Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Twenty-five


__ADS_3

Hari ini aku kembali datang ke rumah Tante Risda,kali ini sedikit kesiangan karena pesanan yang ku antar lumayan banyak.


"Assalamualaikum." Ucap ku sambil mengetuk pintu rumah itu.


"Waalaikum salam." Terdengar suara pria dari dalam rumah, aku tau pria itu Mas Aryan, orang yang Minggu lalu terus bertanya pada Ajeng tentang diriku,Ajeng jadi risih dan gak mau mengantar ke tempat ini lagi, bukan hanya itu aku juga menanyakan kebenaran Tante Risda yang terus menerus minta ku temani, ternyata itu hanya akal Mas Aryan karena ingin berkomunikasi dengan ku, padahal aku juga sudah pernah bilang langsung kalo semua orang itu berteman, aku membuka diri untuk pertemanan tapi tidak untuk hal lain, aku tidak suka dengan caranya berkomunikasi yang memang terlalu aneh.


"Masuk Nggi." Ucapnya setelah membuka pintu, aku pun masuk, tapi tidak ada seorang pun di sini, hanya ada manusia itu.


"Tante Risda kemana?" Tanya ku yang sedikit sungkan.


"Mama keluar sebentar, saya mau bicara sama kamu." Aku melotot, dan menunjuk diri ku sendiri.


"Iya, sama kamu, ini permintaan Uta, supaya kamu tau semuanya."


"Maksudnya?"


"Dika, kamu kenal dia kan?" Aku mengangguk, kenapa juga harus hal ini lagi sih? Kesal ku.

__ADS_1


"Uta gak bisa kasih ini ke kamu, Uta takut kalau kau lihat ini,aku juga sebenarnya gak izinin Uta kasih ini, tapi Uta gak tenang." Dia meletakkan laptop dan sebuah flashdisk di atas meja.


"Duduk!" Ujarnya, aku seperti robot yang patuh akan majikannya, jika tentang Radika aku sudah tidak bisa berkata kata.


Mas Aryan membuka laptop dan video dari flashdisk itu, seketika muncul wajah yang paling aku rindukan, matanya yang lelah, senyumnya yang nampak lemas dan tak lagi bernyawa, tulang selangka nya yang nampak mencuat, air mata ku jatuh, tangan ku gemetar mencengkeram baju yang ku kenakan.


Kembali aku mengumpulkan keberanian untuk menatap layar datar itu.


Tiba saatnya dia bicara, suara yang menghilang selama tujuh tahun ini, suara yang selalu mengarahkan ku pada tindakan-tindakan yang membuat ku tetap tegar, sungguh aku tidak sanggup.


Aku menyaksikan detik demi detik rekaman itu, air mata pun jatuh tanpa perduli berapa banyak yang harus keluar, mas Aryan mengusap pundak ku, dia juga ikut menangis tapi berusaha menenangkan ku.


"Dimana Uta?" Dia hanya diam dan tak bergeming sampai aku mengguncang tubuhnya, saat yang bersamaan Tante Risda kembali, dan aku segera berhambur memeluknya.


" Hanggi ada apa? Aryan?" Tanya Tante Risda, tapi mas Aryan malah pergi dengan laptopnya.


Tante Risda terus memeluk ku, dan menyalurkan pelukan hangat khas seorang ibu pada ku.

__ADS_1


Waktu berlalu aku menunggu Uta untuk bicara padanya, aku mau bertanya sesuatu tentang masa lalu kami yang begitu manis tapi penuh luka bagi ku.


"Hanggi." Suara khas laki laki menyeruak di indera pendengaran ku.


"Jelaskan semuanya, kenapa hanya surat? Kenapa kamu tahan video itu, kenapa kamu sembunyikan semuanya dari aku?" Marah ku pada Uta, jelas emosi ini tidak bisa ku tahan.


"Kalau aku kasih tau semuanya sama kamu waktu itu apakah Dika akan kembali? Apakah kamu mampu menerima bahwa dia emang udah gak ada? Hanggi aku cuma gak mau kamu terus ingat dengan video itu, aku cuma mau kamu memiliki ingatan tentang Radika sebagai penjaga hati kamu, bukan sebagai orang yang terus membuat kamu menyesal."


"Tapi kenapa baru sekarang!"


"Radika, menyayangi kamu lebih dari sahabat, dan kamu hanya menganggap dia seperti sahabat saja, aku gak mau kamu tau bahwa dia benar-benar mencintai kamu, kamu gak perlu merespon dia, dia sudah ada untuk kamu."


"Aku tau dan aku juga jatuh cinta sama dia saat dia pergi, tapi waktu gak berpihak pada ku, aku harus terus kehilangan orang yang penting dari hidup ku, kamu gak pernah merasakan itu Uta! Kamu egois! Selama ini aku mencoba untuk bangun, mencoba untuk kuat dengan segala yang ada tapi apa? Sekarang dengan adanya video itu aku semakin merasa bersalah, karena aku gak pernah ada disaat dia membutuhkan aku, sekarang aku tanya sama kamu, apa alasan dia merahasiakan semuanya dari aku dan pergi menjauh saat itu?!" Aku terdiam menatap Uta yang wajahnya lemas dan air mata nampak di pipinya menyiratkan kesedihan.


"Kenapa diam! Kamu mau terus menyembunyikan semua fakta!"


"Hanggi, Radika menyembunyikan semuanya karena dia gak mau kamu terbebani dengan perasaannya, dia tau kamu lebih memilih untuk menjadi sahabatnya saja meski kamu juga jatuh cinta, kamu orang pertama yang berani memarahi Radika saat dia salah, sementara orang lain tidak akan marah karena mereka tau hidup Radika hanya sebentar lagi."

__ADS_1


Aku tidak tau harus berkata apa saat ini, pria yang benar-benar aku harapkan ternyata memang bukan untuk ku, aku memang tidak pernah merespon perasaan Radika saat itu, tapi saat dia hilang ternyata perasaan tenang dan nyaman itu adalah cinta.


__ADS_2