Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Bab 45 Sebuah Pilihan


__ADS_3

Acha dan Dirga menatap Papa Mirwan dari celah pintu yang terbuka lalu setelahnya mereka mengikuti Papa Dirga untuk melihat kondisi Mama Dirga.


"Apa yang tejadi pada Mama, Pa?." Tanya Dirga yang berjalan di belakang Papanya.


"Mungkin karena kelelahan, makanya Mama jadi pingsan." Jawab Papa Dirga tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Dirga, apalagi ada Acha disebelahnya.


Usai mendapatkan pertolongan dari Dokter, Mama di tempatkan di salah satu ruangan yang tidak jauh dari Papa Mirwan. Namun sampai saat ini Mama masih belum sadarkan diri.


"Biar Papa yang menunggu Mama. Kalian bisa jenguk Pak Mirwan sekarang."


"Iya, Pa. Kami ke ruangan Pak Mirwan dulu. Nanti kabari aku kalau ada apa-apa."


Papa Dirga hanya mengangguk sambil memegang pundak sang putra.


"Maaf kan Papa, Acha!." Kamu dan Dirga jadi harus mengalami banyak masalah karena Papa dan Mama."

__ADS_1


Acha segera menggeleng sambil tersenyum tulus. "Tidak ada yang perlu dimaafkan Pak, semuanya sudah terjadi dan aku sudah melupakannya."


Usai permintaan maaf Papa Dirga, Acha dan Dirga berpamitan karena untuk melihat keadaan Papa Mirwan yang sampai saat belum bisa temui.


Acha dan Dirga sudah berada di dalam ruangan Papa Mirwan, tapi keduanya masih terdiam belum ada yang berinisiatif untuk masuk.


Tok...


"Masuk lah!."


Acha dan Dirga saling menatap dengan senyum yang cukup lebar dari keduanya. Semoga saja ini pertanda baik untuk mereka.


Acha mengikuti Dirga dan mereka berdiri di depan Papa Mirwan yang sudah duduk di brankar nya.


"Lima belas menit, hanya lima belas menit waktu yang kalian miliki untuk berbicara dengan ku." Ucap Papa Mirwan pada Acha dan Dirga.

__ADS_1


"Biak, Pak Mirwan. Terima kasih sebelumnya. Pertama aku ingin meminta maaf untuk segala sesuatu yang sudah terjadi pada Acha. Baik atas nama ku pribadi atau pun orang tua. Kembali pada keinginan awal ku, aku ingin menikahi Acha, membahagiakan Acha dan Devan, jadi tolong restui kami." Ucap Dirga bersungguh-sungguh, tidak ingin membuang waktu lima belas menit yang dapat merubah segalanya.


"Aku sangat mencintai Dirga, Papa pasti tahu bagiamana aku berjuang keras untuk melupakan Dirga namun pada akhirnya aku malah harus mengandung anaknya. Bukan berarti aku membenarkan apa yang kami lakukan, tapi itu cukup membuktikan kalau hanya ada Dirga di dalam hati dan hidup ku selain Papa tentunya." Sambung Acha meyakinkan Papa Mirwan.


Acha dan Dirga saling menggenggam tangan dengan begitu eratnya dan itu sangat terlihat jelas oleh kedua mata Papa Mirwan


"Kalau harus di suruh memilih antara aku dan Dirga siapa yang harus kamu pilih?." Tanya Papa Mirwan pada Acha dengan tatapan yang begitu tajam.


Jantung Acha bekerja lebih keras, sehingga dia merasa jika detak nya bisa terdengar oleh Dirga dan Papa Mirwan.


Acha menatap Dirga yang berdiri tepat disampingnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Siapa yang akan kamu pilih, Cha?." Tanya Papa Mirwan lagi.


"Papa, aku akan memilih Papa." Ucap Acha dengan tegas namun dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


"Kamu sudah mendengar jawaban dari ku untuk permintaan mu, jadi aku tidak bisa mengabulkannya karena Acha lebih memilih ku bukan diri mu." Ucap Papa Mirwan dengan wajah yang cukup bersahabat, tapi hati Dirga dan Acha malah hancur berkeping-keping.


__ADS_2