Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Seventeen


__ADS_3

Hay... Aku Aryan Devaka, usia ku 30 tahun, aku merupakan seorang manager Bank swasta di ibu kota, aku memiliki seorang kakak perempuan yang sekarang menetap di Makasar, aku juga memiliki satu adik laki-laki.


Dan kini aku, khawatir dengan keadaan mama, wajahnya terlihat sedih dan diam sejak tadi mendengar penjelasan dari adik ku Juddan.


Aku menatap mama yang berdiri gelisah dia menunggu Frasya sadar dari obat bius pasca operasi tadi siang.


"Mas, gue mau ngomong sesuatu sama lu." Juddan terlihat serius, dan aku juga tidak bisa menerka apa yang akan dia tanyakan.


"Ada apa?"


"Kita keluar sebentar." Aku mengikuti langkahnya dan tibalah kami di sebuah kedai kopi di kantin rumah sakit.


"Mengenai perempuan yang dibicarakan mama tadi siang."

__ADS_1


"Masa lalu Lo?" Tanya ku santai memojokan Juddan saat ini.


"Dia bukan hanya sekedar masa lalu buat gue, dia cinta pertama gue, dan yang pertama gue ikhlasin buat sahabat terbaik gue." Tutur kata Juddan mulai berapi dan menyulut emosinya.


"Terus?"


"Lo gak bisa dapetin Hanggi semudah itu..."


"Tunggu, Hanggi? Siapa Hanggi yang Lo maksud?"


"Iya Hanggi, Lo kenal Hanggi?"


"Berapa banyak nama Hanggi di dunia ini?" Jawab ku.

__ADS_1


"Pastikan Hanggi yang Lo maksud bukan Hanggi Agatha Rusdi." Ucapan Juddan membuat ku kalang kabut, bagaimana bisa kami mengenal wanita yang sama dan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya kepada wanita yang sama.


"Jelaskan tentangnya." Putus ku, aku semakin penasaran dengan wanita ini.


"Radika adalah cinta pertama Hanggi, mereka saling dekat dan jatuh cinta pada masa itu, cinta pertama yang orang bilang cinta monyet, tapi mereka membuat gue harus menelan rasa pahit itu setiap kali main basket dan batminton bareng, gue selalu bareng mereka, kita selalu bertiga kemana pun kita pergi, sampai suatu ketika gue tau Hanggi sakit dan Radika udah jauh dari jangkauannya."


"Mereka pisah karena apa?"


"Radika sakit dan gak mau Hanggi tau tentang itu, kangker darah yang selama itu menggerogoti tubuhnya, membuatnya harus meninggalkan Hanggi tanpa penjelasan, sampai Radika pergi untuk selamanya dan gue yang nyerahin semua surat buat Hanggi selama kepergiannya dua tahun terakhir."


"Mas, susah untuk menaklukkan Hanggi, Hanggi begitu mencintai Radika dengan hatinya, bahkan sampai gue menyatakan semua perasaan gue ke dia, dia cuma bilang, gue gak boleh ngehianatin sahabat gue sendiri, padahal gue yang selama ini mengalah untuk Radika."


"Tapi Lo tetep milih jalan Lo untuk menghamili Marsha, ingat satu hal, gue akan terus maju naklukin Hanggi apapun jawabnya nanti, dan buat Lo, Lo harus bisa jadi seorang ayah yang baik buat Frasya, meski Lo adalah suami yang buruk." ucap ku datar, tidak mudah menerima kenyataan yang ada, bagaimana bisa aku dan adik ku mencintai perempuan yang sama.

__ADS_1


Aku kembali ingat tentang senyum Hanggi yang memang menawan, sejak terakhir aku bertemu dengannya tanpa sengaja di bank saat akan menandatangani dokumen.


Senyuman itu begitu tulus, matanya tidak memancarkan apa yang sedang ia alami, Hanggi... Jika Allah mengizinkan aku untuk mendampingi mu, maka selamanya aku akan selalu menjaga mu, tidak perduli dengan apa yang orang lain katakan, yang pasti aku akan selalu di samping mu.


__ADS_2