
Acha berusaha membuka kemeja yang dipakai Dirga.
"Kenapa kamu mau melakukannya lagi saat kamu sudah menjadi istri orang lain?." Tanya Dirga mencekal pergelangan tangan Acha dengan begitu kuat. Menghentikan niat Acha yang akan menelanjanginya.
"Sebagai permohonan maaf ku, karena tidak bisa menikah dengan mu dengan alasan restu dari kedua orang tua kita. Namun nyatanya Papa ku lah yang sudah menikahkan aku dengan pria lain." Acha berusaha meraih kemeja Dirga dengan tangan yang lain. Namun lagi-lagi Dirga menahannya.
"Sudah hentikan!. Tidak perlu meminta maaf atau pun merasa bersalah pada ku, karena semua sudah menjadi pilihan Papa mu. Dan Papa mu berhak memilih pendamping yang lebih baik untuk mu."
"Aku melakukan ini bukan karena rasa bersalah atau permintaan maaf ku, melainkan aku ingin melakukannya lagi dengan mu sebelum aku menyerahkan dan berbakti pada suami ku."
"Cukup!, sudah hentikan!. Aku tidak ingin mengotori mu lagi!." Dirga melepaskan tangan Acha dan mengambil pakaian Acha yang sudah berserakan di atas lantai. Namun Acha malah memeluk Dirga dari belakang.
Dirga tidak bisa menolak kala rasa rindu itu begitu mendominasi dalam hati dan pikirannya. Hingga dia membiarkan tangan lentik Acha membuka semua pakaiannya.
"Aku begitu merindukan mu..." Bisik Acha dari balik tubuh tegap Dirga.
"Aku juga begitu merindukan mu, Cha!." Dirga membalik tubuhnya hingga kini posisinya yang memeluknya Acha.
Dirga menciumi seluruh wajah Acha tanpa ada yang terlewati.
"Beri lah aku kebahagian yang tidak akan bisa aku lupakan semur hidup ku, walau pun kita tidak bersama." Acha memeluk erat tubuh polos Dirga.
"Cha..." Dirga menarik wajah Acha lalu menangkup wajahnya.
"Apa di sini ada buah cinta kita?." Dirga menurunkan salah satu tangannya sampai menyentuh perut Acha lalu mendiamkannya di sana.
Acha terdiam dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah tampan Dirga. Perasaan tidak ingin menyakiti hati Papa nya lebih dominannya dari kasus perasaannya sendiri, hingga Acha menggelengkan kepalanya pelan.
Meski Dirga begitu kecewa, tapi itu mungkin memang yang terbaik untuk mereka, apalagi kini Acha sudah berstatus istri dari orang lain.
Padahal, kalau saja Acha bilang dirinya saat ini sedang hamil anak dari buah cinta mereka. Maka dengan senang hati Dirga akan memperjuangkannya sampai
nafas terakhirnya.
Tapi ya sudah lah, ini hidup yang harus mereka jalani.
"Maaf aku sudah mengambil sesuatu yang berharga dari mu, namun aku tidak bisa mempertanggungjawabkannya."
"Makanya sekarang aku minta kamu untuk bertanggung jawab atas rasa candu ku pada tubuh mu!." Perlahan Acha mendorong tubuh Dirga hingga mereka terjatuh bersama ke atas tempat tidur dengan posisi Acha di atas tubuh Dirga.
"Aku tidak bisa melakukan hal ini lebih jauh lagi." Dirga membalik posisi, meski hasratnya sudah di ubun-ubun.
__ADS_1
"Jangan menolak ku, kali ini saja!. Ini yang terkahir kalinya."
"Tidak Cha, aku tidak bisa melakukannya lagi." Dirga segera bangun dan berlari ke kamar mandi, lalu menguncinya.
Acha menangis menumpahkan rasa sedih yang begitu mendalam, karena dia sangat mencintai pria yang sudah menolaknya.
"Papa mu tidak mau menemui mu untuk yang terakhir kalinya." Gumamnya lirih sambil memegangi perutnya.
Saat ini Acha baru saja sampai di rumah, menyisakan waktu setengah jam lagi sebelum Papa dan Marvel tiba di rumah. Acha mulai memasak untuk merayakan pernikahannya.
