Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Twelve


__ADS_3

Hallo semua... Nama ku Hanggi, tadinya aku adalah seorang cook dari Hotel Desavero tapi sekarang, aku adalah seorang yang bergulat di dunia catering.


Sekarang aku sedang memulai tahap awal dimana semua perjalanan tidak semulus yang aku kira, ini sama seperti menggali tanah untuk mendapatkan air.


Memang sulit tapi aku yakin jalan yang aku pilih adalah sebuah pilihan yang terbaik dalam hidup ku.


Aku harus merelakan semua yang sudah ku bangun dari nol, tentang karir yang mulai meningkat di hotel itu, tentang kisah cinta dan seseorang, ku pikir aku hanya ingin hidup damai sendiri tanpa menyakiti orang lain, nyatanya? Begitu banyak yang harus tersakiti dalam pilihan ku ini, meski begitu akan selalu ada hal yang harus kita korbankan bukan?


Hari ini aku kan mengantarkan pesanan catering dari Semanggi Catering... Kalian tau kisah daun Semanggi? Iya yang dari drama Jepang itu... Katanya daun Semanggi berdaun 4 bisa mengabulkan harapan, dan aku juga berharap begitu


pada catering ku.


"Nggi, ada telpon." Itu Indah salah satu teman masa SMA ku, dia menemani ku untuk menjalankan catering ini.


"Makasih ndah." Ucap ku sembari mengambil ponsel dari tangannya.


"Hallo assalamualaikum..." Jawab ku.


"Waalaikum salam, dengan Hanggi?"


"Ya... Dengan saya sendiri, ini siapa?" Tanya ku sopan.


"Ini saya Aryan, masih ingat?"


Aku tersenyum ternyata orang ini...


"Iya ingat, ada apa?"


"Saya mau pesan catering dari kamu, apa sudah bisa?"


"Tentu bisa, mas Aryan bisa pilih menunya nanti saya kirim gambar via WA."


"Baiklah Nggi,saya tunggu secepatnya, soalnya mama saya harus banyak makan makanan sehat mulai sekarang."


"Kalau boleh tau mamanya mas Aryan sakit apa? Atau ada riwayat makanan alergi?"


"Tidak ada alergi, hanya saja tekanan darah dan kolesterol nya cukup tinggi."

__ADS_1


"Usianya?"


"58 tahun."


"Berat badan dan tinggi badannya?"


"Beratnya 65 kg, tingginya 158 cm, ada lagi?"


"Keseharian atau pekerjaannya?"


"Mama ku ibu rumah tangga, terkadang suka pergi untuk arisan dan macam macam hal."


"Baiklah saya kirim menunya dulu, mas Aryan bisa pilih dan masukan alamat serta nama pengirimnya."


"Baik, terimakasih Hanggi, nanti saya hubungi lagi."


"Sama sama mas, assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Tak selang lama Aryan sudah mengirimkan menu yang dia pilih,aku segera membalas dan mencatat menunya di buku.


"Terimakasih sudah menghubungi Semanggi Catering, besok pesanan anda akan di kirim sesuai dengan alamat pembayaran bisa dilakukan via transfer melalui rekening kami ⁴⁵⁷⁶⁸⁹²⁶ Atas nama Hanggi Agatha Rusdi bak BCA. 🙏"


"Saya sudah transfer, ini bukti pembayarannya, semoga bisa pesan terus ya Nggi."


"Iya mas." Aku membalas pesan itu dan kembali melanjutkan mengepak makanan yang akan ku antar, setelah semuanya beres aku pun pergi mengantar pesanan.


"Indah, Ajeng aku pergi ya... Nanti kalau ibu cari aku bilang aja aku pergi sebentar antar pesanan."


"Ok." Ucap Ajeng dan indah.


Mengantar pesanan sampai ke tangan pembeli memang sudah ku lakoni sejak Semanggi Catering dibuka, kalian tau arti Semanggi Catering bukan hanya dari lambang daun Semanggi dan harapan yang ku ceritakan tapi Semanggi merupakan singkatan yang di buat ke dua orang sahabat lama ku yaitu Juddan dan Radika, dulu saat aku murung karena terus di bully oleh orang lain mereka berdua menyemangati ku dengan semangat Hanggi, dan Radika suka menyingkatnya menjadi Semanggi... Semangat Hanggi!!!


Sambil mengendarai motor, aku tersenyum dan bernyayi ria mengikuti roda yang berputar.


Di pinggir jalan aku terpaksa berhenti, aku mendapat telpon dari Santi, kenapa lagi anak satu ini.

__ADS_1


"Hallo..." Jawab ku.


"Ke rumah aku sekarang, aku makan rujak bareng kamu."


"San... Gak salah kan? Makan rujak bareng aku?"


"Iya... Pokoknya temani aku sekarang!"


"Aku sih udah selesai nganter catering, tapi aku siap siap buat pesanan besok San."


"Yaudah aku ke rumah kamu, pokoknya mau makan rujak sama kamu!"


"Iya, ke rumah aja, aku juga udah gak kemana-mana, yaudah ya... Aku mau lanjut jalan, keburu kesiangan."


"Okey..." Kemudian Santi memutus telponnya.


Sesampainya di rumah aku bersalaman dengan ayah.


"Pulang nganter Nggi?" Tanya ayah dengan gaya bicaranya yang khas.


"Iya yah, Alhamdulillah ada yang bisa di antar."


"Terus kapan kamu di anter Nggi, ingat usia Nggi."


Tuh kan... Pasti begini ayah selalu membahas masalah yang tak pernah ingin ku bahas.


"Yaelah... Yah, umur Hanggi baru 24 tahun Hanggi masih mau ngurus karir dulu."


"Nggi, ngurus karir boleh tapi jangan menghalangi jodoh untuk datang dong."


Saat aku mulai badmood, Santi datang dan mengucap salam.


"Assalamualaikum ayah..." Teriaknya yang membuat telinga ku pengang.


"Tuh yah... Yang Dateng Santi bukan Jodoh!!!" Ketus ku pada ayah dan berlalu masuk rumah di ikuti Santi dari belakang.


Sebenarnya aku juga memikirkan tentang keinginan ayah, tapi aku bingung, bingung jika suatu saat aku jatuh cinta tapi akan seperti kisah ku dengan Raka, atau dengan Radika.

__ADS_1


__ADS_2