Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Twenty-two


__ADS_3

Hanggi sedang makan siang, sambil mengecek pengeluaran hari ini.


"Indah..." Panggil Hanggi.


"Iya Nggi." Jawab Indah yang sedang mengecek ulang pesanan.


"Sini sebentar deh."


Indah segera datang menemui Hanggi.


"Napa?"


"Ada buah apa di kulkas?"


"Ada apel Washington, mau?"


"Boleh, sekalian cuci ya..." Manja Hanggi pada sahabatnya itu.


"Iya ndoro..." Ledek Indah yang di balas senyuman oleh Hanggi.


Ajeng kembali dari pekerjaan mengantar pesanan, dia mencuci tangan dan langsung duduk di depan Hanggi.


"Kenapa Jeng?" Tanya Hanggi yang melihat wajah Ajeng BT.


"Enggak, cuma tadi ketemu pelanggan, yang rumahnya di daerah Depok itu loh, orangnya sih ganteng, tapi pas gue jelasin lu lagi istirahat dulu, mukanya langsung dingin, gue ngomong juga cuma di jawab oh..."


Hanggi tertawa...


"Malah ketawa sih lu Nggi?" Ajeng geram dengan ketertawaan temannya itu.


"Nih apel buat nyonya besar." Kata Indah yang datang membawa apel kesukaan Hanggi.


"Jangan suka ngejudge orang kaya gitu, jadi jodoh repot loh." Ujar Hanggi meledek Ajeng.


"Mau gue kalo dia jadi jodoh gue,biar entar muka datar dan kesan dinginnya dia, berubah jadi bergelombang dan panas." Ucap Ajeng yang mulai melenceng.


"Husss!!! Ajeng ya Allah." Kata Indah spontan menutup mulut Ajeng.


"Tapi Ndah, tuh cowok sebenernya ganteng? Iya, keren? Pasti, pakai jas, mobil bagus aduh... Berasa Upik abu gue berdampingan sama dia." Ucap Ajeng.


"Jeng, kamu mau kenalan sama dia?" Tawar Hanggi.


"Emang lu kenal Nggi?" Tanya Ajeng.


"Jelas kenal lah Jeng, Hanggi kan yang Nerima pesanan, pasti dia tau siapa orang itu." Jelas Indah.

__ADS_1


"Tapi beneran aku kenal kok." Ucapan Hanggi malah di balas lirikan oleh Ajeng dan Indah.


"Pangeran Lo?" Tanya Indah.


"Bukan, dia kakaknya teman aku waktu di club' batminton, temen les juga waktu SMP." Ucap Hanggi santai.


"Serius?" Ucap Ajeng.


"Serius aku sih... Tapi aku baru kenal beberapa bulan ini, sejak kejadian Debit card aku ketinggalan waktu makan di cafe, sama Santi."


"Terus?" Tanya Indah yang sama penasaran.


"Terus, kita ketemuan lagi, itu juga tanpa disengaja, aku cerita kalau mau buat catering diet, akhirnya kita tukeran kartu nama, karena aku gak punya aku kasih no WA aja, eh dia ngehubungin dan pesan."


"Terus Lo gak tau kalau dia kakaknya teman lu?" Tanya Ajeng.


"Enggak, baru tau waktu nganterin catering kerumahnya dan ketemu mamanya, aku ngobrol sama mamanya, tapi gak lama, karena bakal panjang dan ngebahas masa lalu, aku males, jadi aku pulang, eh... Waktu aku di rumah sakit dia minta pesanan lagi, yaudah aku ngobrol di wa sama dia tapi, ujung-ujungnya yang aku ajak ngobrol sebelas dua belas sama Ferry dan bang Bima, cuma modus dan isinya bercandaan aja."


"Terus gak ada rasa apa apa gitu?" Tanya Ajeng.


"Yah... Jeng, mana ada rasa si Hanggi mah." Jawab Indah.


Hanggi tersenyum sambil mengunyah apelnya.


"Dasar, kalo Lo gak mau kasih gue Nggi." Ucap Ajeng.


Hanggi menatap ponselnya dan menerima pesan dari orang yang sedang mereka bicarakan.


"Panjang umur orangnya nge WhatsApp nih." Ucap Hanggi.


😺 Assalamualaikum...


Kenapa gak nganter catering hari ini? Kamu lagi libur?


Me : Hemmm... Iya, lagi males kemana mana, banyak yang harus di selesaikan.


😺 Oh gitu, mama nanyain tuh...


Me: tanya apa?


😺 Tanya, kenapa bukan kamu yang antar?


Me : Tante Risda bisa hubungi aku, tempo hari kita tukeran no WhatsApp kok.


Aryan kembali bingung harus beralasan apa.

__ADS_1


"Aduh... Bego amat sih gue."


😺 Hehe... Gak tau mungkin gak enak kalau harus minta ke kamu, tapi bener kok mama nanyain kamu, rungsing tuh dari tadi.


Me : Yaudah nanti abis ini aku telpon Tante Risda, biar gak rungsing.


Aryan kembali kecewa, dia tidak bisa membangun komunikasi yang seru dengan Hanggi.


"Yaudah, emang gak ada respon, gak papa deh telpon mama juga, toh mama juga pasti bantuin aku."


😺 Iya makasih sebelumnya.


Pesan pun berhenti di Aryan, Hanggi di tatap sinis oleh kedua orang temannya itu.


"Nggi?" Ucap mereka berdua.


"Apa?" Jawab Hanggi ketus.


"Lo nyekak orang gitu banget, gak takut karma?" Tanya Indah.


"Nggi, jangan bilang Lo takut ke semsem ya sama nih cowok." Tunjuk Ajeng, dan Hanggi hanya datar, Hanggi pun pergi meninggalkan dua orang temannya itu.


"Ndah, kayaknya dua orang ini jodoh deh..."


"Kenapa Jeng?" Jawab Indah mengambil buku yang tadi di tulis Hanggi.


"Sama, mirip."


"Apanya?" Tanya Indah lagi.


"Tingkah lakunya!"


"Kenapa?" Indah tambah bingung.


"Sama sama dingin terus bisa meledak secara bersamaan."


"Perasaan aja kali Jeng."


"Cobalah lihat entar pasti jodoh, orang mirip gitu, Lo belum pernah ketemu cowok ini sih, beda dari yang pernah di kenalkan Hanggi ke kita." Ucap Ajeng mendetail.


"Masa?"


"Jangan bawa bawa masa deh Ndah, udah ah, gue mau kebelakang tidur bentar, terus siap siap buat besok." Ucap Ajeng meninggalkan Indah sendirian di meja makan.


"Semoga ini kabar baik ya Nggi." Ucap Indah lirih sambil membawa catatan Hanggi ke halaman belakang yang merupakan markas mereka membuat pesanan.

__ADS_1


__ADS_2