
Dengan langkah ragu dan keinginan pasti akhirnya Hanggi membuat satu keputusan yang membuatnya harus memulai hidup dari awal.
"Hanggi, saya sudah semuanya dari Chef Darwin, tentang cuti dadakan kamu beberapa Minggu lalu." Seorang pria dengan jas dan dasi terlihat dewasa dan penuh dengan ketegasan.
"Mohon maaf sebelumnya pak, bukannya saya tidak mau terbuka selama ini, ini adalah privasi untuk saya, selama saya bisa mengatasi diri saya sendiri saya tidak akan mengatakan kepada siapapun."
"Jadi Hanggi, ini keputusan mu?"
"Iya pak, saya mohon maaf, ini pilihan saya, lebih baik saya bekerja dari rumah saja."
"Saya berharap selepasnya kamu dari sini, kamu bisa menemukan apa yang kamu cari Hanggi, kami terbuka untuk mu, dan kami sangat menyayangkan ini."
"Terimakasih pak, jika tidak ada lagi yang di permasalahkan saya undur diri."
Lalu Hanggi bersalaman dengan kepala rumah sakit itu.
Hanggi mengembalikan topi dan apron miliknya, dia juga mengambil semua barang miliknya yang masih tersisa di dalam lokernya.
"Hanggi, kenapa?" Tanya Ferry teman seperjuangan yang lebih senior beberapa bulan dari Hanggi..
"Ini pilihan aku, mungkin lebih baik begini." Jawab Hanggi lirih menahan air mata, bagaimana pun tempat ini adalah tempat yang selalu memberinya motivasi.
"Kalau lu butuh curhat, butuh tenaga buat mukulin orang bilang gua ya Nggi." Ejek Ferry dengan muka seriusnya.
"FERRY!! ini lagi melow malah bercanda! semangat buat semuanya sukses!" Ucap Hanggi dengan wajah sendu dan air matanya hampir tumpah.
"Lu juga Nggi, semangat! Gue salut sama lu, thanks udah selalu bantuin gue." Ucap bang Bima.
Kemudian seorang pria yang sangat di kenal Hanggi datang menemui Hanggi.
"Nggi, jadi ini yang membuat kamu ngediemin aku?"
"Mas Danu?" Hanggi kaget bukan main saat Danu seorang yang selama ini dekat dengannya dan selalu saja baik tanpa ada alasan lain, datang menemui dirinya di parkiran saat Hanggi akan meninggalkan tempat ini.
"Kenapa kamu ga pernah cerita sama aku?"
"Mas... Hanggi cuma ga mau dipandang lemah."
"Saya gak pernah Mandang kamu lemah Nggi, sejak awal kita dekat saya fikir karena kamu memang tidak menyadari semuanya, tapi lewat bang Bima dan Ferry saya tau, kamu memang menghindar, kenapa Nggi?"
"Mas, saya juga berharap tidak demikian, saya berharap bisa membalas perasaan kamu, tapi disini saya yang memilih, saya memilih untuk diam supaya memperkecil resiko kamu tersakiti! Kamu gak mengerti berapa banyak yang menolak dan memandang saya lemah, saya lakukan ini karena saya gak mau kamu atau orang lain yang memiliki perasaan seperti kamu semakin tersakiti oleh penerimaan dan kepekaan saya."
Hanggi melangkahkan kakinya, dia tidak tau harus berbuat apalagi, karena memang Hanggi tau betul bagaimana perasan Danu saat ini, sama seperti Raka, tapi bedanya Danu lebih mengerti dan tidak menjatuhkan Hanggi.
Dua hari sudah dari insiden Hanggi mengundurkan diri dari hotel itu.
Sekarang Hanggi berada di bank untuk mencairkan sejumlah tabungan yang bisa ia pakai untuk membuat catering barunya.
__ADS_1
"Dengan nona Hanggi? Semua datanya sudah lengkap, tinggal tunggu proses pencairan mungkin nanti sore juga sudah bisa di terima."
Ucap pegawai bank yang berhadapan dengan Hanggi.
Seorang pria turun dari mobilnya dan tiba tiba menabrak Hanggi hingga Hanggi terhuyung jatuh.
"Ma.. maaf mbak..."
"Iya gak papa." Ucap Hanggi tenang.
"Loh??? Mbak Hanggi?" Ucap pria itu dengan datar.
"Siapa ya?" Hanggi coba mengingat.
"Lupa ya? Saya Aryan yang beberapa bulan lalu mengembalikan debit Card mbak yang ketinggalan di cafe saya.
