Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Bab 29 Sebuah Pilihan


__ADS_3

‌"Untuk sekarang aku tidak tahu akan pergi kemana dan tinggal dimana, tapi yang jelas aku hanya akan meninggalkan kota ini saja."


"Kenapa Pak Dirga tidak mengajak ku pergi bersama?. Kita bisa membangun perusahaan baru di tempat yang baru. Aku yakin Pak Dirga masih memiliki kemampuan untuk itu."


"Kalau aku masih menjadi pengusaha seperti sekarang, ruang lingkup ku hanya akan berputar pada Acha. Sementara aku harus bisa melupakannya. Aku akan menyembuhkan semua luka ini. Setelahnya baru aku akan memikirkan ulang, tapi mungkin tidak menjadi pengusaha lagi."


"Apa Pak Dirga bisa hidup tanpa Ibu Acha?."


"Meski pun rasanya akan sulit, tapi aku harus mencobanya. Dan satu lagi, aku juga titipkan Irish dalam pengawasan mu. Karena tidak mungkin aku akan membawanya dalam hidup yang tidak jelas dan menentu."


"Kau sudah bisa mengiklankan perusahan ini untuk di jual. Setelah ini, mungkin besok atau lusa aku akan ke kantor Papa untuk menitipkan Irish padanya dan membicarakan kepindahan mu."


Dirga segera pulang ke Apartemen setelah semua urusannya di kantor selesai. Dia ingin menenangkan diri sebelum benar-benar harus pergi jauh dari semuanya.


Dan untuk sore ini, dia meminta Ruslan untuk menjemput Irish dan mengantarnya ke rumah Mama dan Papanya. Karena dia yakin mereka tidak akan pernah menolak kedatangan Irish.


Sesampainya di Apartemen, Dirga mulai mengemas barang-barangnya masuk ke dalam kardus berukuran besar. Dia tidak ingin meninggalkan apa pun di sini. Kalau bisa dia ingin meninggalnya semua kenangannya bersama Acha.


Wanita yang sampai saat ini masih sangat dicintainya dan mungkin akan selamanya tetap mencintainya.


Acha tidak langsung berangkat ke kantor setelah pulang dari rumah sakit. Mobil yang dikendarainya malah berhenti di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi.


Dimana lagi kalau bukan di depan kantor milik Dirga.


Jauh di dalam lubuk hati Acha, dia ingin datang kearah Dirga dan mengatakan semuanya dengan melemparkan foto hasil USG calon bayi mereka pada wajah Dirga. Namun semuanya sungguh tidak semudah yang dia bayangkan. Ada bayangan sang Papa yang tidak bisa memberinya restu untuk mereka, terlebih kedua orang tua Dirga pun tidak pernah memberikan restunya untuk mereka. Kembali sebuah pilihan pahit yang harus diambil oleh Acha untuk bisa menyenangkan hati semua orang.


Acha hanya bisa mematung di dalam mobil tanpa bisa bergerak kemana pun. Dengan sesekali menggigit bibirnya sambil menghapus air mata yang tiba-tiba saja keluar.


Kali ini begitu besar beban yang menghantam pikiran dan tubuh Acha, jika saja tidak ada calon bayi mereka, sudah dari kemarin Acha mengakhiri semua penderitaannya.


Tapi calon bayi mereka sudah mengikatnya dengan begitu kuat dan harus menjadikan dirinya lebih kuat lagi dari sebelumnya.


Acha harus kembali ke kantor ketika ponselnya berbunyi dan itu panggilan dari Papa Mirwan yang memintanya untuk datang ke kantor.

__ADS_1


"Selamat tinggal Dirga, selamat tinggal cinta yang tidak pernah berujung bahagia." Batin Acha menangis begitu kencang, bersaman dengan mobil yang melaju. Mulai meninggalkan gedung perkantoran Dirga.


Mobil Acha sudah terparkir di area depan Lobby. Hal yang pertama dilakukannya setelah turun dari mobil adalah mencari toilet. Untuk merias ulang wajahnya yang sembab karena habis menangis.


