
Hari ini Hanggi menjemput Santi untuk menghadiri resepsi pernikahan Raka.
Dengan senyuman yang tidak pernah luntur Hanggi terlihat sangat menawan.
" Nggi, udah siap ketemu sama tuh orang?"
"Apaan sih San, aku udah maafin dia, lagi pula dia gak salah sepenuhnya, itu pilihan dia." Hanggi tersenyum menatap Santi.
"Terlalu baik hati mu Nggi." Ucap Santi.
Kemudian mereka masuk mengisi buku tamu dan meletakan kado di meja penerima tamu tadi.
Hanggi bersalaman dengan kedua orang tua Raka yang sudah mengenalnya, kedua orang tua Raka terlihat menelisik menatap Hanggi.
Kemudian saat Hanggi menyalami Raka dan istrinya.
"Selamat ya untuk kalian berdua, semoga menjadi keluarga yang bahagia dunia akhirat." Ucap Hanggi tulus seraya mengulas senyum.
"Makasih Nggi." Ucap Raka.
Kemudian mereka berdua turun dari pelaminan.
"Nggi, mau makan atau langsung pergi." Bisik Santi.
"Aku lagi gak pengen makan San, kita pulang aja ya??"
"Yaudah." Jawab Santi enteng.
Bukannya malah pulang di tengah perjalanan Santi menginginkan sesuatu, maklum kini Santi tengah hamil muda.
"Emang mau makan apa sih San?" Tanya Hanggi yang risih dengan celoteh Santi.
"Ada cafe di seberang jalan sana, aku mau makan disana." Ujar Santi.
"Oke... Apapun untuk keponakan tersayang, Tante Hanggi akan selalu siaga."
"Dasar Hanggi." Celetuk Santi.
Sampailah keduanya di depan cafe bergaya clasik itu, Hanggi yang menjadi supir dadakan Santi, memarkirkan mobil Santi di depan cafe itu.
"Selamat sore, untuk berapa orang kakak?" Sapa seorang waiters yang berada di depan pintu.
__ADS_1
"Untuk dua orang, saya minta yang sofa bisa?" Ucap Santi pada sang pelayan tadi.
"Silahkan ikuti saya." Ucap sang pelayan dengan nada sopan dan energik.
Mereka duduk saling berhadapan kemudian Santi memesan beberapa makanan di luar kendali.
"Kamu yakin makan makanan manis sebanyak itu San?"
"Yakin, cuma milkshake, donat, red valved sama pasta aja kok? Kamu gak pesan?" Tanya Santi balik.
"Pesan kok, jus Sunkist no sugar, sama mushroom sup." Ucap Hanggi sambil menulis pesan kepada seseorang.
Mereka sudah memesan makanan, namun kesibukan Hanggi mengetik pada ponselnya membuat Santi badmood.
"Dari siapa lagi sih Nggi, ini tuh hari libur! Waktunya istirahat dari pekerjaan." Ucap Santi lantang.
"San, ini Raka." Jawab Hanggi singkat namun menusuk Santi.
"What!!!" Santi berteriak sampai pengunjung lain ikut melihatnya.
"Lo masih ngeladenin dia sampai detik ini? Lo gak inget 4 tahun lalu itu orang bikin Lo insecure sampe detik ini!" Santi marah pada pada Hanggi, bagaimana tidak Santi menjadi saksi hidup saat Raka mencampakan sahabatnya begitu saja, saat mengetahui kekurangan sahabatnya ini.
Kemudian makanan mereka datang, Santi segera menyesap milkshake nya, dan memakan donatnya.
"Tadi kamu ngomong apa Nggi? Apa bagusnya mengingat masa lalu? Buktinya sampai saat ini, kamu belum bisa ngelupain Radika! Emmm?" Tanya Santi ketus pada sahabatnya itu, Santi memang seperti itu, berbanding terbalik dengan Hanggi.
