Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Three


__ADS_3

Sesudah solat magrib Hanggi mulai membuka laptop miliknya dia mengirim beberapa menu makanan dan resep sajian yang di uji cobakan besok.


Hanggi Agatha Rusdi, merupakan seorang cook di salah satu Hotel, Hanggi merupakan anak buah yang mampu mengerjakan menu dan berinovasi dengan baik. Dia seorang wanita berhijab yang selalu ceria dan kadang suka gila sendiri, jika sudah bergabung dengan teamnya. Jika seseorang melihat Hanggi dari luar saja pasti dia akan kagum tapi saat tau bertapa tegarnya Hanggi mereka pasti langsung berempati.


Bagaimana tidak Hanggi merupakan seorang penderita Diabetes melitus tipe 1, Hanggi mengalami ini sejak di bangku SMP, dia tau bahwa dia mewarisi salah satu gen ibunya, namun dia mencoba untuk tidak perduli dengan gejala yang ada.


Dulu, saat SMP kelas 3 Hanggi pernah pingsan 2 kali karena mengikuti ekstrakurikuler di sekolahnya, Hanggi anak yang aktif, Hanggi adalah seorang kutu buku yang bercita cita menjadi seorang dokter, mau tidak mau dia selalu membaca beraneka artikel tentang beberapa penyakit kronis, seperti kangker, diabetes, jantung dan paru-paru.


Di awal Hanggi tau bahwa dia merupakan seorang penderita Diabetes, dia sangat terpukul dan tidak ingin orang tuanya tau, Hanggi selalu menyembunyikannya, sampai di usianya yang 15 tahun dan saat dia tidak bisa menahan semuanya lagi, Hanggi jatuh pingsan, dia kehabisan nafas dan kesadarannya menurun drastis.


Hanggi harus di rawat intensif karena mengalami hiperglikemi, dari sana ayah Hanggi tau bahwa putrinya menderita penyakit yang sama dengan mantan istrinya.


Hanggi bukanlah anak kandung dari istri ayahnya yang sekarang, ibu Hanggi meninggal saat usia Hanggi menginjak 9 tahun, dan Hanggi tau itu. Ibu tiri Hanggi tidak memiliki anak, jadi Hanggi sangat disayangi.


Hanggi terpaku dikamarnya, menatapi hasil pemeriksaan yang kian hari semakin menurun, begitulah Hanggi terkadang kondisinya membaik kadang menurun.


"Ya Allah jika memang engkau menyayangi aku seperti ini, aku terima mungkin ini tebusan untuk setiap dosa yang ku perbuat, jika memang ini sebagai balasan atas dosa ibu ku, aku siap menjalaninya." Ucap Hanggi miris.


Hanggi membuka file photo yang ada di dalam laptopnya. Dia tersenyum kala monitor itu menampilkan sosok pria dengan baju basket yang tersenyum manis, pria itu cukup tampan bersama bola basket yang di apit di lengannya, kemudian dia beralih ke foto berikutnya, dimana ada dirinya dan juga dua orang pria yang mengapitnya tersenyum bahagia.


"Apa kabar?" Lirih Hanggi mengucap dan air matanya menggenang.


"Seandainya sekarang kamu disini, aku yakin hari ku tidak akan sesepi ini, tapi kita hidup di dunia yang tidak berangan, tidak ada kata seandainya yang menjadi nyata disini. Kenapa pergi sejauh itu? Aku tidak bisa menggapai mu, jika ada lautan aku bisa menyebrang, jika ada samudra atau terbentang jarak, aku bisa menempuhnya, tapi kita terhalang dunia." Lirih sudah air mata yang tadi menggenang.


Tok... Tokk... Pintu kamar Hanggi di ketuk oleh ibunya.

__ADS_1


"Ibu?"


"Makan malam dulu, kamu perlu minum obat Nggi." Ucap sang ibu, Hanggi menurut dan makan.


Setelah membantu membersihkan dapur dan piring, Hanggi kembali ke kamarnya, dia mengambil obat miliknya.


"Ayo Nggi, demi kesehatan, kamu harus kuat." Ucap Hanggi seraya mengatur dosis unit pada suntikan yang berbentu seperti pulpen itu.


Dua jam kemudian Hanggi kembali menyuntikan obat yang berbeda dengan cara yang sama, kemudian meminum obat malam dan tidur.


Saat azan subuh berkumandang Hanggi segera turun dari ranjangnya dan cepat cepat mandi dan solat, hari ini Hanggi ada jadwal pagi, jadi dia harus berangkat dengan cepat.


Hanggi membawa bekal sarapan dan makan siang untuknya, orang sekitar Hanggi tidak pernah tau jika Hanggi memiliki penyakit diabetes mellitus tipe 1, Hanggi menutup privasinya dengan baik, bahkan untuk menyuntikkan obat dia harus sembunyi di kamar mandi.


"Nggi, gantian ya sekarang kamu yang di bagian daging." Ucap atasan Hanggi yang bernama Bang Bima.


"Thanks ya Nggi, besok baru gantian gue yang jadi butcher."


Hanggi hanya tersenyum seraya mengambil perlengkapan untuk dirinya.


"Gak papa bang."Ucapnya semangat sambil megambil pisau daging.


Hanggi melangkah menuju ruangan yang mengurusi pemotongan sampai ke pengolahan daging di dapur itu, tempatnya yang agak di sudut ruangan dan terang, tapi lantainya lumayan becek karena harus mencuci daging, dan bau anyir darah begitu khas.


Hanggi mulai memotong bongkahan daging menjadi irisan tipis dan di tata di dalam piring saji dan tutup dengan plastik wrap.

__ADS_1


Berulang kali Hanggi mengiris sampai bongkahan daging tadi terpotong menjadi 7 jenis potongan yang di taruh didalam wadah berbeda.


"Lah??? Kok elu yang disini Nggi? Bima?"


"Bang Bima lagi repot sama pesanan si Chef, gara gara menu baru yang aku kirim."


"Elu sih Nggi, pake mikir buat menu baru, enakkan ngobrol sama daging?" Sindirnya.


Hanggi masih saja tertawa sambil mencak mencak dengan pisau di tangannya.


"Udah sana Ferry jangan gangguin aku." Hanggi menyuruh pria tadi untuk pergi, sepertinya Hanggi sudah tidak betah di ajak ngobrol.


"Nggi buruan, itu udah di tungguin buat bikin bulgogi." Satu teriakan sudah menggema di penjuru ruangan.


"Iya mas, Hanggi OTW!!" Ucap Hanggi dengan penuh tekanan.


"Kamu sih gangguin Hanggi, ngajak ngobrol mulu." Hanggi kesal dengan memaki Ferry.


Hanggi segera mengambil countainer berisi 15 kg daging, dan di angkatnya.


"Kuat gak Nggi, sini gue bantuin." Tawar Ferry.


"Slow, Hanggi wanita tangguh, gak kaya Ferry tiap hari cuma bisa ngobrol sama brokoli!" Ucap Hanggi ketus melangkah meninggalkan Ferry.


"FERRY!! HANGGI!!! KALAU KERJA JANGAN BERCANDA MULU!!!" Teriak suara merdu itu lagi, yang langsung saja di sambar oleh Ferry.

__ADS_1


"JANGAN MARAH MAS DANU, HANGGI GAK GUE APA APAIN... MASIH AMAN TERKENDALI." teriak Ferry yang membuat suasana kitchen hotel ini menjadi seperti hutan.


__ADS_2