudah banyak berubah, lebih baik, lebih cantik dan tentunya lebih berani."


Marsha masuk kedalam rumah itu dan menendang kursi.


"Jangan suka bermain dengan emosi, saya bukan pria seperti apa yang kamu pikirkan."


"Bagaimana aku gak berfikir begitu, sejak dulu kamu itu selalu bersama dengan Hanggi! Bahkan saat kita mau menikah kamu lebih memilih untuk menemui Hanggi dan memohon kepada dia!"


"Marsha! Ini rumah mama, jangan buat perkara disini! Aku memang pernah mencintai Hanggi, tapi itu dulu, saat aku belum memiliki Frasya dalam hidup ku!" Ucap Uta tegas.


"Oke, bukankah dulu kamu sendiri yang menyuruh aku menggugurkan kehamilan ku, bukankah kamu yang dulu menyatakan bahwa Frasya bukan anak kamu pada wanita itu!" Ucap Marsha semakin berapi api.


"Iya, aku salah, setelah aku dengarkan kata kata Hanggi, Hanggi benar Frasya bukan sampah seperti apa yang aku pernah bilang, tapi Frasya adalah harta yang paling berharga yang pernah aku miliki, dan kamu, kamu menyia-nyiakan harta kamu yang paling penting." Ucap Uta kejam penuh tekanan.


"UTA! CUKUP! gue gak mau di rumah gue ada pertengkaran!" Ucap Aryan melerai keduanya.


"Ingat baik baik, Hanggi sahabat aku, dan akan tetap berlaku seumur hidup!" Uta segera pergi dari hadapan Marsha dengan membawa Frasya dari gendongan Aryan.

__ADS_1


__ADS_2