
Taukah kalian bagaimana rasanya mencintai seseorang, dan seseorang itu masih mencintai orang dari masa lalunya, terlebih orang itu adalah cinta pertama adik kalian sendiri.
Entahlah rasanya tidak nyaman menyaksikan pertengkaran mereka dari atas sini, aku masih mendengar dan menyaksikan mereka berdua bertengkar, bagi mama Uta dan Hanggi memang sering bertengkar di rumah ini, tapi ini penampakan yang aneh untuk ku, aku tidak suka pertengkaran.
Hanggi, apa aku bisa masuk mengisi celah kosong di dalam hati mu, tidak, bukan di hati tapi di hidup mu.
Aku tidak akan meminta hati Hanggi sepenuhnya, aku hanya ingin meminta hidupnya saja, kenapa? Karena hati itu bersifat lunak, sementara hidup hanya sesaat, seiring berjalannya waktu jika aku bisa memiliki hidupnya, berarti aku juga bisa masuk kedalam hatinya.
Papa mama ku bercerai karena mereka tidak saling memiliki hidup mereka, mereka hanya terpaku pada perasaan tanpa mau merubah kepemilikan dirinya sendiri, hanya mementingkan hati yang pada dasarnya bisa di ubah.
Hanggi, mulai sekarang aku kan terus mendekati kamu, meski kamu akan menolak aku, tapi aku juga tidak akan memaksa jika memang kamu bisa bahagia dengan orang lain, bukan aku tidak mau berjuang, tapi untuk apa memperjuangkan yang belum tentu menjadi milik kita, Hanggi aku berjanji akan selalu di samping mu, menjadi teman mu seperti Radika, kamu bebas mengutarakan apapun pada ku, dan aku tidak akan menyinggung tentang hubungan.
Hari berlalu saat ini aku sedang menghadapi pembeli mobil ku di rumah, pagi ini aku resmi menjual mobil ku, kalian tau kan untuk apa?
Ya... Pembangunan ruko yang sempat ku bicarakan dengan Deril.
Saat ini kami dalam proses pembangunan, ku harap akan berjalan sesuai rencana.
"Assalamualaikum." Suara perempuan yang khas itu membuat ku berpaling, wajahnya sudah tidak nampak raut kesedihan, ini hari ke 7 semenjak kejadian video itu, selama 6 hari kemarin aku melihat Hanggi nampak murung dan matanya bengkak bahkan tak semangat, tapi kini wajahnya kembali cerah.
"Waalaikum salam." Jawab ku singkat.
"Tante Risda ada di dalam mas?" Tanyanya pada ku.
"Mama ada di dalam." Jawab ku padanya, sebenarnya aku tidak mau terkesan dingin tapi mau bagaimana Hanggi seperti membangun benteng dengan ku.
Aku kembali meneruskan perbincangan dengan seseorang yang akan membeli mobil ku tadi, akhirnya kami sampai pada kesepakatan, aku menyerahkan kunci berserta surat kendaran, dan aku juga menerima selembar cek.
"Terimakasih pak, semoga awet ya." Ucap ku, dan bapak tadi nampak senang menerima mobil itu.
Aku masuk ke dalam rumah dan mama memanggil ku, mau apa mama sekarang? Apakah semalam tidak cukup panjang lebar memarahi anak tampannya ini.
__ADS_1
"Iya ma?" Sahut ku.
"Mama mau pergi dulu sama Hanggi, mungkin pulang malam, dan kemungkinan Hanggi juga akan menginap di sini, kamu gak keberatan kan?"
"Tapi ma?"
"Apa?"
"Emangnya gak akan jadi masalah kalau Hanggi nginap disini?" Jelas ku, Hanggi langsung menatap ku sinis mengobarkan bendera perang.
"Gak papa, nanti mama laporan ke Pak RT, lagi pula nanti Hanggi tidur sama mama kok." Ucap mama sambil menepuk bahu ku.
"Oke terserah mama aja, Aryan disini kan juga cuma numpang, seperti apa kata mama semalam." Jawab ku lalu pergi dari hadapan mereka berdua.
Aku mempertanyakan ini pada mama, berkaca dari kejadian lampau yang menghasilkan Frasya kecil yang menggemaskan, aku dan mama sedikit trauma atas kejadian itu, jadi mama sekarang sedikit berjaga takut takut kecolongan lagi.
Waktu berlalu dengan cepat, mama dan Hanggi sudah pulang dengan diantar taksi online, aku segera mematikan tv aku malas melihat belanjaan yang pastinya punya mama, nanti mama akan memaksa ku untuk menilai belanjaannya.
"Tidur! Ngantuk udah malam." Jawab ku ketus.
"Tumben? Ini baru jam sembilan loh? Biasanya jam dua juga baru masuk kamar." Tegur mama halus.
"Terus kalo Aryan maunya tidur sekarang, gimana?" Jawab ku sambil menutup pintu.
Lama aku berdiam dalam kamar, sebenarnya belum mengantuk, hanya malas saja melihat dua orang itu berbicara seperti tidak ada waktu besok.
Aku melihat jam sekarang pukul 12 malam, sudah tengah malam rupanya, aku keluar dari kamar dan membuka kulkas, rasanya haus.
Aku meneguk air dalam botol kaca, kemudian aku duduk di ruang tv sambil mengambil camilan serta menonton film di internet.
Samar ku dengar pintu kamar mama terbuka, aku melihat Hanggi dengan daster tidur mama, Hanggi mengucek matanya, dia juga tidak memakai kerudungnya.
__ADS_1
"Ngapain bangun jam segini Nggi?" Tanya ku dan Hanggi langsung melotot.
"Hanggi haus, mau minum." Jawabnya lalu pergi ke dapur.
Aku masih fokus pada apa yang aku lihat, seakan tv yang menonton pria mesum melihat wanita seksi.
Ya... Aku fokus pada Hanggi, entahlah dia terlihat lebih menawan dari biasanya.
Hanggi selesai dari minumnya, dan duduk di sebelah ku, dia ikut menonton film itu.
"Jam segini masih ngemil gituan?" Tanyanya yang melihat ku memakan kripik kentang di toples.
"Kenapa? Aku gak diet." Jawab ku.
"Meskipun gak diet, tapi harus jaga kesehatan mas, kasian organ pencernaan mu, harus kerja sampai larut."
Aku menarik nafas dan meletakkan toples itu serta menutupnya.
"Udah kan ibu Hanggi." Senyum ku memaksa.
"Mas Aryan kenapa?"
"Enggak, kamu yang kenapa? Ngeliat aku segitunya." Tanyanya balik.
"Aku cuma bilang gak baik makan di jam segini, kok langsung di taruh, lagi pula aku kan gak ngelarang."
Aku tersenyum dan menatapnya.
"Makasih udah perhatian, kamu gak ngelarang tapi mencegah aku dari pola hidup gak sehat, kamu jauh lebih perhatian."
"Idihhhh... Jangan gitu mas, aku geli dengernya." Ucapnya yang langsung beranjak dan pergi dari sofa.
__ADS_1
Hanggi.... Hanggi... Makin hari makin seru aja di godain😁