
Dokter Arga memasuki ruangan ICU dia bertugas memantau Hanggi hari ini.
"Sus, lepas semua peralatannya, Hanggi sudah bisa dipindahkan keruangan rawat biasa."
"Baik dok." Kemudian suster perlahan melepas semua peralatan yang memantau Hanggi selama dua hari terakhir ini.
Ketika di pindahkan dan sudah terbaring di ruangan rawat, Hanggi membuka matanya dan tersenyum pada dokter Arga.
"Kamu sudah membaik Hanggi, saya berharap setelah ini kamu bisa kembali beraktivitas." Dokter Arga memeriksa Hanggi kembali, dia menatap Hanggi dengan tatapan khas seorang ayah kepada putrinya.
"Dok..." Ucap Hanggi lirih dia memaksa untuk bangun dari tempat tidurnya.
"Jangan banyak bergerak kamu belum begitu kuat." Dokter Arga duduk menghadap Hanggi sambil menggenggam tangan Hanggi.
"Bagaimana dengan komplikasinya?"
__ADS_1
"Hanggi, jangan takut, kita akan melakukan yang terbaik untuk perawatan mu." Dokter Arga tau apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Hanggi, sebuah keinginan besar yang mungkin tidak bisa ia wujudkan.
"Tiga tahun lalu, kamu datang dan bertanya kepada saya, apakah kamu bisa menjadi seorang ibu, dan saat itu saya hanya bilang, kamu bebas memilih, dan kini saya berkata bahwa apapun yang terjadi nanti itu semua adalah kehendak Allah, Hanggi semakin kamu mengalami rasa takut itu semakin berat langkah yang harus kamu ambil."
"Tapi dok... Seakan obat yang di berikan oleh dokter Imelda tidak bekerja saat saya mulai mengingat semuanya, kata² itu, perasaan bersalah, masa depan dan anak anak dok."
Dokter Imelda merupakan seorang Psikiater yang beberapa tahun terakhir menangani kasus Hanggi, sikap Hanggi yang sering naik turun, bahkan fikiran dan konsentrasinya yang kadang terpecah menjadi kesulitan tersendiri untuk Hanggi.
Di kamarnya terkadang Hanggi suka menangis sendiri, marah dan rasa ingin mengakhiri hidup terkadang muncul begitu saja.
"Hanggi, kamu mengenal saya dengan baik, tapi kamu tidak cukup mengenali dirimu sendiri, kamu menginginkan keadaan baik baik saja tapi kamu memikirkan semuanya seakan kamu melaluinya sendiri? Hanggi lihat saya, usia saya sekarang 50 tahun lebih, saya lebih tua dari kamu bisa saja saya lebih dulu mati, tapi saya memilih untuk tidak memikirkan itu semua, karena masa depan bukan kehendak kita Hanggi, kita hanya berusaha sekarang untuk memperbaiki semuanya." Dokter Arga tersenyum.
"Sejak pertama saya mengenal kamu, saya sudah yakin kamu bisa bertahan dengan baik, saya sudah menduga semua ini sejak awal, tapi saya tetap yakin kamu bisa mengambil jalan terbaik yang akan menjadi pilihan kamu untuk melanjutkan semuanya."
Hanggi memandang serta menatap bola mata dokter Arga, meski dia menahan air matanya agar tidak terlihat cengeng.
__ADS_1
"Dokter... Jangan bosan membantu Hanggi, Hanggi gak mau di rawat oleh dokter lain, Hanggi gak mau kehilangan dokter."
"Hanggi, hidup itu penuh dengan pilihan, ketika kamu memilih untuk tetap tinggal maka akan lebih banyak hal yang menghampiri kamu, tapi jika memilih pergi? Kau akan kehilangan banyak hal tersebut dan tidak akan pernah mendapatkan apapun, jadi stay positif And keep strong!"
Hanggi tersenyum menampakan air matanya, dia ingin menangis tapi dia menahan semuanya, benar dia memang sok tegar tapi itu lebih baik saat dia tau ibu dan ayahnya ada melihatnya hancur.
Dokter Arga pamit dari hadapan Hanggi, sambil memberikan sebuah buku tulis dan pena.
"Saya mau kamu menulis sesuatu." ucapnya
"Apa?"
"Apapun itu, mungkin mimpi, harapan atau ketakutan yang selama ini kamu rasakan, atau mungkin perasaan yang tidak bisa kamu utarakan."
"Baiklah dokter." Hanggi tersenyum dan dokter Arga berlalu, buku yang tadi di berikan untuknya di simpan di bawah bantal dan tidak di hiraukan ya.
__ADS_1