Sudah lewat satu jam dari waktu seharusnya kedua pria itu berada di rumah. Bahkan makanan pun sudah terhidang di atas meja.
Acha sudah menyiapkan senyum termanisnya untuk menyambut mereka. Tapi mereka belum juga kunjung datang.
Hingga pukul sepuluh malam, baru lah Papa dan Marvel sampai di rumah. Kedua pria itu menemukan Acha duduk dengan wajah yang menelungkup di atas meja makan.
"Kamu bangun kan Acha!, Papa akan ganti baju dulu."
"Iya Pa."
Papa Mirwan segera masuk dan meninggalkan Marvel bersama Acha.
Tangan Marvel terulur menyentuh lembut punggung atas Acha.
"Cha, Acha...bangun!." Marvel kembali membangunkan Acha dengan suara lembutnya. Baru lah Acha mengangkat wajahnya lalu menoleh pada Marvel yang sudah berdiri disampingnya.
"Kamu sudah pulang?, Papa mana?, kenapa kalian pulangnya telat?." Cecar Acha.
"Kami ada pekerjaan yang tidak bisa kami tinggalkan, maaf sudah menunggu mu sampai tidur di sini." Ucap Marvel sambil menarik kursi lalu di sebelah Acha.
"Tidak apa-apa. Lalu Papa mana?."
"Papa sedang berganti pakaian."
"Kamu enggak mandi dulu?."
"Iya." Marvel berdiri hendak masuk ke dalam kamar yang sebelumnya. Tapi suara Acha berhasil menghentikannya.
"Semua pakaian mu sudah aku pindahkan ke kamar ku!."
Wajah kaget Marvel terlihat begitu jelas, namun Acha segera memalingkan wajah ke arah lain.
__ADS_1
Tidak ada yang perlu disalahkan untuk pernikahannya dengan Marvel. Karena semua sudah menjadi garis hidup yang harus dijalaninya.
Hubungannya dengan Dirga memang harus kandas lagi, yang menandakan jika mereka memang tidak berjodoh lama.
Walau pun sebelumnya mereka sudah dekat sebagai teman sekaligus partner kerja, namun posisi mereka yang sekarang, tiba-tiba saja menikah. Cukup membuat keduanya sangat canggung. Meski pun Acha dan Marvel berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.
"Cha..." Marvel duduk di sofa yang menghadap ke pantai, angin malam yang berhembus cukup dingin sehingga Acha memakai sweater.
"Apa?." Acha ikut duduk di samping Marvel dengan memandang kearah pantai.
"Kamu menerima pernikahan ini?."
"Tidak ada alasan bagi ku untuk menolak pernikahan ini."
"Kamu percaya jika kita sudah menikah?."
Tatapan Acha beralih pada Marvel yang ada disampingnya.
"Aku percaya kalau kamu dan Papa bukan orang yang suka mempermainkan pernikahan."
Marvel terdiam, sambil menatap balik Acha dengan senyum yang selalu tulus.
"Lalu hubungan mu dengan Dirga?."
"Hubungan kami sudah berakhir sebelum pernikahan ini ada. Jadi tidak ada yang harus tersakiti baik aku atau pun Dirga. Dan kamu tidak perlu merasa bersalah atas apa pun."
"Cinta mu?."
"Mungkin sampai kapan pun, aku akan mencintai kenangan aku bersama Dirga. Tapi aku juga akan belajar untuk mencintai mu, menerima ku walau pun itu butuh memang membutuhkan waktu. Tapi kamu percaya bukan pada kesungguhan ku selama ini."
"Ini pasti sangat berat dan sangat menyiksa mu."
"Tidak seberat itu, asal kan aku bisa melihat papa tersenyum setiap hari."
Hening untuk beberapa saat, sampai Acha benar-benar sudah merasa ngantuk.
"Aku tidur duluan."
"Iya selamat malam."
Marvel hanya menatap punggung Acha yang berjalan kearah tempat tidur.
__ADS_1
"Maaf kan aku jika sudah masuk dalam kehidupan mu dan Dirga, tapi cinta ku juga begitu tulus dan besar untuk mu." Batin Marvel.