
Hanggi berjalan membawa troli berisikan keperluan bulanan rumah Aryan yang sudah di pack menggunakan kardus. Risda tersenyum menyaksikan kekompakan tiga orang yang jalan beriringan.
"cocok, akan serasi ku rasa bila mana mereka menjadi sebuah keluarga, mungkin akan ku tanyakan niatan baik ku pada Hanggi nanti. " Harap ibu tiga orang anak itu.
"Tante, mau langsung pulang atau bagaimana? kalau mau jalan-jalan dulu biar Hanggi yang taruh barang barang ini." ucap Hanggi di depan halaman super market di mall tersebut.
"loh, kok jadi kamu yang taruh sih, biar Aryan saja, Tante mau belikan baju untuk Frasya kamu ikut Tante ya, oh iya pakaian dalam Aryan juga rata-rata sudah tidak layak pakai, sekalian kita beli itu nanti, kamu temenin Tante ya nggi."
Hanggi tak punya pilihan lain selain mengangguk dan menatap Aryan dengan mata lelahnya.
Berharap respon Aryan, menolak untuk membeli pakaian dalam, kini malah sebaliknya.
"oh iya mah... bener juga sih, kemaren lupa mau beli Daleman, di koper juga udah gak ada stok, mumpung masih disini sih, oke deh mah aku taro barangnya di mobil dulu, abis itu aku nyusul kalian." Kemudian Aryan pergi membawa troli menuju mobil sang mama yang digunakannya hari ini.
Dalam hati Hanggi merutuki nasipnya.
"Kenapa sih, aku harus terjebak dalam situasi kayak gini, aku gak mau terlalu dekat dengan Aryan, tapi Tante Risda seakan mendekatkan kami berdua."
Mereka bertiga, Hanggi, Frasya dan Risda kini berada di toko baju khusus anak, Hanggi menggandeng Frasya, yang tidak bisa diam terus berjalan kemana saja.
"Nggi, bagus gak untuk Frasya." tutur Risda memperlihatkan sebuah baju anak yang modelnya sedikit ribet.
"em... Tan, Frasya kan hobinya bergerak terus, kalau model bajunya kayak gitu, Hanggi gak yakin dia akan nyaman, kenapa gak pilih dress yang itu aja Tan, lebih simpel bahannya juga kayaknya gak gerah deh."
"em... mbak, boleh tolong ambilkan yang ini ukurannya untuk dia." Risda berbicara sambil menunjukan sebuah baju yang tadi menjadi saran Hanggi.
"Ditunggu sebentar ibu, untuk warnanya kita ada 3, tosca putih, soft pink, sama baby blue." Ucap sang pelayan.
"em... kalau yang baby blue boleh liat?" ucap Hanggi spontan."
"baik di tunggu sebentar."
Pada akhirnya Risda membeli 4 buah baju, dua baju tidur dan dua baju sehari-hari, Frasya nampak senang dan mengucapkan terimakasih pada Risda, seperti apa yang diajarkan Hanggi, saat Hanggi dan Risda asyik berbincang, Aryan muncul.
"Sudah?" ucapnya.
__ADS_1
"Sudah dong mas, sekarang kita cari pakaian dalam buat kamu."
Mereka pun berjalan menuju tempat khusus yang menjual pakaian dalam.
"ukuran mu berapa mas?"
"L ma..." jawab Aryan datar, Aryan menggendong Frasya yang tidak bisa diam, Frasya meminta untuk Hanggi yang menggendongnya, tapi Aryan melarang karena Aryan takut Hanggi kelelahan dan akan berakibat buruk untuk Hanggi.
"Frasya... sama om, jangan sama Tante Mulu, kasian nanti Tante lelah." ucap Aryan.
"gak papa kak, sini." ucap Hanggi
"enggak! kamu sama mama saja sana, pilihkan warnanya untuk ku, karena mama suka ngaco kalau milih warna."
"enggak ah... itu pakaian dalam, memalukan seorang wanita memilihkan pakaian dalam untuk laki-laki yang tidak berstatus suami untuknya."
