Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Bab 31 Sebuah Pilihan


__ADS_3

Pernikahan Acha dan Marvel sudah diketahui oleh orang banyak, termasuk oleh kedua orang tua Dirga dan Raisa. Sehingga semakin tidak ada kesempatan Dirga dan Acha untuk bersama.


Bersamaan dengan itu, perusahaan Dirga sudah laku terjual dan uang hasil penjualannya akan dia serahkan pada Papa nya setelah dia pergi dari kota ini. Jika dulu Acha yang harus pergi karena pernikahan dirinya dan Raisa. Kali ini dirinya yang harus pergi karena pernikahan Acha dan Marvel.


Rumah impian yang rencanakan akan menjadi rumah masa depan dirinya dan Acha, kini dia serahkan sepenuhnya atas nama Acha. Dia tidak ingin terikat lagi dengan masa lalu yang sudah siap dia lupakan.


Irish sudah dia titipkan pada sang Mama dan mantan ibu mertuanya. Karena bagaimana pun Irish adalah darah daging dirinya dan Raisa.


Kepergiannya sudah dia rencanakan, tidak banyak membawa barang apa pun. Dia hanya membawa pakaian yang melekat pada tubuhnya. Dia tidak ingin meninggalkan jejak apa pun yang bisa diingat oleh orang. Dia ingin orang-orang melupakannya.


Saat dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB. Dirga dengan mengenakan setelah serba tertutup memandangi rumah yang saat ini sudah menjadi milik Acha.


"Aku ikhlas melepas mu, Cha. Semoga kamu bahagia meski bukan aku yang memberi mu kebahagiaan. Aku berharap kita tidak akan pernah bertemu lagi, karena aku takut jika kamu tidak akan bahagia. Selamat tinggal Acha."


Setelah hampir satu jam Dirga berdiri di sana, dia memutuskan untuk pergi sebelum kakinya terikat oleh kenangan yang memberatkan langkahnya.

__ADS_1


Baru saja dia mengayunkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba saja hujan turun rintik-rintik membasahi pakaiannya sekaligus menemani kepergiannya yang tidak diketahui oleh siapa pun.


🍁


🍁


🍁


Beberapa bulan kemudian....


Kehamilan Acha sudah memasukinya bulannya untuk melahirkan, hanya tinggal menunggu harinya saja. Rencananya dia akan melahirkan dengan normal kalau tidak ada masalah dengan kesehatan dirinya dan bayinya.


"Baik lah, ayo kita pulang. Mungkin Papa juga sudah sampai di rumah."


"Oh iya ya. Tapi kalau jalanan macet pasti belum sampai, Cha."

__ADS_1


Marvel dan Acha menutup laptop yang dilanjutkan dengan merapikan berkas yang berantakan di atas meja kerja.


Acha dan Marvel menaiki mobil yang sama, tentunya Marvel yang berada di balik kemudi.


Jalanan ibu kota sore ini cukup lancar tidak ada hambatan apa pun. Acha melihat sisi kanan dan kiri dari jendela mobil. Begitu banyak pedangan kaki lima yang sudah menjajakan dagangannya.


"Kamu mau berhenti untuk membeli makanan?." Marvel memelankan laju kendaraannya. Karena Acha yang terus saja menengok kanan dan kiri jalanan.


"Sebenarnya mau, tapi aku bingung mau beli jajanan apa?." Acha mengelus perutnya yang sangat besar dan sudah ke bawah.


"Baik lah kalau kamu tidak tahu apa yang harus di beli. Kita akan parkir di ujung jalan sana. Lalu kita akan memilih beberapa makanan yang kamu suka. Bagaimana?." Tanya Marvel memberikan ide terbaiknya untuk menyenangkan wanita yang sangat dicintainya.


"Lalu Papa?." Acha masih memikirkan Papa Mirwan.


"Kamu telepon saja dulu, tanya Papa sudah sampai mana, kalau masih jauh kita berhenti tapi kalau sudah mau sampai mungkin lain kali saja kita ke sini lagi."

__ADS_1


Acha segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, lalu menghubungi no Papa Mirwan. Untungnya Papa Mirwan baru saja turun dari pesawat, hingga masih membutuhkan waktu sekitar satu atau dua jam untuk bisa sampai rumah.


Maka kesempatan ini Acha gunakan untuk turun dari mobil dan melihat jajanan yang bisa dibawanya pulang.


__ADS_2