Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Bab 44 Sebuah Pilihan


__ADS_3

Hari-hari Acha sungguh terasa berat untuk dijalani meski sudah ada Dirga bersamanya. Karena sekarang kondisinya Papa Mirwan yang belum mau ditemui oleh dirinya, padahal sudah satu Minggu ini Papa Mirwan berada di rumah sakit.


Sore ini, Papa dan Mama Dirga rencananya akan menjenguk Papa Mirwan setelah mendapatkan izin langsung dari Papa Mirwan.


Selama Papa Mirwan di rumah sakit, memang tidak ada yang menemaninya di dalam ruangan. Hanya sesekali saja akan ada perawat yang membantunya jika dia memiliki kebutuhan yang lain.


"Kami turut prihatin atas apa yang terjadi. Tapi sepertinya sekarang kau sudah lebih baik dan lebih tenang." Ucap Papa Dirga membuka obrolan saat sudah berada di ruangan Papa Mirwan.


"Iya, seperti yang kau lihat. Aku sudah jauh lebih baik." Balas Papa Mirwan dengan senyum tipis yang nyaris tidak terllihat.


Hening untuk beberapa saat, karena Papa Dirga sedang berpikir apa sebaiknya dia menunda untuk membicarakan masalah Acah dan Dirga serta Devan. Tapi rupanya Papa Mirwan sendiri yang membuka obrolan mengenai Devan.


"Mungkin sekarang kau sudah tahu tentang Devan?."

__ADS_1


Papa Dirga mengangguk sambil menegakkn tubuhnya. "Iya kau benar, kami baru mengetahuinya beberapa hari lalu."


"Aku akan memberikan Devan pada kalian. Karena aku akan menikahkan Acha dan Marvel." Ucap Papa Mirwan lirih


"Kenapa kau begitu kejam dengan memisahkan Acha, Dirga dan Devan?." Sahut Mama begitu emosi, Mama Dirga mendekati brankar Papa Mirwan lalu dia berlutut.


"Ma..." Panggil Papa Dirga mendekatinya namun dia juga ikut berlutut di sebelah Mama Dirga.


Papa Mirwan masih menatap acuh pada kedua orang tua Dirga. Dia tidak ingin menyerahkan putrinya pada keluarganya yang tidak menginginkannya. Dia tidak ingin melihat Acha menderita atau pun mendapatkan penolakan lagi.


"Dulu, aku juga bersekiras sama seperti kau. Tapi apa yang terjadi, Dirga dan Raisa pisah karena Dirga hanya mencintai Acha, bahkan sekarang sudah ada Devan diantara Acha dan Dirga." Sambung Papa Dirga.


"Kami rela melakukan apa pun demi kebahagiaan Acha, Devan dan Dirga. Kau boleh meminta apa pun pada kami, termasuk nyawa kami berdua." Ucap Mama Dirga lagi sambil bersandar pada lengan Papa Dirga karena dia sudah tidak bisa berlama-lama dalam posisi berlutut seperti itu.

__ADS_1


Papa Dirga membantu Mama Dirga untuk berdiri, tapi dia tidak mau, dia tetap mencoba mengetuk pintu hati Papa Mirwan dengan caranya.


"Lutut mu pasti sangat sakit!." Papa Dirga mencoba memberikan pengertian pada Mama. Tapi Mama Dirga mengabagaikannya.


"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit anak-anak kita dan cucu kita, Pa. Kalau mereka saja bisa menahan rasa sakit ini, lalu kenapa Mama tidak bisa, Pa?." Isak tangis Mama Dirga pecah seketika.


Sementara itu di kamar hotel, Acha baru saja meletakkan Devan di atas tempat tidur. Kini dan Dirga bersiap untuk ke rumah sakit. Menitipkan Devan pada Marvel dan Anna.


Acha dan Dirga segera keluar dari kamar setelah mengecup pipi Devan bersamaan. Dengan perasaan yang sama mereka berjalan menuju rumah sakit.


Apa Papa Mirwan mau menerima kedatangan mereka berdua?.


Sesampainya di sana, Acha dan Dirga disuguhi pemandangan dimana Mama Dirga diangkat dari ruangan Papa Mirwan dalam keadaan tidak sadarkan diri oleh beberapa petugas medis.

__ADS_1


__ADS_2