"emhhh Berarti nanti kalau udah jadi suami mau pilihkan buat aku?" tanya Aryan yang hanya di balas tatapan tak suka Hanggi.
Setelah mendapatkan apa yang dicari mereka kembali kedalam mobil yang berada di basement mall, dengan Frasya yang masih betah dalam dekapan Hanggi.
Sesampainya di rumah tersebut Aryan segera membaringkan Frasya yang tertidur lelap di pangkuan Hanggi.
"Nggi, kamu duduk saja dulu di sofa tunggu Aryan selesai mandi, nanti baru pulangnya diantar Aryan, ini sudah jam 9 malam, Tante takut ada apa-apa nanti di jalan."
"tapi Tante, Aku udah biasa pulang sendiri walau larut malam, jadi kalau dari sini ke rumah naik kendaraan online atau umum gak akan jadi masalah."
Kemudian Aryan keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih, serta membawa jaket.
"Nggi ayo aku antar pulang, nih pakai jaket aku dulu, ini belum pernah dipakai, baru aku keluarin dari plastiknya, kemaren beli buat aku tapi gak ada ukurannya."
"Terus kenapa di beli?" tanya Risda pada anak nomer duanya itu.
"model sama warnanya bagus soalnya, sayang kalau gak beli, limited edition ma." Aryan memperlihatkan giginya saat sang mama meliriknya dengan sinis.
"ayo nggi, tapi naik motor ya?? soalnya abis ini aku mau ketemuan sama temen aku."
__ADS_1
Hanggi hanya mampu mengangguk, setelah memaksa Risda untuk dirinya memakai jasa angkutan umum atau online, dari pada Risda marah dan Hanggi menjadi tidak enak hati.
Dalam perjalanan menuju rumah Hanggi, Hanggi hanya diam, sampai Aryan geram, mereka berhenti di sebuah resto kecil di pinggir jalan.
"ayo masuk dulu." ajak Aryan.
"kak Aryan lapar?"
"enggak aku mau ngomong sama kamu." jawabnya singkat.
Mereka pun duduk saling diam dan saling tatap, setelah memesan minuman dan makanan ringan.
"Kak Aryan mau bicara apa?" tanya Hanggi yang ia tau tak punya banyak waktu lagi.
"Boleh aku jatuh cinta sama kamu?" tanya Aryan spontan.
"Maksudnya?"
"Kamu bisa menawarkan pertemanan tapi sepertinya aku mau kita lebih dari seorang teman, aku mau ajak kamu serius, umur ku gak lagi muda, dan aku bukan remaja yang mau berstatus pacar, aku mau mengenal orang tua mu, aku mau berbagi perasaan pada mu, dan aku mau bertanggung jawab atas dirimu."
"Kak? are you okay?" jawab Hanggi bingung.
"Apa aku sebercanda itu Nggi?" wajah Aryan berubah menjadi serius.
"Maaf." Hanggi menunduk badannya menjadi lemas, dia kesal dengan dirinya sendiri, harusnya ia mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
"Andai kamu tau kak, siapa aku, mungkin kamu akan berfikir ribuan kali untuk berkata seperti itu." rutuk Hanggi dalam hatinya.
"Kenapa maaf? kamu salah? emhhh... Nggi aku tau semuanya, kalau kamu memang takut karena penyakit itu, seharusnya gak gini, kamu itu hebat, kamu itu di uji Allah karena kamu mampu, kalau kamu takut karena itu, aku siap menemani kamu berproses, aku akan tungguin kamu sampai siap, tapi beri aku kepastian."
"kak Aryan, aku gak bisa, aku... aku ... aku gak bisa, kalau kakak mau antar Hanggi pulang, kita lanjutkan perjalanan tapi kalau tetap mau disini, biar Hanggi pesan taksi online."
Hanggi berdiri dari kursinya, Aryan menangkap tangan Hanggi..
"oke aku antar kamu, pleas tenang ya...."
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan kembali hening.