Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Fifteen


__ADS_3

Hari ini aku menegaskan pada ibu tentang percakapannya pada Tante Diana kemarin.


Ya... Kemarin Tante Diana datang setelah aku mengantarkan buku ke rumahnya dan menemui anaknya itu.


"Bu, Hanggi minta maaf yang sedalam-dalamnya, bukan Hanggi mau melangkahi takdir dan menolak, tapi Hanggi hanya berpikir, Rey anak Tante Diana itu lebih layak mendapatkan yang lebih baik dari Hanggi." Ucap ku dengan nada sumbang, karena aku terserang flue saat ini.


"Tapi Nggi, Anak ibu cuma kamu, ibu mau kamu memiliki keluarga dan anak² ibu mau kamu seperti mereka."


Kepala ku sakit mendadak mencekam seperti kosong tak berisi.


Aku menekuk kaki luruh di lantai, badan ku lemas, bahkan aku tidak bisa mendengar suara ibu dengan jelas.


Aku merasakan ada yang mengalir dari hidung ku.


"Ya Allah, Ayah!!! Yah !!! Hanggi! Nggi sadar Nggi!"


Mata ku semakin berat saat ayah datang menangkap tubuh ku.


"Bu, kita bawa ke rumah sakit sekarang aja Bu, Hanggi juga mimisan kaya gini, ayah takut ada apa²."


Dan aku membuka mata ku, seorang suster sedang menekan tulang dada ku, terasa sakit tapi aku merasa lega sekarang.


"Hanggi! Hanggi! Ayo buka matanya."


Aku bisa membuka mata ku, hidung ku sudah bersih dari darah bahkan baju ku juga sudah berganti dengan baju pasien disini.


Dokter datang dan status ku saat ini dibacakan.


"Hanggi, usia 24 tahun Hiperglikemi, ada anemia juga dok."

__ADS_1


"Sudah cek kimia darah?"


"Sudah dok, trigliserida nya 455, GDS 654, trombositnya 100.000, untuk keratin masih normal."


"Pasien dokter Arga?" Tanya sang dokter.


"Iya dok, saya sudah hubungi yang bersangkutan."


"Yasudah masukan ruang perawatan." Ucap dokter itu tanpa berkata apapun lagi.


Hari ini dokter Arga datang sangat pagi, bahkan di luar jam kerjanya, bahkan aku pun baru membuka mata, wajah ku masih penuh minyak.


"Hanggi, bagaimana perasaan mu?" Tanyanya.


"Sudah lebih baik dari semalam dok."


"Dok, katakan semua kemungkinan yang ada."


"Saya bukan Allah yang bisa memberi kemungkinan itu, saya harap kamu bisa melewati semuanya."


Tanpa banyak bicara dokter Arga keluar dari ruang.


Indah dan Ajeng datang untuk menjenguk ku, mereka tampak sedih bahkan Indah meneteskan air matanya.


"Ndah... Kenapa?" Tanya ku yang sudah mulai baikan, setelah beberapa obat masuk kedalam infusan tadi.


"Nggi, gue gak kuat liat Lo tiap kali anfal pasti kaya gini, Lo pucet, Lo lemah dan yang paling parah Lo kenapa masih bisa ketawa."


Ajeng tertawa menatap temannya yang sedikit lebay ini.

__ADS_1


"Hanggi ketawa biar Lo gak berpikiran macem macem, tapi kenapa Lo seakan gak perduli dengan perasaan Hanggi, seharusnya Lo hibur dia Indah."


"Ndah, awalnya aku sedih, awalnya aku hancur, aku selalu tanya kenapa harus aku, dan setelah aku lalui semuanya aku punya satu kesimpulan, Allah takut aku buat dosa dan sesumbar gak inget sama mati, Allah takut aku gak bisa belajar dan terus tergantung pada pemikiran aku yang keras kepala itu, Allah mau aku mendengar perkataan orang lain, Allah mau aku berbuat lebih untuk hidup aku Ndah."


Aku bangun dari posisi rebahan, aku duduk dengan mengatur selang oksigen yang akan selalu terpasang, karena efek sesak dari tingginya keton dalam darah ku.


"Ndah, Lo percayakan kalau semua yang ada di dunia ini titipan dan sewaktu waktu bakal di ambil semua, dan begitu dengan aku, aku takut besok atau detik ini juga aku mati, sumpah, jadi aku berusaha untuk buat semua orang yang ada di sekitar aku bahagia dan gak khawatir sama keadaan aku."


Indah menatap ku dia mengusap pundak dan menyingkirkan anak rambut ku.


"Belum ada yang bersihin badan Lo ya Nggi, gue bersihin ya???" Ucapnya terbata, sementara aku hanya mengangguk, toh cuma membersihkan dengan saputangan saja kan?


Indah datang membawa wadah berisi air hangat, sabun dan antiseptik, indah menuangkan antiseptik kedalam wadah, dan mulai mengelap wajah ku dengan saputangan basah.


"Biar Hanggi makin cantik, ketemu sama pangeran ganteng kesayangan."


"Yaelah ndah, Hanggi mah banyak pangerannya tapi yang disayang tau yang mana..." Ucap Ajeng semena mena.


Lanjut membersikan tangan ku dengan sabun, mengelap punggung ku dengan sabun dan saputangan tadi.


"Nggi, kata suster ganti baju." Ucap Ajeng mengambil baju dari dalam lemari.


Mereka menggantikan pakaian ku, membersihkan tubuh ku bahkan menyuapiku makan.


"Makasih ya teman-teman ku yang selalu ada buat ku."


"Sama sama jelek." Ucap Ajeng.


Aku bahagia saat melihat mereka bisa memeluk ku seperti ini, belum tentu setelah hari ini aku bisa melihat mereka lagi, aku menyesal tapi aku belajar, belajar pada setiap kesalahan, kejadian, perjalanan dan sebuah pilihan yang mungkin salah ku pilih.

__ADS_1


__ADS_2