Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan
Bab 34 Sebuah Pilihan


__ADS_3

Pemandangan Acha dan Marvel yang saling berpelukan, tidak luput dari pandangan seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya, Raisa.


Ya, Raisa sedang sudah sembuh dari komanya. Dan sekarang dia berada di sana karena Irish sedang sakit dan mendapatkan perawatan di ruang anak.


"Rupanya kamu sudah bahagia bersama Marvel. Tidak seperti aku dan Dirga yang malah harus berakhir. Dan Dirga juga pergi entah kemana."


Raisa segera pergi sana meninggalkan Acha yang masih berpelukan dengan Marvel.


Tiga hari sudah Acha dan putra kesayangannya yang di beri nama Devan Prawira berada di rumah sakit. Kini saatnya mereka sudah diperbolehkan pulang. Dan Marvel yang akan menjemput mereka.


Marvel segera menyelesaikan pekerjaan karena dua jam lagi dia akan menjemput Acha dan bayi Devan.


Dua jam sudah berlalu, tapi rupanya pekerjaan Marvel belum juga selesai. Sehingga mau tidak mau dia menyerahkan sisanya pada Anna.


"Anna, keruangan saya!." Panggil Marvel dari sambungan pesawat telepon.


Anna segera bergegas ke ruangan Marvel tanpa menjawab apa pun karena Marvel sudah memutus panggilannya.


"Hanya ada beberapa yang belum saya pindahkan ke laptop. Kamu lanjutkan ya, kalau belum selesai juga, kamu beri tanda saja biar besok bisa dilanjutkan."


"Baik, Pak Marvel."

__ADS_1


Marvel segera meninggalkan ruangannya setelah memberikan instruksi pada sekretarisnya.


Anna menatap layar laptop milik Marvel yang dipenuhi dengan wajah cantik Acha.


Anna menarik nafas lalu menghembuskan perlahan, lalu dia kembali melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan oleh Marvel.


Mobil Marvel yang sudah terparkir di lobby rumah sakit sudah dipenuhi oleh barang Acha dan Devan. Semua adminstrasi sudah selesai, maka mereka bisa pulang dengan cepat.


"Papa di kantor?." Tanya Acha ketika mereka sudah ada di mobil dalam perjalanan pulang.


"Tidak, Papa lagi ke kantor Pak Rama."


Marvel mengangkat bahunya, karena dia memang tidak mengetahui ada keperluan apa menemui Pak Rama, yang merupakan papa nya Dirga.


Acha memegang kuat ujung kain gendongan bayi Devan. Perasaanya jadi tidak menentu di tambah lagi *********** yang terasa nyeri karena sedikit bengkak.


Tapi untungnya Devan begitu anteng dalam gendongannya.


"Kamu kenapa?." Marvel mendengar Acha meringis.


"Tidak." Acha tetap fokus pada jalanan yang ada didepannya.

__ADS_1


Sampai di rumah, Acha turun sambil menenteng tas kecil perlengkapan Devan.


Acha segera menidurkan Devan, dia langsung saja memeras susunya dan di masukkan dalam botol.


Dari arah luar kamarnya, Marvel berbicara cukup kencang memanggil Acha tapi tidak sampai menganggu tidurnya Devan.


"Cha, makanannya sudah siap."


"Iya, sebentar lagi aku keluar." Acha segera merapikan semua botol dan dimasukannya ke dalam kulkas.


Marvel menatap Acha yang baru saja keluar dari kamar dan sedang berjalan mendekat kearahnya. Perasaan yang tidak mudah untuk dihilangkan begitu saja, meski dia sudah berusaha mencobanya.


"Banyak banget makanannya." Acha sampai menelan ludahnya dengan semua makanan kesukaannya.


"Sengaja, biar kamu makan yang banyak. Karena Devan perlu menyusu pada mu." Marvel menyodorkan piring pada Acha lalu Acha menerimanya.


"Kamu tidak makan?." Acha melihat Marvel yang hanya diam saja.


"Kamu saja yang makan. Aku masih kenyang." Tolak Marvel, dia sudah kenyang asalkan bisa melihat Acha yang semakin cantik dengan aura keibuannya.


Tanpa banyak bicara lagi, Acha segera melahap makanannya dengan sangat lahap. Dia begitu menikmati setiap suapannya.

__ADS_1


__ADS_2