
Seorang pria mengamati monitor yang ada tepat dihadapannya dengan sangat teliti, membuat rangkaian laporan dan dokumen yang menurutnya belum sempurna.
"Pak Aryan, ini kopinya." Ucap seorang bapak yang merupakan OB di kantor itu.
"Oh iya makasih pak, nanti jam makan siang temani saya makan di luar ya pak?" Ucap Aryan santai kepada OB itu.
"Siap pak Aryan." Lalu ob itu pergi dari ruangan Aryan.
Ponsel Aryan berdering menandakan panggilan masuk.
"Assalamualaikum mah, ada apa?"
"Waalaikum salam, mas kamu dimana?"
"Di kantor lah mah, ada apa?"
"Uta..."
"Kenapa lagi anak itu mah?"
"Uta tampar Marsya, mereka bertengkar lagi urusan uang, Mas mama udah gak sanggup tinggal bareng mereka, lebih baik mamah yang ngalah deh."
Aryan menarik nafas dengan kuat, bahkan dia terlihat pusing sekarang.
"Terus mama mau tinggal sama siapa?"
"Mama mau tinggal di rumah kamu saja ya mas, mama bisa stroke kalo kaya gini terus."
"Yaudah, nanti pulang kerja Aryan langsung ke Bandung, jemput mama, mama siap siap aja."
"Ok mas, nanti mama siap siap, assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Aryan menarik kepalanya untuk bersandar pada kursi kantornya.
"Anak itu selalu aja bikin Mama ngebatin, mau nya apa coba? Kalau di pikir udah terlalu banyak yang dia buat, bikin hidup orang berantakan, nyusahin mama, sekarang bukan buat mama nyaman malah cari perkara!" Kesalnya sambil memejamkan mata sejenak.
Jam makan siang Aryan bersama OB tadi duduk di warung soto pinggir jalan, membuat semua karyawan yang ada di pusat pertokoan itu melirik ke arahnya, bagaimana tidak manager Bank dengan stelan rapih, duduk di pinggir jalan menyantap soto di siang hari.
"Bapak mau nambah lagi gak?" Tanya Aryan pada OB tadi.
"Enggak pak, makasih."
"Pak Wito punya anak berapa?" Tanya Aryan dengan penasaran.
"Anak saya 4 pak, tiga laki laki dan satu perempuan, yang perempuan ini masih SMA butuh banyak biaya."
"Iya, betul itu pak, jaman sekarang lulusan S1 saja masih di buang buang, apalagi kalau cuma SMA pak, apalagi anak perempuan."
__ADS_1
"Iya pak, oh iya pak Aryan sendiri? Sudah punya calon?"
"Calon apa pak?" Ucap Aryan yang masih menyuap soto ke mulutnya.
"Calon istri, atau malah sudah punya tunangan? Sampai sampai anak kantor pada di cuekin." Pak Wito tersenyum.
"Walah... Pak pak, ckk... Menurut bapak saya sudah punya belum?" Tanyanya balik.
"Kayanya sudah, loh kalo belum gak mungkin mbak Silvi sama kawannya di cuekin."
"Sudah ada calon pak, tapi gak tau calon saya itu ngakuin saya apa gak." Aryan tertawa.
"Loh malah tertawa toh... Kenapa juga gak diakuin pak?"
"Karena dia belum kenal saya."
"Lah pak... Gimana mau jadi calon?"
"Itu dia pak, saya baru ketemu kemarin di cafe, tapi gak tau kenapa rasanya seneng aja lihat dia, padahal sebelumnya belum ada yang buat saya kaya gini pak."
"Yo weis... Hajar terus, kejar sampai dapat."
"Pasti pak."
Setelah makan soto, datanglah seorang perempuan menyapa Aryan, dia Silvi wanita yang mengejar Aryan sejak mutasi Aryan tahun lalu.
"Sudah, kenapa?"
"Tadi saya belikan ini, saya kira bapak belum makan." Jelas wanita itu dengan senyum sambil membawa bungkusan.
"Sayangnya saya sudah makan, kasih security saja, saya ke atas dulu ya Mbak." Ucap Aryan sopan, sementara itu pak Wito tersenyum menatap Silvi.
"Mbak Silvi, kalah telak, pak Aryan udah ada yang punya." Silvi melotot mendengar perkataan Wito.
"Kok bisa?"
