
Malam ini udara sangat dingin, kami masih ada di kota Bandung, ini karena aku menuruti kemauan mama, untuk sekedar singgah saja.
Perasaan ku hari ini sungguh berantakan, di satu sisi aku mulai menyatakan ketertarikan pada wanita yang aku temui dua kali tanpa sengaja itu.
Dia Hanggi Agatha Rusdi, seorang perempuan yang ekspresif, dia akan kaku jika berhadapan dengan orang asing, itu semua terlihat jelas saat pertemuan kami beberapa hari yang lalu, tangannya yang tidak bisa diam serta matanya yang tidak mau menatap ku, jelas sekali dia tidak bisa berhadapan dengan orang asing.
Hari ini aku baru tau, dari adik ku Juddan, bahwa ternyata Hanggi adalah cinta masa lalunya, jelas aku tau beberapa hal tentang kisah asmara adik ku ini, selain menjadi sosok ayah pengganti untuknya, aku juga adalah teman curhatnya, meski kami selalu berjauhan, kami tidak pernah menyimpan rahasia.
Aku jadi ingat betapa semangatnya dia menceritakan Hanggi di masa itu, Juddan yang selalu uring uringan, jika masuk sekolah berubah menjadi Juddan yang ceria dan begitu semangat, Juddan yang malas jika diajak bermain basket atau batminton, jadi rajin. Aku tidak memantaunya tapi mama bercerita tentang perubahannya.
"Uta... Kata mama hari ini kamu juara 2 ya???" Betapa senang aku mengirim pesan pada adik ku itu, setelah sebulan perceraian mama menghancurkan hatinya.
"Iya mas, semua ini berkat dia." Jawabnya.
"Siapa?"
"Ada deh... Mas, gue mau cerita tapi, Lo jangan ketawa ya..."
"Iya." Balas ku.
" Gue lagi naksir berat sama seorang perempuan, dia beda, prilakunya yang dingin dan tomboi buat gue nyaman, tapi karena itu semua dia gak peka sama perasaan gue usia dia di bawah gue 2 tahun."
"Uta, kalo emang dia baik, mengerti lo dan elo beneran suka ya... elo harus pertahanan dia dong." Jawab ku santai.
__ADS_1
"Mas, gue gak bakal ngomong apa apa, Lo tau kan Radika?"
"Kenapa?"
"Radika udah nyatain perasaannya sama dia, kayanya dia gak respon tapi mereka sama sama terus, oh iya mas, gimanapun perasaan gue sama dia, kalau Radika bisa jaga dia gue bakal ngalah sama Radika."
"Kenapa?" Lagi lagi itu yang membuat ku penasaran dan pesan ku tidak di balas olehnya lagi.
Dan sekarang aku tau, adik ku sangat bijaksana pada saat itu, dia merelakan perasaannya demi sahabatnya yang selalu setia menemaninya, demi sahabatnya yang sedang sakit keras, entahlah, aku belum pernah mengenal laki laki bernama Radika itu, tapi yang pasti Radika sama seperti Uta, selalu mau berkorban, tapi sekarang Uta sudah berubah, dia begitu egois dan selalu memperlihatkan taringnya.
Hanggi, seandainya nanti kita memang berjodoh dan kamu jatuh cinta sama aku, aku cuma berharap kamu bisa yakin sama aku dan melupakan luka lama, seperti apa yang Uta katakan tadi.
Seseorang menepuk pundak ku, saat aku berbalik ternyata mama.
"Kenapa melamun?" Tanya mama dengan senyumnya.
"Gak papa, mama kok disini? Belum tidur?" Tanya ku lagi, karena tidak biasanya mama datang ke halaman samping pada jam seperti ini.
"Mama cari kamu di kamar tadi, mama mau bicara." Jawab mama yang ikut duduk bersama ku.
"Bicara saja ma, Aryan ada buat mama kok." Senyum ku.
"Mengenai pembicaraan kita tadi siang mas."Aku tau kemana arah pembicaraan ini.
__ADS_1
"Mama mau kamu memilih, kamu cari wanita lain dan perlihatkan kepada mama atau menikah dengan Hanggi, ya... Meski mama gak tau kondisinya seperti apa..."
Belum selesai mama bicara aku sudah memutusnya.
"Ma, semua orang punya kekurangan untuk di lengkapi, Aryan gak sempurna, dan Aryan juga gak mau mencari istri yang sempurna, kalau memang Hanggi jodoh yang terbaik untuk Aryan, dengan senang hati Aryan terima, mama gak usah mikir macam macam."
"Mas, tapi..."
"Mama, Aryan kenal Hanggi yang mama maksud, Hanggi yang mengantar Catering itu kan?" Mama hanya mengangguk.
"Kalau Aryan bilang sama mama, bahwa Aryan sudah memantapkan perasaan sama Hanggi bagaimana?"
"Maksud mu?"
"Aryan suka sama Hanggi ma, sejak beberapa bulan lalu, tapi Aryan baru yakin pada Minggu Minggu ini setelah bertemu dia kembali, Aryan harap mama bisa menerima Hanggi apapun yang terjadi." Ucap ku sambil menggenggam tangan mama yang mulai mendingin.
"Loh... Ma, jangan buang air mata ini dong, Aryan gak suka lihatnya." Ucapku seraya menghapus air mata di pipi mama.
"Ya sudah mama pamit tidur ya Mas, mama sayang mas Aryan."
"Aryan juga sayang mama." Ucap ku sambil mencium kening mama, dan mengantarkannya menuju kamar.
Ya Allah berilah aku jalan, jika sulit maka beri aku jalan keluar yang terbaik, aku hanya bisa menghempas tubuh ku ke kasur dan mulai memejamkan mata, agar esok aku bisa pulang kembali ke Depok dan melanjutkan aktivitas ku.
__ADS_1