Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Twenty-four


__ADS_3

Uta mengajak Frasya pergi dengan mobilnya, tanpa banyak tanya Pria bernama Juddan Syahputra itu datang ke sebuah pemakaman di daerah Karawang.


Di batu nisan itu tertulis nama sahabat kecilnya, sahabat yang selalu menemani dirinya kala semua orang tidak bisa mendengar teriakannya.


"Gimana kabar lu bro, tenang disana ya... Pujaan hati Lo udah jadi perempuan yang cantik sekarang, bukan lagi Hanggi yang tomboi, bukan lagi Hanggi yang urakan dan dingin gak jelas." Uta mengusap air matanya yang turun, dia kembali bercerita dengan Frasya yang duduk di atas pusaran sahabatnya.


"Dan Lo tau, mas Aryan udah balik ke rumah, dia suka sama Hanggi, Hanggi cantik banget, pakai kerudung, kacamatanya tetap sama, udah berani ngebela diri, Hanggi udah banyak berubah bro, oh ya... Ini putri gue, namanya Frasya Putri Camelia, maafin gue bro gue gak bisa jaga Hanggi, setelah terakhir kali gue ke sini, Hanggi menghilang, nomer ponselnya mati, dan dia gak pernah ngehubungin gue selama ini."


"Rumah tangga gue kacau bro, Marsha ternyata gak baik, dia selalu hidup boros dan dia selalu lalai dalam menjaga Frasya. Bro, lu tau kan kalau Hanggi sakit... Gue gak tau gimana keadaan sakitnya sekarang, udah gue kesini cuma mau ngobrol dikit sama lu, perasaan gue rada gak enak." Sejenak Uta memandang nisan bernamakan Radika Husein Alasry.


Mata hari semakin redup, Uta memutuskan untuk kembali ke rumah mamanya itu, dia mengendong sang putri yang tertidur.


"Uta, kamu dari mana?" Tanya Risda dengan peranan sebagai mama yang tau kondisi anaknya sedang tidak baik.


"Ma, Frasya malam ini biar sama mama aja ya..." Ucap Uta dingin sambil menyerahkan Frasya ke gendongan sang mama.


Uta tidak masuk ke dalam kamarnya dia memutuskan untuk datang ke kamar kakaknya.


"Mas." Sapa Uta yang masuk menghampiri kakaknya yang sedang berkutat dengan laptop.


"Kenapa?"


"Lu gak mau tanya tentang Hanggi sama gue?" Aryan terdiam, sampai akhirnya Uta bercerita.


"Lu ingetkan kali pertama gue cerita tentang cewek sama lu?" Aryan hanya mengangguk.


"Nah, dia itu Hanggi, dulu Hanggi gak bakal bicara kalau gak ditanya, terus dia juga selalu nontonin gue dan Dika kalo lagi main basket di balai rakyat, sambil bawa tas sekolah dan juga raket badminton, gue selalu ngegodain Hanggi, tapi Hanggi acuh dan jalan gitu aja... Sampai Dika nemuin Hanggi lagi nangis di pojokan lapangan, Dika nyamperin Hanggi dan tanya macem macem, awalanya Hanggi diam tapi lama lama dia cerita semuanya, tentang rumah, tentang keluarganya, dari sana Dika mulai dekat dengan Hanggi, bahkan Dika sering ngajak Hanggi main ke sini, dan gue tau saat itu gue udah gak punya celah, hanya bisa ikutan seneng kalo Dika cerita tentang Hanggi."


Aryan terlihat antusias dan mendengarkan, dia menutup laptopnya.

__ADS_1


"Hanggi, sebenarnya gak bahagia dengan keadaan rumahnya, setiap hari orang di sekitarnya selalu bicara gak baik tentang dia, ibunya yang udah lama pergi sejak usianya masih SD, membuat cerita baru di hidupnya, Hanggi menjauh dari keluarga ibunya, dia bilang dia malu, otaknya yang pas Pasan dan kedudukan ayahnya yang gak sederajat sama keluarga ibunya, Hanggi juga di tinggalin begitu aja, Hanggi banyak banget kehilangan, saat lulus dari SMP Hanggi kehilangan lagi kali ini om dari ibunya satu satunya orang yang masih mau mendengarkan keluhan Hanggi."


"Ingat waktu pertama gue tau papa selingkuh?"


"Iya, waktu itu Lo nangis sambil telpon gue, bilang kalo lebih baik Lo mati."


