Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Bab 39 Sebuah Pilihan


__ADS_3

Senyum kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Papa Mirwan. Karena bagaimana tidak, yang tadinya Acha dan Devan tidak ikut Marvel bekerja ke luar kota. Kini mereka akan berangkat bertiga, untuk menyemangati Marvel yang harus segera menyelesaikan proyek mereka di sana.


Dan itu juga untuk menjalin kedekatan antara ketiganya. Tentunya Papa Mirwan sangat berharap hubungan Acha dan Marvel bisa lebih dekat dari sebelum-sebelumnya.


"Kapan kalian akan berangkat?. Kalian sudah menyiapkan hotel atau apartemen yang terdekat dari tempat mu bekerja?. Jangan sampai Acha merasa sendiri atau kamu abaikan!." Tanya Papa Mirwan pada Marvel namun pandangan fokus pada Devan yang sedang digendongnya.


"Sudah Pa, aku sudah menyiapkn semuanya. Baik Acha mau pun Devan tidak akan merasa kesepian. Lokasi ku bekerja pun tidak jauh, jadi sesekali aku bisa membawa mereka." Jawab Marvel melirik Acha.


Sebenarnya Acha belum setuju untuk ikut Marvel ke luar kota karena ini sangat mendadak. Tapi karena tidak ingin mengecewakan Marvel yang sudah banyak berkorban untuk dirinya, Acha pun hanya sanggup menganggukkan kepalanya.


"Siapkan keperluan kalian dengan baik, jangan sampai ada yang tertinggal." Ucap Papa Mirwan pada Acha.


"Iya, Pa." Balas Acha singkat.


Papa Mirwan meminta Acha untuk membawa Devan ke kamar, karena Devan sudah tidur. Lalu Papa Mirwan meninggalkan Marvel yang masih menyiapkan keberangkatan mereka siang ini.

__ADS_1


Usai menggeret koper dan diletakkan di depan pintu, Marvel menyusul Acha ke dalam kamar. Namun sebelum Marvel masuk, dia mengetuk pelan pintu Acha.


"Masuk!." Acha segera merapikan BH nya karena dirinya baru selesai menyusui Devan.


Marvel membuka pintu lalu mendekat Acha dan ikit duduk di tepian tempat tidur.


"Ada lagi yang ingin kamu bawa?."


Acha mengingat beberapa bawaan, kemudian dia menggeleng sebab semuanya sudah masuk ke dalam koper.


Setelah satu jam. Kini Acha, Marvel dan Devan sudah berada di bandara. Papa Mirwan yang mengantar keberangkatan mereka. Tidak ada hentinya Papa Mirwan menciumi Devan sambil anak itu terbangun, namun Acha berhasil membuatnya tertidur kembali.


Setelah kepergian Papa Mirwan, Marvel meminta Acha untuk segera masuk dan menunggunya di sana. Sementara Marvel mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Dan selang sepuluh menit, orang yang ditelepon Marvel sudah berdiri didepannya dengan koper ditangannya.


"Terima kasih, Anna. Kamu sudah mau menerima ajakan saya. Saya pasti akan sangat membutuhkan tenaga mu di sana."

__ADS_1


"Iya, Pak Marvel. Saya senang bisa membantu pekerjaan Pak Marvel." Balas Anna sambil terssnyum malu-malu karena Marvel menatapnya dengan begitu lekat.


"Ayo kita segera masuk, Acha sudah menunggu kita di sana." Marvel membantu Anna menyeret kopernya padahal Anna sudah melarangnya.


Acha mengerutkan dahinya, merasa tidak asing dengan wanita yang berjalan bersama Marvel. Dia merasa pernah melihat wajah cantik itu.


Dan benar saja ketika Marvel memperkenalkan Anna sang sekretarisnya pada Acha.


"Oh iya, Anna. Makanya aku tidak asing dengan wajah cantik mu." Puji Acha pada Anna.


"Ibu Acha bisa saja." Jawab Anna malu-malu.


"Anna akan ikut bersama kita, Cha. Lebih tepatnya dia akan menemani ku." Ucap Marvel sambil menyenggol lengan Acha.


"Lalu kami?. Untuk apa kami ikut kalau kamu sudah memiliki partner?." Ucap Acha merasa heran sendiri.

__ADS_1


"Kamu akan tahu sendiri nanti, Cha!." Marvel mengusap pucuk kepala Acha dengan begitu sayang.


__ADS_2