Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Eleven


__ADS_3

Perlahan Hanggi membuka pintu kamarnya dan mengambil pakaian dari dalam lemari.


"Nggi, sudah makan?" Tanya ibunya siang itu.


"Sudah Bu, Hanggi mau mandi dulu, setelah itu kita bahas masalah catering tempo hari." Ucap Hanggi sambil mengecas ponselnya.


Ibu Hanggi keluar dari kamar itu di berbarengan dengan Hanggi yang keluar membawa baju ganti.


Setelah mandi dan berpakaian Hanggi melaksanakan solat Zuhur, setelah itu Hanggi memainkan ponselnya dan tidak lupa menyuntikan obat seperti biasanya.


one message from Danu...


Hanggi melihat laporan di layar ponselnya segera membuka pesan itu.


Danu Hd...


Assalamualaikum Hanggi, bagaimana kabar kamu?


Hanggi membalas pesan itu...


"Mungkin tidak papa, jika hanya membalas pesan, toh aku juga tidak memberi harapan untuknya, hanya sekedar antar teman." Bisik Hanggi pada batinnya.


Me...

__ADS_1


Waalaikum salam mas Danu, kabar Hanggi baik, mas Danu sendiri bagaimana?"


Danu HD


Alhamdulillah aku juga baik Nggi, Nggi apakah kamu gak bisa buka sedikit saja celah untuk aku? Jujur Nggi, aku mulai berharap sama kamu.


Hanggi hanya mematung membaca pesan yang Danu kirim, rasanya ingin membalas semua perlakuan baik Danu, tapi nyatanya Hanggi tidak mampu mengambil resiko yang mungkin akan menyakiti Danu di kemudian hari.


Me...


Mohon maaf sebelumnya mas, jika Hanggi bisa Hanggi mau membalas perasaan mas Danu, tapi disini, Hanggi rasa hanya akan ada pertemanan, Hanggi gak akan pernah sanggup untuk menyakiti mas Danu lebih dalam lagi, Hanggi punya seseorang yang sudah menunggu Hanggi, mohon maaf mas, ini keputusan Hanggi, Hanggi berharap mas Danu bisa menghormati dan mencari seseorang yang mampu mengimbangi dan mencintai mas Danu dengan sempurna.


Tangis Hanggi pecah setelah pesan singkat itu terkirim.


"Kenapa rasanya menyakitkan sekali ya Allah, bisakah kau redam sedikit saja rasa sakit ini, aku tidak mau menyakiti orang lain terlalu dalam lagi, tapi aku juga tidak siap dengan segala konsekuensi yang harus ku ambil...


Kemudian Hanggi mengusap air mata yang turun, setelah itu Hanggi mulai bernostalgia dengan sebuah album lama semasa SMP dan SMA.


Dia kembali melihat foto seorang anak laki laki memegang bola basket yang tersenyum, dengan Hanggi kecil yang berada di sebelahnya.


"Radika, kamu kenapa ninggalin aku dengan cara seperti ini..." Hanggi kembali meneteskan air mata pilunya.


Dia membuka lembar demi lembar album foto itu.

__ADS_1


"Juddan, kamu udah bahagiakah dengan keluarga kecil mu? Bagaimana bayinya apakah seorang malaikat atau hanya sampah seperti yang kau katakan dulu, aku ingin sekali bertemu dan berbincang dengan mu, meski semuanya tidak akan sama lagi, tapi aku ingin sekali saja memperbaiki keadaan."


Juddan adalah seorang anak laki-laki yang merupakan sahabat dari Radika, sahabat masa SMP Hanggi, pria yang begitu membuat Hanggi luluh dengan segala yang ia buat, sayang Radika harus pergi tanpa sepengetahuan Hanggi, ada alasan tersendiri yang di pendam Radika dan saat Hanggi tau alasan itu Radika memang sudah tidak berada di dunia lagi, Radika telah meninggalkan Hanggi dengan sebuah video terakhir yang dibuat oleh Radika.


Vidio yang membuat Hanggi sampai saat ini tidak dapat memaafkan dirinya sendiri, video yang membuat Hanggi merasa bersalah dan jatuh cinta pada sosok Radika, Radika pria yang dianggap oleh Hanggi telah menunggunya.


Juddan menghamili seorang teman SMA-nya saat itu Juddan sedang pendekatan menghibur Hanggi yang sedang mencari informasi tentang Radika, Juddan sempat mengungkapkan perasaanya pada Hanggi, tapi semua itu bertepatan dengan pengakuan Marsya yang telah hamil oleh Juddan.


Hanggi kembali dalam sadarnya saat sang ibu mengetuk pintu kamarnya.


"Nggi, kamu tidur?" Tidak ada jawaban dari Hanggi, namun ibunya sekali lagi memanggilnya dan Hanggi menjawab.


"Hanggi mau istirahat sebentar Bu." Jawabnya lalu tidak ada lagi panggilan dari sang ibu.


Di dalam kamar sebenarnya Hanggi masih menangis mengingat kejadian saat Raka, mulai mendekati Hanggi dan Hanggi juga merespon Raka dengan baik.


"Mas Raka, sebenarnya Hanggi seorang penderita Diabetes tipe 1, Hanggi cuma mau mas Raka tau, sebelum semuanya berlanjut, jujur Hanggi mulai tertarik pada mas Raka, tapi Hanggi ragu, mas Raka mau menerima Hanggi atau tidak."


Saat itu Raka hanya diam dan meninggalkan Hanggi begitu saja, Hanggi yang sudah merasa di tolak segera menjaga jarak.


Dua Minggu berlalu, dan akhirnya Raka mengirim pesan.


"Hanggi saya Raka, ini nomer baru saya, sebaiknya jangan menghubungi saya lagi, saya sudah pindah kerja, saya harap saya bisa menemukan perempuan seperti apa yang saya impikan, buat kamu Hanggi lebih baik jangan pernah menaruh perasaan apapun pada pria, kasian jika mereka mengharapkan sesuatu dari mu."

__ADS_1


"Hanggi, untungnya kamu memberi tau saya tentang siapa kamu, jika tidak mungkin saya akan menyesal, tidak ada orang yang mau di ajak menderita di kemudian hari, dan kamu tau dampak dari penyakit kamu itu kan, jadi saya harap kamu jangan mencari atau meminta maaf lagi kepada saya, saya sudah bersama perempuan yang lebih baik."


Suara suara dari masa lalu yang dikirimkan lewat pesan selalu terngiang oleh Hanggi, dan membuat Hanggi menutup diri larut dalam dilema.


__ADS_2