Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Bab 37 Sebuah Pilihan


__ADS_3

Papa Mirwan menggebrak meja makan sampai makanan berhamburan.


Marvel memberi kode pada Acha untuk masuk ke dalam kamar. Tapi baru saja Acha melangkahkan kakinya, suara keras dari sang Papa berhasil menghentikannya.


"Tetap diam di tempat mu, Acha!."


Marvel segera mendekat pada Acha, karena dia takut jika Papa Mirwan akan menyakitinya.


"Kalian berani membohongi ku?." Tanya Papa Mirwan penuh kemarahan pada Acha dan Marvel.


"Pa, aku bisa menjelaskannya!." Sahut Marvel berusaha mendekati Pak Mirwan. Tapi Pak Mirwan mundur beberapa langkah supaya menjauh dari keduanya.


Papa Mirwan terduduk di kursi, karena tubuhnya merasa lemas dengan perpisahan Acha dan Marvel yang tanpa sepengetahuannya.


"Pa, tolong maaf kan kami!." Ucap Acha sambil menangis, dia sangat bersedih sudah melukai hati papanya.


Acha memeluk erat Devan yang menangis dalam gendongannya.


"Semua ini karena kesalahan ku, Pa. Jangan lampiaskan semuanya pada Marvel. Aku yang bersalah, Pa." Ucap Acha lagi dengan linangan air mata.


"Aku sudah membiarkan anak pria lahir dari rahim mu, bukan berarti kamu akan kembali dengan pria itu lagi." Tutur Papa Mirwan bersedih, dia menyeka sudut matanya.


Acha tidak kuasa menahan sakitnya, ketika Papa Mirwan begitu terluka karena perbuatannya.

__ADS_1


"Pa, aku tidak bisa hadir diantara Acha, Dirga dan Devan." Ucap Marvel terputus, karena Papa Mirwan berdiri dan mengangkat tangannya, dia tidak ingin menerima alasan apa pun dari Marvel atau pun dari Acha.


"Aku akan melupakan kejadian ini, asalkan kalian kembali melangsungkan pernikahan."


"Pa, maaf kan aku, aku tidak bisa untuk menikahi Acha lagi."


"Jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan, aku berikan waktu dua hari pada kalian untuk memikirkan baik buruknya, untung ruginya untuk kalian semua." Setelah mengucapkan itu Papa Mirwan langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.


Acha terduduk lemas, untung saja Devan sudah kembali tenang dan tertidur pulas.


Begitu juga Marvel, dia duduk di sebelah Acha. Dia mencium kening Devan yang masih dalam gendongan Acha.


"Kamu tenang saja, aku akan memastikan kebahagian mu dan Devan." Ucap Marvel.


"Kamu jangan sampai putus asa, kalian pasti akan bahagia."


"Dia tidak pernah datang untuk ku, Marvel."


"Kamu harus percaya, jika Dirga akan datang membawa kalian pergi dan hidup bahagia."


Acha menyandarkan kepalanya pada lengan Marvel dengan isak tangis yang begitu pilu.


Sementara itu, Ruslan mendatangi seseorang yang ingin ditemuinya. Karena keadaan Irish yang sudah sangat kritis.

__ADS_1


"Mungkin anda bisa datang untuk menjenguk Nona Irish. Sebab hanya nama anda yang selalu dipanggilnya." Ucap Ruslan pada pria yang ada didepannya.


"Baik, aku akan datang. Tapi aku tidak ingin ada orang yang mengetahui keberadaan ku."


"Baik, Pak Dirga. Aku akan memastikannya untuk anda." Pungkas Ruslan.


Setelah menemui Dirga, Ruslan harus bisa memastikan keadaan ruang inap Irish kosong di saat Dirga akan datang. Bagaimana pun dia harus tetap menjaga rahasia tentang keberadaan Dirga dari siapa pun.


🍁


🍁


🍁


Dirga memenuhi janjinya untuk datang menjenguk Irish namun tanpa sepengetahuan siapa pun.


"Sayang..." Panggil Dirga di telinga Irish.


Dirga mengecup kening Irish dengan begitu sayang. Dia mengelus lembut pipi Irish yang sedikit tirus.


"Sayang..."


"Papa...Papa...Papa..."

__ADS_1


__ADS_2