"Betul mas, gue udah kehilangan arah saat itu, Hanggi nemenin gue buat ngebuktiin bahwa itu papa, papa yang selalu gue banggain, Hanggi yang ngelarang gue untuk nonjok papa, dan nendang cewek itu, dan korbannya adalah Hanggi, tangan Hanggi kena tonjokan gue."


"Mas, dulu gue di titipin sesuatu sama Dika, untuk jaga Hanggi, dan Dika nitip Hanggi sama gue, tapi gue gak bisa jaga dia... Selain itu Dika juga titip hal yang gak bisa gue kasih ke Hanggi sampai saat ini."


"Apa yang Dika titip sama Lo?" Tanya Aryan.


"Dika nitip ini." Uta memberikan flashdisk pada Aryan.


"Boleh gue liat?" Tanya Aryan.


Aryan memasang flashdisk itu di laptopnya, dan Aryan nampak kaget saat melihat Video itu, wajah pucat anak laki laki, serta tubuh telanjang yang di pasangi alat medis lengkap, tubuh kurus, mata kosong, ditambah tulang wajah yang begitu ketara.


"Hallo... Assalamualaikum jelek... Gimana kabar mu? Aku berharap kamu baik disana. Hanggi aku mau minta maaf aku gak bisa hadir di ulang tahun kamu, tapi aku buat video ini buat nemenin kamu." Nafas dalam rekaman itu nampak tergesa, ada selang oksigen yang membantunya, nampak juga monitor dan alat medis lainnya.


"Nggi, kangker darah ku semakin parah, aku rasa aku gak bisa bertahan lama, aku cuma mau pesan, jangan pernah lupain aku sebagai sahabat kamu, kamu orang pertama yang berani marahin aku saat aku salah, kamu orang pertama yang buat aku bisa hidup layaknya orang normal, Hanggi suatu saat jika kamu lebih beruntung dari aku kamu akan menemukan seorang pria yang bisa menerima kamu tanpa perduli siapa kamu, suatu hari kamu akan di pertemukan dengan keluarga yang bisa menyayangi kamu tanpa perduli siapa kamu, aku banyak belajar dari kamu tentang arti hidup yang lebih pahit."


Radika kembali terbatuk dan merasakan sesak.


"Hanggi, jangan berfikir aku tidak menyayangi mu saat menghilang dan menghindar, aku orang pertama yang menangis saat Uta bilang kamu mencari aku, Nggi kalau kita bisa bertemu kembali, biar aku jadi sahabatmu saja, sahabat yang selalu bisa dengar semua keluh kesah mu, karena sahabat lebih baik dari seorang kekasih, kamu bisa bercerita apapun pada sahabat mu, tapi tidak pada kekasih mu."


Radika terbatuk semakin kuat dan kali ini disertai mimisan, dan darah segar yang keluar dari mulutnya, rekamannya menunjukan bahwa kesadaran Radika sudah menurun, dan begitu banyak keributan yang terjadi.


"Lo dapat rekaman ini dari mana?" Aryan sudah nampak berkaca kaca, dia menutup laptopnya, dan menggenggam pundak adiknya.

__ADS_1


"Dari Rani, adiknya Dika."


Aryan mengerti sekarang kenapa adiknya menyembunyikan ini.


"Hapus file ini, janji sama gue Lo gak akan pernah buka mulut lagi tentang ini, biar Hanggi sendiri yang melupakan Dika dengan berjalannya waktu."


"Gue gak bisa mas, gue mau Hanggi tau dan gue akan tenang setelahnya."


"Kapan Lo mau ketemu Hanggi?"


"Mungkin besok malam, setelah pulang dari acara."


"Biar gue yang kasih ke Hanggi, besok siang Hanggi datang ke sini, biar gue yang bicara."


"Lo yakin mas?" Tanya Uta yang nampak ragu dengan sang kakak.


Aryan hanya mengangguk menatap tajam dirinya.


"Ya sudah, gue percayain dia sama Lo."


Aryan hanya mengangguk.


"Lo mau tidur di sini?"


"Iya, gue masih marah sama Marsha."


Lalu Uta berbaring dan memejamkan matanya, Aryan hanya bimbang dengan video yang akan di berikannya pada Hanggi besok.


"Apakah dia bisa terima semua ini, Hanggi aku gak tau kamu kaya gimana dulu, tapi aku memutuskan untuk terlibat mulai sekarang." Batin Aryan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2