
Huhhh... Hari berlalu degan cepat, sampai aku tidak sadar kalau sudah hampir satu tahun ini aku kembali pada keluarga Juddan, aku lebih dekat dengan Tante Risda sekarang, Tante Risda selalu mengajak ku untuk belanja bulanan dan masak bersama, kadang untuk anak buahnya yang bekerja di toko onlinenya, atau mengajarkan dirinya membuat menu sehat yang sesuai.
Sekarang nampaknya aku lebih sehat, obat obatan yang aku minum juga tidak terlalu banyak seperti beberapa bulan yang lalu, rasanya ini surga dunia bagi ku.
Hari ini Tante Risda kembali menjemput ku, katanya dia mau coba restoran baru di daerah Jakarta selatan, aku menyanggupi ajakannya itu, meskipun Indah dan Ajeng sudah berteriak supaya aku menolak saja, kenapa mereka begitu?
Karena menurut mereka jalan dengan Tante Risda dan selalu dekat dengannya, merupakan suatu harapan buat Aryan, entah lah, mereka seakan tau apa yang ada di hati Aryan.
"Ndah, Jeng aku berangkat ya... Nanti kalau ada yang kurang bilang sama ibu aja." Pamit ku pada mereka.
"Ok..." Teriak mereka berdua.
Saat aku melihat siapa yang diajak Tante Risda aku langsung semangat.
"Hai Nggi? Gimana kabar mu hari ini?" Tanya Tante Risda gembira.
"Baik Tante, Tante sendiri gimana?" Tanya ku kembali, Tante Risda yang mengajak cucu perempuannya itu nampak kewalahan dengan aksi si kecil yang menggemaskan. Dia Frasya anak dari sahabat ku Juddan.
"Tente... Nggi." Ucap Frasya yang menyadari kehadiran ku.
"Iya sayang, kita ketemu lagi, kamu sendiri ke kesini?" Tanya ku padanya.
"Iyah... Di jemput om Alyan." Jawabnya cadel.
"Iya sendiri Nggi, mangkanya repot, ini sampai minta antar taksi." Jelasnya.
Kemudian taksi yang kami tumpangi berjalan dengan baik, sampai Frasya yang sudah capek ngoceh dari tadi tertidur di pangkuan ku dengan nyenyak.
"Loh??? Tidur Nggi?"
"Iya tidur Tan." Ucap ku pelan.
"Yaudah bentar lagi sampai di mall nya, Tante telpon Aryan dulu deh biar dia jemput di lobby." Ucap Tante Risda.
Hah??? Ada Aryan juga, males banget kalo gini mah, sebenarnya bukan kesal atau apapun sih, aku lebih risih kalau harus ada dia, ujung ujungnya kami akan adu pendapat dan kembali ke mode kesal.
"Tuh dia." Ucap Tante Risda, dan taksi pun berhenti di lobby.
Aku yang duduk di sisi kiri sambil memangku bayi besar nan lucu yang sedang tertidur, Aryan membantu membuka pintu taksi, dan membantu ku turun sambil menggendong Frasya.
"Lah??? Frasya tidur?" Tanya Aryan yang kaget, kalau bayi besar itu tidur.
"Iya, diam."jawab ku ketus.
Berulang kali Aryan meminta Frasya yang sedang tertidur itu pada Hanggi, tapi Frasya seolah enggan lepas dari pelukannya, dia nampak nyenyak dan nyaman.
"Udah mas, gak papa." Ucap Hanggi, sambil menepuk punggung Frasya dengan lembut.
"Endak... Mau sama om Alyan!!! Puk... Puk... Puk..." Pukul Frasya pada tangan Aryan yang berusaha menggendongnya.
__ADS_1
"Syutttt... Ya iya... Frasya mau sama Tante kan?" Farsya mengangguk mengiyakan perkataan Hanggi.
"Yasudah, tenang ya... Jangan nangis." Fasya segera diam dan menurut.
Mereka tiba di restoran milik temannya Risda, mereka duduk dan menjadi tamu VVIP, makanan khas Korea di sajikan disana, dan Hanggi nampak binggung.
"Kenapa Nggi?" Tanya Aryan.
"Gak papa mas."
"Kamu mau makanan lain?" Tanya Aryan lagi.
"Gak papa kok, ini aja udah cukup." Hanggi tersenyum.
Tapi Aryan memanggil pelayan dan meminta menu, dia kemudian memesankan satu makanan hanya mengandung protein dan sayuran saja, serta minuman jus buah tanpa gula.
"Hanggi, makan ini aja ya.." Aryan menyerahkan satu piring makanan yang tadi dia pesan, beserta minumannya juga.
