
Acha pulang ke rumah dengan tentengan makanan pinggir jalan yang menurutnya sangat enak dan lezat. Tidak lama Papa Mirwan juga sampai di rumah Acha dan Marvel.
Ya, Acha dan Marvel menempati rumah baru mereka sebagai langkah awal pernikahan mereka untuk lepas dari bayang-bayang masa lalu Acha dengan sang mantan.
"Banyak sekali makanan, Cha?." Papa Mirwan duduk di meja makan dimana semua jajanan dan makanan terhidang.
"Kamu sanggup memakan semua ini, Cha?." Tanya Papa Mirwan lagi sambil menatap Acha yang sudah bersiap menyantap makanannya.
"Ya kan aku beli buat Papa dan Marvel juga. Memangnya kalian tidak mau?." Acha benar-benar lahap menyantap makanannya.
"Mau lah, Cha. Tapi aku makan tidak banyak juga." Sahut Marvel yang baru datang dengan pakaian santainya. Lalu duduk di sebelah Acha.
"Papa juga sama, Cha. Tidak bisa makan banyak." Timpal Papa Mirwan yang langsung mencoba jajanan yang baru dibeli sang putri.
Ketiganya makan dengan sangat lahap, tanpa ada yang berbicara apa pun.
Usai makan malam, mereka malah saja betah duduk di meja makan. Setelah Acha dan Marvel merapikan peralatan makan yang kotor.
"Papa sudah membelikan hadiah untuk anak kalian nanti?." Papa Mirwan beranjak dan mengambil bungkusan kado yang dia letakkan di atas kursi pada saat datang.
"Kenapa harus repot-repot, Pa?. Papa sudah bisa datang ke sini saja untuk melihat cucu Papa lahir aku sudah sangat senang, Pa."
__ADS_1
"Papa tidak merasa repot, Cha. Apa lagi ini cucu pertama Papa. Semuanya pasti akan selalu tercurah padanya, Cha."
Papa Mirwan menyerahkan beberapa bungkus kado yang sangat rapi dan cantik. Sehingga Acha begitu sayang untuk membukanya.
"Terima kasih banyak, Pa."
"Sama-sama, Cha."
🍁
🍁
🍁
"Pak Marvel meeting nya akan segera di mulai." Ucap sekretarisnya, Anna.
Marvel tersenyum ramah pada Anna yang sudah menjadi sekretarisnya lima bulan ini.
"Iya terima kisah, Anna."
Marvel membawa beberapa berkas untuk meeting pagi ini.
__ADS_1
Hanya satu jam saja, waktu yang dibutuhkan Marvel untuk menyelesaikan meeting nya. Karena ini merupakan meeting setiap awal bulan dengan semua kepala bagian di perusahannya.
"Anna ke ruangan saya sekarang!."
Tanpa menunggu jawaban Anna, Marvel langsung saja masuk ke ruangannya setelah setelah dari ruang meeting.
Marvel segera meletakan tumpukan berkas di hadapan Anna. Lalu duduk lagi di kursi kebesarannya.
"Kau susun semua bekas-bekas itu berdasarkan tanggal kerja samanya. Pisahkan juga ada beberapa berkas yang belum ditandatangani oleh Ibu Acha, nanti akan saya pulang." Pekerjaan ini sebenarnya pekerjaan Acha, tapi karena hari Acha tidak masuk jadi mau tidak mau dia limpahkan pada sekretarisnya.
"Lalu meja depan?."
"Kau tangan saja, pintunya akan saya buka. Jadi siapa pun yang bertemu dengan saya bisa langsung datang ke sini. Karena seingat saya, saya tidak ada janji untuk bertemu orang."
"Baik, Pak Marvel."
Anna segera mulai mengerjakan pekerjaan yang diminta oleh Marvel. Jika dilihat dari banyaknya berkas bisa sampai sore baru selesai dan dirinya akan malam sampai di rumah. Sementara dirinya harus cepat pulang.
Benar saja, sudah jam 18.00 dirinya masih berada di dalam ruangan Marvel. Sedangkan otaknya sudah berada di rumah.
"Kau berikan pada ku yang belum ditandatangani Ibu Acha. Dan kau boleh pulang." Ucap Marvel karena melihat Anna sudah tidak fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
"Baik Pak, terima kasih." Sebelum pulang Anna menyerahkan berkas yang diminta dan meletakan kembali berkas yang sudah selesai dikerjakannya.
Setelahnya baru dia pulang setelah berpamitan pada Marvel.