"Enggg... Masalah Radika, dia bukan masa lalu San, dia selalu ada dalam setiap langkah aku." Ucap Hanggi pelan namun agak sedikit lirih.
"Kalau menurut kamu masa lalu gak penting seharusnya sekarang kamu udah berumah tangga Nggi! Kamu gak akan beralasan sama seperti apa yang di ucapkan Raka!"
Hanggi terlihat diam sejak Santi mengusik masalah dirinya.
"San, Allah gak tidur loh, aku hanya menunggu Allah memberikan apa yang aku butuh pada waktunya."
"Gini ya Nggi, sebenarnya aku males banget bahas masalah ini sama kamu, aku takut buat kamu sedih, tapi aku harus ngomong, mau berapa lama? berapa banyak lagi, cowok cowok yang datang ke rumah hanya untuk nanya kepastian kamu Nggi?"
"Sudahlah San, aku bener bener gak kepikiran saat ini." Ucap Hanggi yang sebenarnya lelah dengan semua ini.
"Nggi, kenapa sih kamu itu selalu berpikir kalau kamu itu gak pantas buat mereka? Kenapa? Nggi aku baru bisa tenang saat kamu menikah." Kemudian Hanggi meneteskan air mata, dan Santi segera memeluknya.
"Nggi, aku sayang banget sama kamu, buktikan ke mereka yang selalu merendahkan kamu karena penyakit kamu, buktikan ke mereka kalau kamu bisa punya anak yang sehat, bisa punya suami yang baik dan melengkapi kamu!"
__ADS_1
"Aku gak tau san!" Hanya itu yang keluar dari mulut Hanggi.
Satu jam lebih mereka berdua menghabiskan waktu di cafe itu, dan Hanggi membayar semua yang mereka makan.
Hanggi yang terburu-buru karena memang hari sudah semakin gelap, akhirnya di tabrak oleh seorang pelayan yang membawa secangkir kopi panas dan membasahi baju putih yang dikenakan Hanggi.
"Maaf Mbak saya gak sengaja, aduh bajunya." Ucap pelayan wanita itu.
"Tidak papa kok mbak, saya juga salah tidak melihat dan berjalan dengan benar."
Kemudian tanpa banyak bicara Hanggi pergi meninggalkan cafe itu.
Hanggi memulangkan Santi dan pulang dengan menggunakan motornya yang di tinggal di rumah Santi tadi.
Sesampainya di rumah, Hanggi segera solat isya dan mengganti pakaiannya, dia mencuci kemeja putih miliknya itu.
"Nggi, ibu indah sudah transfer ke ATM kamu, nanti tolong ambilkan uang ya..."
Hanggi yang sedang mencuci piringnya, segera ke kamar untuk mengambil ATM nya.
"Loh... Kok ATM ku gak ada, pasti ketinggalan di cafe tadi nih..." Ucapnya pasrah.
Namun seketika ada telpon masuk ke ponselnya.
"Nomer kantor? Siapa?" Tanya Hanggi dalam hati.
"Selamat malam..." Ucap suara pria dari seberang sana.
"Malam, dengan siapa?"
"Saya Aryan Devaka, Kami dari Maroon cafe, sebelumnya apa benar ini dengan mbak Hanggi Agatha Rusdi?"
"Ya benar." Jawab Hanggi singkat
"Kami ingin memberi tahu anda, bahwa kartu debit anda tertinggal, di cafe kami pada saat pembayaran, debit card ya mau diambil atau sudah di blokir?" Tanya pria itu menegaskan.
"Oh iya, tolong di simpan saja ya mas, mungkin awal cafe buka saya akan mengambilnya mas."
"Cafe buka jam 10 pagi, tapi staf saya sudah ada dari jam 8 pagi, saya juga sudah datang." Ucap pria itu.
"Ok baiklah, saya akan datang jam 8 pagi sebelum pergi bekerja." Ucap Hanggi, kemudian menutup sambungan dengan mengucap salam.
__ADS_1