"Mas???" Hanggi menatap Aryan bingung.
"Udah makan ya.." akhirnya mereka makan dengan tenang dan senang, si kecil Frasya dari tadi mengganggu om nya makan.
Aryan begitu telaten menyuapi Frasya makan, padahal dari tadi Aryan hanya makan sedikit.
"Sudah kenyang belum?" Tanya Aryan pada Frasya.
"Cudah.. om." Frasya lalu meminum air putih dan Aryan melanjutkan makannya.
"Boleh ma, dagingnya lembut, lagian juga lemaknya gak banyak." Jawab Aryan.
"Memangnya Frasya kenapa?" Tanya Hanggi.
Risda tersenyum dan membawa Frasya pergi, karena secara bersamaan temannya datang dan membawa cucu juga.
"Mas Aryan, Frasya kenapa?" Aryan nampak bingung harus menjawab apa.
"Emmm... Frasya memiliki gangguan di usus halus dan lambungnya, satu tahun yang lalu dia pernah oprasi, dan faktanya cukup mengejutkan, Frasya udah gak bisa makan makanan sembarangan, terlebih makanan instan apalagi yang mengandung vetsin, MSG atau perisa asam."
"Berarti harus benar-benar intensif dong?"
"Iya, dan parahnya lagi, Marsha itu gak bisa masak atau buatkan makanan sehat untuk Frasya, ya jadi untuk sementara Frasya ikut aku, sampai kedua orang itu berubah." Ucap Aryan kesal mengingat kejadian tiga hari lalu, Aryan kembali memaki dua orang itu setelah semalaman Frasya muntah tidak berhenti.
"Emm... Nggi."
"Apa?"
"Kamu bisa gak kalau panggil aku jangan mas."
"Kenapa? Uta manggil kamu begitu."
__ADS_1
"Nah, itu dia aku kaya berasa punya adik atau jadi kaya tukang dagang."
"Terus mau di panggil apa?" Tanya Hanggi mulai risih.
"Panggil kakak aja, biar enak kaya di sekolah, berasa anak kuliahan."
"Mana ada?" Jawab Hanggi yang heran dengan panggilan kakak.
"Yaudah, terserah mau manggil apa, yang jelas jangan mas, jangan Abang, apalagi Mamang." Ketusnya.
"Okey om Aryan."
"Kamu temannya Frasya?"
"Iya..."
"Cocoknya jadi tantenya Frasya aja." Aryan mulai ngaco menggoda Hanggi.
"Hehehe... Udah."
"Beneran mau?"
"Apaan sih?? Maksud aku emang Frasya udah manggil aku Tante." Jawab Hanggi malas.
"Jadi tantenya beneran mau gak?" Tanyanya lagi.
"Ogah!" Teriak Hanggi.
Aryan hanya tersenyum, dan mereka melanjutkan untuk berbelanja.
Hanggi mengambil kebutuhan pokok yang diminta Tante Risda, Tante Risda sudah pergi dengan temannya itu, dan meninggalkan Frasya bersama Aryan dan juga Hanggi, Hanggi terlihat BT tapi berusaha stabil dengan adanya Frasya disini.
Mereka bertiga sedang asyik berbelanja, Aryan menggendong Frasya sementara Hanggi sibuk memilih pesanan Tante Risda.
"Loh... Pak Aryan?" Seorang perempuan menghampiri mereka bertiga.
"Eh... Silvi, kamu disini? Sama siapa?" Tanya Aryan begitu akrab.
"Sama teman, tapi gak tau dia kemana, mungkin lagi pilih barang, ini siapa pak?" Tanya Silvi.
"Ini anak ku, oh ya... Kenalin juga ini istri ku." Hanggi melotot dengan pernyataan Aryan yang ada di depannya.
"Loh??? Bukannya bapak??" Silvi kaget dan terbata.
"Kenalin Sil, ini istri ku namanya Hanggi, dan ini anak ku Frasya." Aryan memang membuat orang menjadi gila sekarang.
Silvi terlihat sungkan menjabat tangan Hanggi, dan Hanggi terlihat datar dan tidak suka.
"Hahahaha.." Aryan tertawa dengan senangnya melihat Silvi nampak aneh.
__ADS_1
"Silvi kamu kena prank... Ini Hanggi, dia teman ku, dan ini Frasya keponakan ku, masa iya keluar baru satu tahunan dengan status lajang, dan sekarang sudah punya anak usia 3 tahun, aku menikahi janda? Lihat Hanggi terlalu muda untuk jadi janda."
Hanggi yang kesal melihat Aryan nampak senang bicara dengan perempuan itu mendorong troli ke arah kasir dan membayar semua belanjaan itu dengan kartu debit dari Risda.