
Mulai hari ini Aryan Devaka resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya, dia bukan lagi seorang manager Bank ternama.
"Pak Aryan saya harap di kemudian hari anda bisa kembali memimpin cabang kami, selain kejujuran dan keloyalitasan anda, kami juga menghargai setiap tindakan yang bapak ambil." Ucap pria bernama Darius itu.
"Saya bekerja dengan otak yang memang merupakan tanggung jawab saya pak, saya sudah menerima buah dari apa yang saya lakukan itu, kini saatnya saya menyudahi semua ini, terimakasih atas kepercayaan anda." Ucap Aryan dengan suara jantannya yang menggebu.
"Kalau begitu saya undur diri, kelengkapan dokumen yang kemarin anda minta sudah saya selesaikan, ini." Ucap Aryan sambil menyerahkan map berwarna biru.
"Terimakasih pak Aryan."
"Sama sama, saya harus membereskan barang saya yang berada di ruangan, saya pamit, sekali lagi terimakasih atas kepercayaan anda selama ini."
Pak Darius tersenyum dan Aryan melangkahkan kakinya dengan mantap.
Dilantai dua Aryan bertemu dengan OB yang biasanya menemani dia makan di warung soto depan masjid, biasanya sekalian solat Zuhur.
"Mas Aryan mau kemana?" Tanya OB bernama Wito.
"Hehe..." Aryan tersenyum memperlihatkan gigi putihnya itu.
"Di tanya malah nyengir gak jelas!" Kesal pak Wito yang memang sudah sering melontarkan perkataan begitu.
"Mulai hari ini Aryan gak bikin dosa lagi pak?"
"Maksudnya?" Pak Wito nampak heran.
"Hari ini saya udah gak bekerja di sini lagi, jadi gak makan uang riba deh, kali aja abis tobat, jodoh langsung nemplok." Ucap Aryan asal, pak Wito malah menepuk pundak Aryan.
"Loh mas, terus yang nemenin saya makan siang siapa lagi?"
"Minta temenin Silvi aja, dia kan nganggur kalo siang." Suruh Aryan, ingat Silvi kan???
Itu loh salah satu bawahan Aryan yang sangat fanatik sama Aryan.
"Mana ada mbak Silvi, yang ada saya kena marah terus sama dia kalau gak ada mas Aryan."
"Mangkanya, cariin jantanannya pak, biar jinak."
"Mas Aryan nih, emang mbak Silvi hewan di cariin jantanan?" Kesal pak Wito sambil tertawa bersama Aryan.
"Oh iya, pak Wito mau minta apa sebagai kenang-kenangan?" Tanya Aryan, karena memang selama ini Aryan hanya dekat dan ngobrol seru sama pak Wito.
__ADS_1
"Gak ada mas, sering sering ketemu aja kita, seminggu sekali lah minimal, biar gak BT, kerja di atas tekanan."
Aryan tertawa lagi, sambil memasukan laptop ke tas kerjanya.
"Tekanan siapa? Emang selama ini tertekan?"
"Yah mas... Tertekan sama wanita wanita labil di lantai bawah." Tawa Aryan pecah seketika, dia mengeluarkan ponselnya, mengingat para teller perempuan di bawah yang memang kelakuannya amazing.
"Foto dulu ah buat kenangan."
"Lah mas, masa mau foto sama pak Wito, malu ah..."
"Pak, bapak tuh udah kaya model iklan rokok pak."
"Iklan rokok yang dimana nih mas?"
"Yang di bungkus."
"Wah... Mas Aryan kalo yang di tv saya mau, guanteng, lah yang di bungkus?" Pak Wito langsung pasang muka kesalnya.
Kalian tau betul apa yang di maksud pak Wito, model iklan bungkus rokok, iya... Yang biasanya korban dari kekejaman barang berasap itu.
Aryan melihat ke arah ponselnya dan hanya manggut-manggut.
"Loh?? Banyak mas?" Pak Wito heran.
"Rezeki itu di syukuri aja pak, udah ah saya mau pulang."
"Mas, makasih ya... Tapi inget tiap Minggu ketemu." Kata pak Wito sedih.
"Kaya pacaran aja kita ketemuan seminggu sekali, kalah calon jodoh kalo begitu."
Pak Wito hanya manyun mendengar ledekan Aryan.
Aryan berlalu ke lantai satu dengan terus di ikuti pak Wito.
"Teman teman, saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika saya berbuat kesalahan mau yang di sengaja apalagi yang tidak saya sengaja, mulai hari ini dan seterusnya, kepemimpinan kalian berpindah tangan kepada Bapak Darius, saya sudah tidak lagi bekerja atau berhubungan dengan PT atau perusahaan ini lagi."
"Lah...pak Aryan mau kemana?" Tanya Silvi yang benar-benar kaget.
"Saya mengundurkan diri Silvi." Ucap Aryan teduh.
__ADS_1
"Yah... Kok pak Aryan gak bilang sama Silvi?" Tanya Silvi yang membuat pak Wito geram, kedua mahluk ini memang selalu ribut.
"Lah, emang mbak Silvi siapanya pak Aryan?" Sukses perkataan pak Wito menjadi minyak tanah bagi emosi Silvi, seluruh karyawan yang ada di lantai satu tertawa dan membuat Silvi pergi menahan malu.
"Saya pamit ya semuanya." Ucap Aryan tersenyum manis.
"Aduh... Pegangin gue... Pak Aryan senyumnya... Ya Allah... Malaikat maut."
"Aduh pak Aryan seret saya pak... Ke pelaminan."
"Calon laki gue..."
Suara riuh para pegawai perempuan itu bergema dengan volume kecil yang mengundang tawa Aryan saat menuju kedalam mobilnya.
"Semoga ini awal yang baik ya Allah." Ucap Aryan dengan senyum mengembang.
Mobil Aryan baru saja memasuki pekarangan rumahnya dan itu bertepatan dengan sepeda motor matik yang di kendarai oleh seorang perempuan tanpa kerudung.
"Permisi." Aryan yang keluar dari mobil segera datang menghampiri.
"Iya, cari siapa mbak?" Tanya Aryan sopan.
"Ini mas dari Semanggi Catering, mengantarkan pesanan atas nama ibu Risda."
Aryan menggaruk kepalanya, pasalnya dia memesan dengan namanya tempo lalu. "Namanya sudah di ganti ya? Tadinya mama Aryan, sekarang jadi ibu Risda, dasar Hanggi." Ucapnya dalam hati.
"Mas..." Ucap perempuan itu memecah konsentrasi Aryan.
"Oh iya, mbak biasanya yang mengantar ini Hanggi, apa gantian ya?" Tanya Aryan mencari tau.
"Hari ini Hanggi istirahat dulu mas, jadi saya yang antarkan, kenapa mas?"
"Enggak."
"Ini mas, tanda tangan dulu." Ucap perempuan itu sambil menyerahkan tanda terima.
"Nama mbaknya siapa?" Tanya Aryan.
"Nama saya Ajeng."
"Oh..." Singkat Aryan dingin.
__ADS_1
Ajeng segera pergi dari halaman rumah itu, sementara Aryan sepertinya menghela nafas kecewa.