Hanggi menautkan alisnya, kemudian tersenyum.
"Saya ingat, oh ya... Mas Aryan ada perlu ke bank?"
"Iya, saya ada urusan sebentar, mbak Hanggi ada waktu luang?" Tawar Aryan dengan sopan.
"Sebenarnya sedikit luang." Hanggi menjawab dengan grogi.
"Kalau boleh, bisa tunggu saya sebentar, kita bisa ke warung makan sebrang sebagai permintaan maaf karena sudah menabrak mbak tadi." Ucap Aryan dengan wajah datar padahal mengambil kesempatan.
Kemudian Aryan masuk kedalam bank itu dan meminta sesuatu untuk di tandatangani kemudian kembali kehadapan Hanggi.
"Sudah, yuk... Motornya tinggal disini saja." Ucap Aryan akhirnya mereka menyebrangi jalan raya dan duduk di warung itu.
Aryan memanggil pelayan warung dan memesan makanan.
"Saya mau es jeruk sama roti bakar, kamu mau apa?" Tanya Aryan menatap Hanggi.
"Saya air mineral saja sama salad buahnya ada?" Tanya Hanggi pada pelayan.
"Salad buahnya mau berapa?"
"Satu saja mbak." Ucap Hanggi.
Pelayanan itu pergi Aryan menatap Hanggi yang sibuk mengetik di ponselnya.
"Mbak Hanggi kerja dimana?" Tanya Aryan memecah keheningan.
"Tadinya di Desavero hotel mas, terus karena ada sesuatu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri."
Jelas Hanggi yang nampak canggung karena duduk berhadapan dengan Aryan.
__ADS_1
"Terus sekarang kegiatannya apa?" Sambung Aryan lagi.
"Rencananya saya mau buka usaha catering makanan diet dari remaja hingga dewasa, makanan bayi juga." Ucap Hanggi.
"Oh... Sudah punya infestor?" Tanya Aryan, sepertinya dia mulai punya celah untuk mendekati Hanggi.
"Infestor? Untuk saat ini modal sendiri saja dulu mas, lantas mas Aryan sendiri? Kesibukannya apa saat ini?" Tanya Hanggi.
"Saya bekerja di cafe yang waktu itu, selain itu saya juga manager Bank."
Hanggi kaget, bagaimana tidak Aryan seorang manager Bank dengan suka hati makan di warung sederhana pinggir jalan seperti sekarang?
"Sudah manager ya mas, Hanggi boleh tanya?"
"Silahkan." Kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka.
Aryan menyeruput es jeruknya dan memasukan roti bakar kedalam mulutnya, sementara Hanggi membuka botol air mineral dan meneguknya.
"Setau Hanggi kerja di bank itu sama saja makan uang riba, tapi ya itu hanya pendapat Hanggi saja, Hanggi cuma mau tanya apakah mas sependapat dengan Hanggi?" Tanya Hanggi takut, takut kalau Aryan tersinggung.
Aryan tersenyum dan tambah melirik Hanggi.
"Hehem... Saya akan jawab, saya sependapat dengan kamu, kenapa? Karena sebenarnya saya juga terpaksa kerja disana, terpaksa karena tanggungan saya banyak, dan kamu tau salery yang di tawarkan sebagai manager Bank sangat fantastis."
"Lalu? Apakah mas merasa puas dengan gaji yang di tawarkan?"
"Tidak, saya tidak senang, mangkanya mungkin dalam kurun waktu seminggu ini saya tidak akan bekerja lagi di sana, saya akan fokus pada cafe saya."
Hanggi tersenyum.
"Syukurlah, jika ada yang lebih baik." Ucap Hanggi.
"Hanggi? Boleh saya panggil kamu nama saja? Saya berharap kita bisa berteman." Ucap Aryan.
"Tentu, semua orang berteman." Ucap Hanggi.
Aryan membaca pesan yang ada di ponselnya, pesan itu dari pelayan kacafe miliknya.
"Hanggi, mohon maaf saya harus pergi, ada urusan mendadak, lain kali apakah bisa bertemu dan berbincang lagi?"
"Tentu mas Aryan." Ucap Hanggi.
"Oh ya.. ini kartu nama saya, boleh minta kartu nama kamu?" Pinta Aryan.
Akhirnya mereka bertukar kartu nama, dan Aryan meninggalkan Hanggi.
"Cukup menarik." Ucap Aryan sambil masuk kedalam mobilnya dan tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Sementara itu Hanggi, tidak berpikir apapun dia segera menyebrang dan mengendari motornya untuk pulang ke rumah.