Saat akan mengetuk pintu, dari arah dalam Marvel menarik gagang pintu hingga tangan Acha terkepal di udara.


"Acha?."


"Maaf, tadinya aku mau mengetuk pintu. Tapi kamu sudah membuka pintunya."


"Iya, tidak apa-apa Cha, Papa sudah menunggu kedatangan mu." Marvel memundurkan tubuhnya untuk memberi jalan pada Acha. Setelah melihat Acha duduk di depan Papa nya, Marvel melanjutkan urusannya untuk menemui beberapa klien yang sudah mulai pindah pada perusahannya.


"Ada hal penting apa yang ingin Papa bicarakan pada mu?."


"Iya Pa, bicara saja."


"Perusahan ini akan Papa ambil alih, supaya kamu bisa beristirahat lebih di rumah dan memiliki banyak waktu bersama Marvel."


Acha masih mencerna apa baru saja diucapkan oleh Papa nya.


"Karena sudah dari satu Minggu yang lalu, Marvel sudah manjadi suami mu. Papa sudah menikah kan kalian berdua."


Deg


"Suami?."


"Apalagi ini, Tuhan?."


"Jadi ini, kenapa Papa tidak merestui hubungan ku dengan Dirga?."


Pergulatan batin Acha yang tidak mampu diucapkannya.


Bibir Acha tertutup rapat, berusaha menahan gejolak rasa yang begitu hebat, yang berhasil memporak porandakan seluruh jiwanya.

__ADS_1


"Papa tidak meminta izin atau memberitahu mu terlebih dulu karena Papa sangat yakin jika kamu tidak akan pernah menolak keinginan Papa." Papa Mirwan mengeluarkan buku nikah miliknya dan Marvel. Dan sangat jelas nama Marvel yang tersemat di dalam buku nikah itu.


Buku nikah itu sudah ada ditangannya. Acha terus saja menatapnya tanpa berkedip. Rasa tidak percaya masih mendominasi hatinya.


Marvel kini sudah resmi menjadi suaminya, biak secara agama mau pun negara.


"Iya Pa, aku akan menuruti apa yang Papa katakan. Karena Papa pasti tahu apa yang terbaik untuk aku." Ucap Acha saat sudah bisa menormalkan perasaanya.


"Terima kasih sayang."


"Aku yang seharusnya berterima kasih pada Papa, karena masih mempedulikan kebahagiaan dan masa depan ku."


"Aku akan pulang sekarang!, aku akan memasak yang banyak malam ini, untuk merayakan pernikahan ku dan Marvel." Acha segara berpamitan pada Papa Mirwan dengan memberinya sebuah pelukan yang sangat terasa hambar bagi Acha. Namun tetap menyempatkan sebuah senyuman yang begitu tulus.


"Iya sayang, kamu hati-hati." Ucap Papa Mirwan sembari melepaskan pelukan Acha.


"Iya Pa..."


Acha berjalan dengan sangat tergesa-gesa sehingga tidak menyadari keberadaan Marvel yang sejak tadi menguping pembicaraan antara Acha dan Papa Mirwan.


Acha menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang sudah tidak bisa menghalau air mata yang keluar.


Untuk beberapa lama Acha menumpahkan segala bentuk kesedihannya. Hingga dia sudah menemukan tempat yang akan dijadikannya persinggahan.


Acha segera menyalakan mobil dan membawanya dengan kecepatan penuh karena dia tidak memiliki banyak waktu.


Acha sudah berdiri di depan pintu sebuah Apartemen dan segera menekan bel.


"Acha?." Ketika pemilik Apartemen itu sudah membuka pintu dan tidak lain adalah Dirga.


Acha perlahan melangkah maju setelah menutup pintu, sehingga mau tidak mau Dirga yang melangkah mundur masuk ke dalam unit Apartemen.


"Acha?."

__ADS_1


"Mari kita melakukanya sekali lagi!, sebagai salam perpisahan dan kenangan-kenangan yang bisa aku kenang sepanjang hidup ku!."


Acha membuka satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya hingga tanpa sisa. Kini Acha hendak membuka pakaian Dirga yang masih diam mematung.


__ADS_2