Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Twenty


__ADS_3

Aku mengambil buku yang diberikan dokter Arga pada ku, aku sedikit menuliskan apa yang aku rasakan disana.


Aku gak perduli berapa banyak waktu yang aku miliki lagi, aku gak perduli kalian mau menganggap aku apa, tapi yang jelas aku hanyalah milik ku, dunia ini milik ku.


Ya Allah jika aku memiliki kesempatan aku ingin sekali memiliki keluarga kecil yang sederhana, tidak perlu megah dan mewah, aku hanya butuh seorang yang selalu menghibur dan siap untuk berbagi, aku hanya ingin beban di kepala ku hilang, rasa bersalah ini lenyap, aku hanya ingin semua orang melihat ku.


Sudah banyak yang membuat ku terjatuh tanpa bisa menatap lagi, sudah banyak yang ku lalui tapi tak jua menemukan apa yang ku cari, aku ingin meminta maaf padanya atas kesalahan ku yang tidak pernah peka terhadap dirinya, aku ingin kembali mengulang masa yang seharusnya ku lalui dengan penuh bahagia.


Jika tidak penyakit ini dalam hidup ku aku mungkin sudah mengejar segalanya, menjadikan hidup ku lebih berarti, aku tidak perlu merasa kecil, aku tidak perlu menjauh dari orang orang, aku tidak perlu menyalahkan ibu yang sudah mengandung ku.


Dokter Arga, banyak hal yang aku tau dari mu selama kita berkenalan, masa yang aku lewati adalah masa transisi yang sangat sulit, aku tidak bisa menahan segalanya sendiri.


Ini bukan tentang sakit ku, tapi tentang keluarga yang harusnya ikut andil dalam kesembuhan ku.


Saat pertama ayah membawa ku ke rumah sakit dan mengetahui bahwa aku memiliki penyakit yang sama seperti ibu, hati ku hancur, terlebih tidak ada yang menemani dirinya menerima kenyataan ini.


Semua orang seakan menyalahkan ku, aku nyaris gila saat itu, semua perkataan yang harusnya berupa dukungan malah berubah menjadi kecaman, dok aku hanya mau mengucapkan bahwa aku tidak sekuat yang kau katakan, dokter jika dimasa mendatang aku tidak sanggup lagi, aku mohon katakan pada ayah ku, bahwa aku sangat mencintai dirinya.

__ADS_1


Setelah aku selesai dengan tulisan itu dokter Arga masuk kedalam ruang rawat ku.


"Assalamualaikum, bagaimana?" Tanyanya ramah.


"Better." ucap ku santai.


"Okey, kamu sudah boleh pulang, minum obat dengan baik, makan yang baik, istirahat yang cukup, jangan banyak pikiran, dan satu lagi olahraga, tidak perlu berat berjalan saja." Ucapnya sambil menekan Stetoskop pada dada dan perut ku.


"Dokter." Matanya menatap ku, aku memberikan buku itu padanya.


"Sudah selesai menulis?" tanyanya.


"Saya boleh membacanya? Jika tidak lebih baik simpan dengan rapat, saya mau kamu melampiaskan apa yang kamu rasakan disini." Ucapnya sambil mengangkat buku itu.


"Baiklah dok."


"Hanggi, saya percaya kamu pejuang yang baik."

__ADS_1


Kami saling tersenyum dan diakhiri dengan dokter Arga yang mengelus kepala ku.


Ayah merapihkan segala peralatan milik ku, suster pun mencopot jarum infus di tangan ku.


Kami pulang ke rumah dengan keadaan ku yang sudah sehat, sangat sehat malah.


"Bu, dimana Indah?" tanya ku pada ibu yang membantu membawa ku ke kamar.


"Indah ada di dapur, sedang mempersiapkan barang untuk besok." jelas ibu.


"Bu, tolong bilang sama Indah untuk menyiapkan pesanan atas nama Aryan Devaka, menu pesanannya sesuai jadwal, ada di buku catatan biru, pelanggan baru."


"Iya nanti ibu sampaikan, oh ya Nggi, kamu besok mau langsung nganter?"


"iya Bu."


"Aduh Nggi, biar nanti Ajeng aja sama temannya itu yang anter, kamu diam aja istirahat di rumah." pinta ibu tegas.

__ADS_1


"Ya udah Bu, Hanggi mau istirahat dulu ya... capek." ibu hanya mengangguk dan menutup pintu kamar ku, dan aku kembali terpejam setelah suntikan obat tadi di rumah sakit rasanya mata ku sungguh berat.


__ADS_2