
Suasana Kitchen tempat Hanggi bekerja mulai ramai, segala macam mesin dari kecil sampai yang besar terus di hidupkan, membuat bising tempat ini.
"Mas Danu, untuk makan malam perlu daging berapa lagi?" Tanya Hanggi yang sedang menyiapkan stok daging sampai 3 hari kedepan.
"Mungin untuk hari ini cuma 5 kg aja Nggi, soalnya gak sampai 100 orangan, itu juga menunya cuma simpel beef goulas doang."
"Okrey, berarti 5 kg aja yah, terus buat besok pagi? Mau pakai sosis?" Hanggi masih terus bertanya supaya tidak salah estimasi.
"Iya sosis aja disitu ada berapa?"
"Ada 25 pck, besok pagi tamu ada 60 prang, ah... 20 pck juga cukup." Jawab Hanggi sendiri.
Lalu Danu sedikit menghadap ke Hanggi dan menyentuh kening Hanggi dengan telunjuknya.
"Kenapa? Gak panas Nggi?" Ucap Danu dengan wajah serius.
"Apaan sih mas, orang aku ngomong sama diri aku sendiri, ye... Ge eR!" Seru Hanggi.
Jam makan siang sudah terlewat kini waktunya sift pagi istirahat di gantikan dengan anak sift siang, berjumlah 3 orang.
"Yang mau break?? Siapa duluan?!" Ucap bang Bima sebagai Junior chef.
"Hanggi aja dulu Bim, sama Ferry, sama Jambul." Ucap mas Danu yang lagi lagi berteriak.
__ADS_1
"Yaudah sana, gantian, gue juga mau ngerokok nih." Ucap bang Bima yang ikut tidak sabaran.
"Yaudah Hanggi break ya... Mas Bima aku bilangin jangan kebanyakan ngerokok." Ucap Hanggi.
"Kenapa emang?"
"Nanti ngutang lagi sama ibu warung, terus uang bulanan istrinya kepotong lagi, terus ngomel² sama aku, nuduh aku deh..."
"Hanggi... Jangan di bongkar!"
"Hahahaha...." Hanggi tertawa lalu ngumpet di belakang Ferry yang tubuhnya jauh lebih besar dari Hanggi.
"Telat bang Bima, lu udah jadi bahan gibahan kita, sejak bini lu yangka Hanggi cabe cabean lu." Ucap Jambul, yang sebenarnya namanya Zulkifli.
Hanggi memakan bekalnya, kemudian minum vitamin dan minum air putih.
Hanggi mendapati ponselnya menerima sebuah pesan dari aplikasi Wa nya.
"Hanggi, Minggu depan mas Raka nikah, undangan untuk kamu ada di aku, kamu mau datang atau ga?"
Pesan wa dari temannya itu membuat Hanggi terlihat ragu, dia menggenggam ponselnya itu.
"Mas Raka mau menikah? Jika ada waktu ishaallah aku sempatkan." Balasnya.
__ADS_1
"Sudahlah Hanggi, yang berlalu biar saja berlalu, toh tujuan kamu waktu itu bukan untuk menjauhkannya dari mu, tapi memang karena kamu ingin yang terbaik buat dia." Ucap Hanggi dalam hatinya.
Kemudian sebuah pesan wa masuk lagi ke ponsel Hanggi, kali ini dari Santi, teman satu kosan Hanggi waktu pelatihan dulu, bedanya Santi waiters sementara Hanggi di khususkan pada bagian kitchen.
"Assalamualaikum Nggi, kamu apa kabar?"
Dengan tersenyum Hanggi membalas pesannya.
"Waalaikum salam, cantik ku... Aku baik gimana kamu?"
"Aku baik Nggi, kamu udah tau kalau Raka mau menikah Minggu depan?"
"Alhamdulillah kalau kamu baik... Aku sudah tau dari Dewi, kamu mau datang San?"
"Buat apa aku datang menemui orang yang paling aku benci?"
"San, jangan membenci dia ya... Toh yang merasakan semua itu aku san." Tulis Hanggi pada pesannya.
"Nggi, kenapa sih kamu gampang banget maafin orang, dia itu secara gak langsung menghina kamu, memutuskan kamu lewat pesan, adalah hal yang gak bisa aku tolerir, dia itu gak pernah tulus sama kamu."
"Nggi, aku yakin suatu saat akan ada pria yang lebih dari dia yang pantas mendapatkan kepercayaan kamu." Terus Santi dalam pesan WhatsApp nya.
"Udah ya San, nanti kalau aku sempat aku akan jemput kamu, kita penuhi undangan yang berbahagia, assalamualaikum."
__ADS_1
Hanggi membereskan seluruh peralatannya dia akan kembali bekerja setelah solat Zuhur.