
Seperti biasanya, Hanggi membungkus makanan untuk di santapnya saat pemeriksaan nanti, kali ini Hanggi datang di temani oleh Santi, alasannya karena Santi juga ingin memeriksakan kandungannya di rumah sakit besar seperti yang menjadi tempat pemeriksaan Hanggi, namun itu hanya alibi Santi untuk mengetahui seberapa parahnya keadaan sang sahabat.
Beberapa saat Santi mengisi data dan pada akhirnya dia membatalkan pemeriksaan dengan alasan karena dokter yang di rujuknya tidak ada di tempat.
"Yah... Kamu jadi nemenin aku cek up San." Wajah Hanggi berubah menjadi lemas.
"Gak papa Nggi, hitung hitung aku jadi yang nganterin kamu cek up pertama kali selain keluarga kamu."
"Dasar kamu San, oh iya... Mau gak?" Tanya Hanggi menawari sekotak buah segar.
"Mau." Santi mengambil sepotong buah peach yang sedang dimakan Hanggi.
"Ihhh... Santi! Itukan lagi aku makan, masa kamu makan yang itu juga, kan ini masih banyak." Protesnya kesal.
"Kapan lagi aku ngelakuin ini ke kamu, beberapa bulan lagi aku bakal balik kampung dan lahiran disana." Tatap Santi yang khawatir karena dia akan berjauhan dengan sabatnya itu.
"Iya iya."
Akhirnya nama Hanggi di panggil setelah serangkaian cek laboratorium.
"Dokter."
"Duduk Hanggi, ada perubahan yang signifikan?"
Hanggi hanya tersenyum dengan wajah pucat dan pandangan yang mulai tidak fokus.
"Saya usulkan kamu untuk opname beberapa hari, saya takut kamu semakin menurun kondisinya, bagaimana dengan kaki mu?"
__ADS_1
"Masih sering terasa kebas dok, kepala saya juga sering pusing."
"Kamu sama siapa ke sini?"
"Sama teman saya dok."
"Hanggi, hubungi keluarga kamu, saya harus observasi kamu selama 10 hari." Putus sang dokter, melihat wajah Hanggi yang pucat dan kaki yang lemah.
Hanggi keluar ruangan dengan kursi roda, membuat Santi menatapnya sedih.
"San, nanti nyokap sama bokap datang, kamu minta jemput suami kamu aja ya...
Doain aku semoga bisa melewati semuanya."
Santi hanya mengangguk meneteskan air mata, bagaimana tidak wajah pucat Hanggi semakin terlihat saat suster menghapus makeup dan menggantikan baju Hanggi.
Sesampainya di ruangan rawat, Hanggi berbaring dan di pasangkan infusan, begitu banyak cairan yang masuk ke tubuhnya.
Dokter memasangkan alat deteksi detak jantung pada Hanggi semua perawat sibuk mencatat hasil dari pemeriksaan.
"Dokter Arga, berapa lama saya akan bertahan dengan keadaan seperti ini dok?"
"Hanggi, percayakan semuanya pada Allah, selama ini kita sudah melakukan yang terbaik." Ucap sang dokter terlihat begitu dekat dan ramah pada Hanggi.
Hanggi hanya bisa menahan tangisnya agar tidak pecah saat ini juga, dia merasakan sakit yang sangat di kaki dan juga kepalanya.
Ibu dan ayah Hanggi datang menemui Santi yang ternyata belum pulang, dan masih menanti Hanggi di depan pintu ruangan.
__ADS_1
"San, kamu disini?"
"Iya Bu, Santi gak tega kalau tinggalin Hanggi sendiri."
"Gimana keadaan Hanggi Santi?" Tanya ayah Hanggi yang begitu takut melihat alat yang di pasang di tubuh anaknya.
"Santi gak tau pak."
Kemudian dokter Arga keluar memanggil ayah Hanggi, dan Hanggi masih menangis menatap langit-langit.
"Pak, silahkan duduk." Ucap dokter Arga.
"Berapa lama waktu untuk putri saya dok?"
"Bapak, bapak bertanya kepada saya seakan saya Allah yang bisa menentukan segalanya, selama lebih dari delapan tahun saya menangani Hanggi, saya selalu menemukan Hanggi yang kuat dan semangat, tapi kenapa saat ini saya malah menemukan Hanggi yang nampak putus asa?"
"Dok, ada apa?"
"Hanggi tadi berkata pada saya bahwa dia sudah tidak sanggup lagi, dia mau menyerah, dan kali ini nampak jelas dari sorot matanya, selain mengalami pelemahan saraf tepi, rupanya hasil pemeriksaan mengatakan bahwa Hanggi mengalami ketoasidosis, ini yang menyebabkannya susah bernafas dan sulit untuk membuka matanya saat ini."
"Dok, selama ini Hanggi selalu minum obat tepat waktu, dan makanan yang ia makan pun selalu dalam pantauan yang tepat, Hanggi sendiri adalah seorang ahli gizi, mana mungkin dia membahayakan nyawa nya sendiri."
"Tapi ini yang kita dapatkan dari pemeriksaan, gangguan neurotopik dan ketoasidosis, semua terjadi karena asupan insulin pada tubuh Hanggi sudah semakin sedikit dan dosis yang kami berikan sudah kurang, padahal bulan lalu saya sendiri sudah menaikan jumlah unit dari masing-masing dosis."
"Lalu apa yang harus kami lakukan dok?"
"Tinggalkan Hanggi sendiri disini, dia butuh ruang untuk sendiri, kami akan memantau, semoga Hanggi bisa cepat pulih."
__ADS_1
Ucap sang dokter yang kembali keruangan Hanggi, dia melihat perempuan yang usianya nyaris dewasa itu.
"Kamu harus kuat Hanggi, saya ingin melihat pasien saya bisa bahagia." Ucap dokter Arga yang memang selalu mendengar cerita Hanggi apapun itu selama berada di poli beberapa tahun ini.