
Setelah solat Maghrib aku tidak keluar kamar lagi, aku berusaha menghindari kesedihan ku dengan membaca Alquran, air mata ku seakan tidak berhenti untuk menetes.
"Ya Allah masih adakah harapan dan maaf untuk ku, hamba mu yang begitu jauh melangkah dan melupakan mu." Satu nafas ku tersendat, aku menutup mata dengan kedua tangan ku.
"Ya Allah, apakah aku terlambat mengakui semua kesalahan ku karena menganggap mu tidak adil pada kehidupan ini, mereka semua di beri anugrah bertahan hidup tanpa penyakit di besarkan dengan seorang ibu yang selalu bersama mereka, kemudian mereka mendapat cinta yang begitu besar dari pasangan hidupnya tanpa rasa takut atau apapun, sementara aku selalu berjalan dengan penuh rasa takut, aku tau setiap mahluk mu di bumi ini akan mengalami kematian, tapi mengapa untuk menghadapi itu terlalu banyak hal yang harus aku lalui."
Mukena yang ku kenakan basah oleh air mata dan pecah tangis ku saat ini, pilu dan sesak didalam dada seakan tumpah dalam sebuah curahan.
"Ya Allah apakah keputusan Raka saat itu adalah sebuah pilihan yang tepat? Apakah semua perkataan Raka saat itu adalah benar? Apakah aku hanya akan menyusahkan pasangan ku kelak, apakah aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta siapapun, Ya Allah, jika memang semua yang dikatakan mereka bahwa aku akan susah atau tidak akan memiliki keturunan itu benar, atau bahkan di masa depan aku hanya menjadi beban bagi seseorang yang kau takdirkan bersama dengan ku, maka aku mohon ya Allah, jangan pernah pertemukan aku dengan dia yang menjadi jodoh ku."
"Ya Allah hanya kepada mu aku memohon dengan segala rasa yang ada di hati ku, aku tau kau maha tau yang terbaik untuk ku, aku pasrahkan semuanya pada mu, ya Allah izinkan aku membuktikan dan meredam segala rasa takut ku, keraskan hati ini ya Allah."
Azan isya berkumandang, kembali aku berdiri dan menjalankan kewajiban, kembali berdoa dan menumpahkan air mata, kala mengingat perkataan mereka yang mengiris hati ku.
Saat kantuk sudah menyerang aku terpasrah untuk memejamkan mata, menunggu kembali azan berkumandang.
Pagi² sekali aku sudah mengunjungi dapur melihat Indah dan Ajeng yang menyiapkan pesanan catering, aku sibuk menakar jumlah makanan dengan timbangan kedalam tempat makanan.
"Gimana Jeng, sudah selesai?" Tanya ku pada Ajeng yang sedang memotong sayuran untuk salad.
"Sebentar lagi Nggi, oh ya... Nanti aku akan antar sekitar 10 paket makanan, sisanya kamu dan pak Bahar, biar Indah yang bantu ibu buat beresin dapur, nanti sore bahan dari pasar datang semua." Jelas Ajeng pada ku, sebenarnya Ajeng yang bertugas untuk kedatangan barang dan pemesanan, ibu hanya membantu pembukuan.
"Sip, oh ya... Bu mana buku yang kemarin mau di titip ke Tante Diana?" Ujar ku pada ibu.
"Ini bukunya, pikirkan lagi ya Nggi." Aku hanya tersenyum mengabaikan perkataan ibu.
Aku membawa keranjang yang berisikan paket² makanan, aku mengantar satu persatu menuju tempat penerima.
Sampai akhirnya aku berada di tempat ini, tempat yang tidak begitu asing untuk ku, hati ku terus bertanya tentang siapa sebenarnya penerima paket ini.
Aku memencet bel dan mengucap salam.
__ADS_1
"Iya tunggu sebentar." Suara perempuan yang begitu khas, suara seseorang yang dulu begitu dekat sampai tak berjarak dengan ku, seorang yang ku anggap ibu.
