
Ketika pagi datang menyapa. Acha merasakan perutnya yang teramat sakit, hingga dia bercucuran keringat sambil mencoba untuk memangil Marvel atau Papa Mirwan.
Tenaga seakan habis terkuras untuk menahan rasa rasa sakit yang luar biasa, dia memaksakan untuk menyeret kakinya supaya bisa mencapai meja makan, karena kedua pria itu terdengar dari arah sana.
Pandangan Papa Mirwan dan Marvel tertuju pada Acha yang berjalan tertatih, hingga kedua pria itu berlari bersaman untuk menangkap Acha yang seperti akan terjatuh.
Kedua tangan mereka datang tepat waktunya untuk menangkap tubuh Acha.
"Perut ku sangat sakit, Pa." Ucap Acha begitu pelan dibarengi dengan ekspresi wajah yang begitu kesakitan.
"Kita langsung saja ke rumah sakit, Pa." Marvel memapah tubuh Acha, sedang kan Papa Mirwan menyiapkan mobil.
Selama dalam perjalanan, Acha tidak pernah lepas dari memegang tangan sang Papa yang dibarengi dengan lelehan air mata.
"Maaf aku, Pa. Aku sudah banyak berbuat salah pada Papa." Ucapnya terbata-bata karena rasa sakit yang masih mendominasi.
"Kamu wanita kuat, Cha. Kamu pasti bisa melewati ini semua. Perjuangan mu untuk melahirkan anak kalian sangat luar biasa. Papa beruntung memiliki Marvel." Balas Papa Mirwan mengecup pucuk kepala Acha. Acha hanya mengangguk dalam dalam diamnya.
Sesampainya di rumah sakit, Acha segera di bawa ke ruang bersalin. Sudah ada beberapa perawat, bidan dan Dokter yang sudah standby.
Semua pengecekan sudah dilakukan, ternyata Acha sudah pembukaan delapan. Hingga team medis harus bekerja dengan cepat dan tepat untuk membantu Acha dalam persalinan normal.
Acha tidak ditemani oleh Marvel atau pun Papa Mirwan di dalam sana, hanya para team medis saja yang menemani sekaligus membantu.
__ADS_1
"Dimana pun kamu berada, aku akan terus berjuang untuk anak kita."
Dalam hitungan ketiga sesuai aba-aba dari sang bidan, Acha mengejan sekuat tenaga untuk mendorong bayi yang sudah memintanya keluar dari rahim Acha.
Hingga suara tangisan bayi pun pecah, memecah kesakitan yang mulai berangsur hilang dari tubuh Acha.
Tangis bahagia Acha membanjiri kedua pipinya, tanpa ada orang terkasih, tercinta selama dalam masa kehamilannya. Namun dia mampu melewati sudah pada tahap ini.
"Kamu lahir karena cinta, karena kami saling mencintai." Ketika kita bayinya bersentuhan dengan kulit tubuhnya.
Acha mengecupnya berkali-kali sebelum akhirnya sang bayi di bawa ke ruangan bayi untuk dibersihkan.
Papa Mirwan dan Marvel bergegas ke ruang bayi untuk melihat dari dekat bayi yang baru dilahirkan Acha.
Lalu Marvel berpamitan pada Papa Mirwan untuk melihat Acha di ruangan VIP yang sudah dipesannya.
"Bagiamana keadaan mu sekarang?."
"Baik, cukup baik."
"Kamu dan Papa sudah melihatnya?."
"Hem, dia sedang tidur."
__ADS_1
Hening mengambil alih diantara keduanya sampai terdengar suara pintu yang terbuka. Ternyata suster yang datang untuk menaruh obat yang harus diminumnya.
"Kamu mau makan?."
"Iya, aku senang lapar sekali."
Marvel membantu Acha mengambilkan nampan yang berisi makanan dan lauk pauknya.
"Kalau kurang aku bisa membelikannya lagi di restauran depan."
"Nanti saja, ini sudah cukup." Tolak Acha sambil mulai menyuap makanannya ke dalam mulut.
Marvel duduk di atas brankar sambil menatap Acha yang sedang makan dengan sangat intens.
Acha yang menyadari hal itu langsung menghentikan makannya lalu memindahkan nampannya lagi.
"Apa boleh aku memeluk mu lagi?."
"Hem...."
Marvel mendekatkan dirinya pada Acha lalu mereka berpelukan.
"Terima kasih sudah menemani ku selama ini, kamu sungguh baik, Marvel." Acha semakin menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Marvel yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.
__ADS_1