"Bisalah mbak, orang mbak bukan tipenya bapak." Wito melihat reaksi Silvi yang mulai marah, segera pergi dari Silvi.
"Masa aku bukan tipenya, mana ada yang bisa nyaingin Silvi, jelas Silvi nomer satu." Memang Silvi adalah wanita yang parasnya hampir sempurna, dia memang yang paling cantik di kantor cabang itu.
Malam harinya Aryan sudah sampai di kediaman sang mama di Bandung.
Dia bicara dengan adiknya serta istri adiknya.
"Uta, mas udah pernah bilang sama kamu, mas tanggung semua pengeluaran kamu, mas mampu biayain kamu, tapi saat ini, mas cuma mau kamu mandiri, pengeluaran kamu tiap bulan itu gak wajar Ta." Ucap Aryan keras.
"Wajar kalau lebih banyak mas, sekarang ada anak, dan aku juga butuh uang untuk bisnis." Jawab adiknya tak kalah keras.
__ADS_1
"Bisnis apa?" Tanya Aryan yang masih marah.
"Uta bikin layanan iklan, di internet, Uta juga main saham."
"Mana hasilnya? Kamu diam! Gak ada hasilnya Ta!" Bentak Aryan, karena yang ditanyakan hasil malah diam.
"Mas gak mau tau, pokoknya, mulai sekarang mas hanya bisa kasih uang buat susu Frasya!" Final Aryan dengan menenteng tas ibunya yang sudah siap berangkat.
"Jangan susul mama, kamu urus keluarga kamu dulu, belajar mandiri dan tanggung jawab!" Ucap Aryan yang melangkah keluar masuk kedalam mobilnya.
Di dalam mobil mamanya menangis sesenggukan.
"Sudah ma... Apalagi yang mama pikirkan sih?" Tanya Aryan lembut penuh santun pada sang mama.
"Mama salah apa dalam mendidik Uta si Mas, Uta itu anak kesayangan mama, tapi kenapa begitu."
"Sudah ma, gak ada yang perlu disalahin, untuk sementara mama tinggal di rumah dulu, atau mau temenin Aryan terus?"
"Mas, kamu sudah seharusnya cari istri, mama mau kamu bahagia, kamu udah terlalu banyak berkorban demi Uta dan Marisa."
"Ma, Aryan itu adik dan kakak buat mereka, sebisa mungkin Aryan akan lakuin apapun yang terbaik buat mereka."
"Makasih ya mas, sudah mau jadi orang baik, yang selalu ada buat keluarga."
Aryan hanya tersenyum melajukan mobilnya di jalan tol.
Sesampainya di rumah, Aryan terlihat lelah, dia mandi dan merebahkan badannya di tempat tidur.
Dia memainkan ponselnya, dan mencari nama seseorang di Instagram miliknya.
"Oh... Nama Instagram hanggiar154." Lalu Aryan mencoba untuk membuka Instagram yang tidak terkunci itu.
"Gak pakai private lagi."kemudian Aryan mengecek satu persatu fotonya. Setelah yakin dia memfollow akun itu.
"Kalau DM di bales gak ya??? Coba kali ya???"
Akhirnya setelah bimbang Aryan mencoba untuk mengirim pesan lewat akun miliknya.
"Assalamualaikum." Kirimnya.
Setelah dirasa beberapa jam menunggu tidak di balas, akhirnya Aryan menyerah memilih untuk tidur.
Di tempat lain, ada Hanggi yang masih menatapi foto milik seseorang yang berada di laptopnya.
"Kangen, tapi gak bisa ngomong, ya Allah jaga dia, aku tau dia berada dalam peluk mu, ya Allah jangan beri dia rasa sakit lagi, aku merindukannya." Hanggi sedikit meneteskan air mata.
"Aku salah ga sih Dik, kalau aku mengasingkan diri dari laki laki? Aku gak trauma tapi ini pilihan ku, aku terlalu takut akan semua perkataan pria itu, aku takut Dik, saat semua perkataan orang orang itu nyata, bahwa aku gak akan bisa punya anak, bahwa aku hanya akan merepotkan suami aku nantinya, Dik seandainya ada kamu, aku pasti cerita banyak, kamu sahabat aku dan aku menyesal sudah tidak perduli dengan perasaan kamu."
__ADS_1
Hanggi yang terisak akhirnya memejamkan mata setelah ritual malamnya.