Cklek... Pintu pun di buka, mata kami saling bertatap, ada keterkejutan dalam tatapannya, aku berusaha untuk menetralkan setiap rasa senang ku pada akhirnya dapat kembali melihatnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Hanggi?" Suara itu begitu lemah dan mendamba, wanita itu memeluk ku, dia menahan buliran air mata yang sebentar lagi akan jatuh.
"Tante Risda... Apa kabar Tante?" Dia melepas pelukannya dan menatap ku lekat.
"Tante baik sayang, kamu bagaimana? Apa yang membawa mu berkunjung kemari?"
"Hanggi hanya mengantarkan pesanan dan mengantarnya ke sini."
Tante Risda mengambil kotak yang aku berikan.
"Aryan yang memesannya?"
"Iya mas Aryan yang memesannya, katanya untuk mamanya, Tante?"
"Masuk dulu Nggi, kita baru saja bertemu banyak hal yang harus kita bahas, Tante kangen." Ucapnya, kemudian aku mengikutinya masuk kedalam, dia menghidangkan teh dan juga maccaron, membuat hati ku kembali menghangat.
"Nggi, kamu pasti gak kenal Aryan ya?"
Aku hanya menggeleng, memang benar aku bahkan tidak pernah melihat dia berada di rumah ini.
"Aryan itu masnya Uta, pantas saja kamu gak kenal, orang Aryan aja baru dua tahun terakhir gabung lagi sama kita, sejak SMA dia tinggal dengan Omanya di Batam."
Sekarang aku ingat, seorang kakak yang membentak adiknya lewat telepon pasca kejadian lampau itu.
"Lo Gila! Lo gak mau tanggung jawab! Bukan hanya Lo ngancurin perempuan itu, bukan hanya dia! Tapi keluarganya dan keluarga kita!"
"Keluarga kita memang sudah hancur! Gak ada lagi yang perlu di buat malu sama kejadian ini, dan gue juga gak yakin kalo itu anak gue!"
__ADS_1
Juddan terlihat marah kala itu, panggilan seorang lewat telepon yang di speaker itu membuat ku percaya jika Juddan akan bertanggung jawab.
Ingatan ku berhenti saat Tante Risda kembali bercerita.
"Em... Maaf ya Nggi seharusnya Tante gak buka suara tentang Aryan, tapi kelihatannya kamu kenal dengan Aryan?"
"Sebenarnya tidak begitu kenal Tante, awalnya hanya karena debit card ku tertinggal di Maroon cafe, dan saat itu mas Aryan yang menghubungi saya dan mengembalikannya, kami sempat bertemu di bank dan sedikit berbincang, hanya sekedar itu Tante." Jawab ku jujur.
"Oh ya Nggi, kamu buka Catering?"
"Iya Tante, baru catering kecil kecilan." Jawab ku lagi.
"Seandainya Marsya bisa seperti kamu, mungkin mereka gak akan pernah bertengkar."
Aku terhentak saat Tante Risda mengucap nama Marsya, aku tau Marsya adalah nama wanita yang di hamili Juddan saat itu.
"Maaf Nggi, Tante bukan mau buka aib mereka tapi Tante gak punya tempat curhat saat ini, anggap saja ini keluh kesah Tante."
"Tante, Tante punya Allah untuk menceritakan semuanya, Hanggi gak mau denger aib rumah tangga orang." Ucap ku menghentikan pembicaraan ini.
"Nggi, kenapa gak kamu aja yang jadi bagian keluarga kami? Tante gak tahan kalau cucu Tante jadi korban dari keserakahan mereka."
"Tante, apa yang pergi akan segera di ganti, dan apa yang bukan milik Tante tidak akan pernah terjadi, oh ya Tan, Hanggi rasa sudah waktunya Hanggi pulang kalau ada waktu Hanggi nanti main lagi kesini untuk nemenin Tante."
"Ya sudah kalau masih ada yang perlu di urus, tapi janji akan main lagi ke sini."
"Hanggi janji, assalamualaikum."
"Waalaikum salam sayang, hati hati."
Aku segera melangkah keluar menuju motor ku dan pergi tanpa melihat ke belakang, ini adalah kejutan untuk hari ini, ya Allah aku percaya rencana mu indah.
__ADS_1