
Tidak ada satupun orang yang menginginkan kekurangan.
Tidak ada satu orangpun yang menginginkan kelemahan.
Hati manusia tercipta lunak,
Hati manusia diciptakan rapuh.
Menjadi seorang yang terlihat kuat, selalu tersenyum dan berusaha untuk tidak perduli dengan semua omong kosong dan kelemahan diri bukanlah hal yang mudah, semua harus dijalani dengan hati yang kuat, dengan pikiran yang positif.
Seorang gadis berpakaian tertutup berjalan mengarungi lorong rumah sakit, dengan langkah pasti, mengenakan masker yang menutup wajah manisnya, dia memasuki bilik kecil yang merupakan tempat pengambilan sampel darah.
"Nona Hanggi Agatha Rusdi, sudah berpuasa sejak jam berapa?" Tanya seorang perawat wanita yang mulai mengoles kapas berisi alkohol ke lengan wanita yang mengenakan hijab putih di depannya.
"Sejak jam 9 malam sus." Jelasnya.
"Baik kita ambil sampel yang pertama ya, nanti setelah ini makan, minum obat dua jam kemudian kembali dan ambil sampel lagi."
Kemudian cairan merah yang sedikit tua itu mengisi tabung pipet suntikan itu.
Hanggi berjalan menuju kantin untuk memakan makanan yang ia bawa dari rumah.
Ponselnya berdering Hanggi segera menjawab telpon itu.
"Assalamualaikum Bu, ada apa?"
"Ngi, kamu sudah ambil darah?"
"Sudah Bu, ada apa?"
"Ibu mau ke tempat sepupu mu Ranti, nanti kalau sudah selesai jemput Ibu ya."
"Baik Bu." Ucap Hanggi.
Jam berlalu kemudian Hanggi kembali mengambil sampel darah keduanya.
__ADS_1
Beberapa menit menunggu akhirnya dia mendapatkan hasil dari laboratorium.
Melihat hasil yang tertera dengan skala angka yang terdapat pada kertas berdasarkan hasil rujukan, Hanggi menahan tangisnya, padahal air mata sudah berada tepat di pelupuk matanya.
"Tidak apa Hanggi, kamu kuat, lewati semua ini seakan semuanya hanya angin yang lewat, semangat!" Tuturnya dalam hati.
Selang setengah jam ia menunggu, namanya pun di panggil oleh perawat dari ruang dokter.
"Nona Hanggi Agatha Rusdi."
Hanggi masuk keruangan sambil tersenyum pada dokter dan perawat itu.
"Bagaimana Hanggi keadaan mu?" Tanya pria paruh baya kira kira usianya sudah 50 tahun lebih.
"Seperti biasa dokter Arga." Ucapnya tulus.
Dokter Arga hanya bisa tersenyum dan membuat wajah meyakinkan pada Hanggi. Dokter melihat berkas Hanggi kemudian melihat hasil laboratorium Hanggi.
"Ini tahun ke delapan kamu menjalani pengobatan dan terapi di rumah sakit ini, dan bersama saya kamu melewati semuanya dengan baik."
"Hanggi, saya dan rekan hanya bisa mencegah tapi yang mengobati dan memutuskan adalah Allah, Hanggi saya berharap bulan besok kamu sudah bisa stabil, saya akan berikan resep obat yang sama seperti kemarin, ingat untuk makan dan minum obat tepat waktu, semangat."
Kemudian Hanggi berjalan menuju apotek dia menebus obat yang diresepkan tadi.
Sang dokter yang tadi memeriksa Hanggi sedang bicara dengan perawat yang ada di ruangannya tadi.
"Anak itu memang selalu punya hal yang tidak terduga, saya harap bulan depan akan ada kemajuan, kalau tidak terpaksa kita harus ambil tindakan perawatan."
"Dok, sudah delapan tahun, jika kadar gula darah pada Hanggi terus seperti itu, dan kondisi fisiknya semakin tidak bagus, saya takut..."
"Hanggi bisa, saya yakin, bahkan saat dia koma waktu masih sekolah, dia mampu melewatinya, baiklah sus saya mau memeriksa pasien yang lain di ruangan."
Hanggi memacu motor maticnya, dia benar benar memikirkan tentang penurunan kesehatannya, tapi tetap saja dia harus tersenyum demi ibu dan ayahnya.
Hanggi menjemput ibunya di rumah sepupunya, sepupu Hanggi sudah memiliki keluarga, dengan seorang anak yang hadir ditengahnya.
__ADS_1
"Kak Ranti..." Hanggi berteriak memeluk sepupunya itu.
"Hanggi, ya Allah cantik sekali kamu, lama tidak bertemu." Ucap Ranti yang baru saja melahirkan seorang anak di Minggu kemarin.
"Maaf ya kak baru bisa datang, Hanggi sibuk urus pekerjaan, emang berapa lama kita gak ketemu?" Tanya Hanggi.
"Kayanya terakhir ketemu waktu kamu lulus SMA deh???"
"Wah berarti sudah sekitar 5 tahunan dong?"
"Lah iya... Gimana anak ku tampan ya??" Tanya Ranti, Hanggi hanya tersenyum dengan menawan padahal dalam hatinya dia begitu miris bertanya, "Apakah aku bisa membentuk keluarga sebahagia ini?"
"Hei, malah ngelamun, ayo makan dulu." Ucap Ranti.
Cukup lama mereka berbincang dan terkadang menyinggung tentang masalah cinta.
"Gimana sudah ada calon?" Tanya ibunya Ranti.
"Calon bude? Hehehe... Hanggi masih fokus kerja." Alihnya.
"Kenapa memangnya, ponakan bude gak jelek jelek banget kok? Kamu aja mungkin yang menutup diri Ngi."
"Entahlah bude, nanti kalau sudah waktunya Allah pasti akan berikan, dan kalo gak di beri juga, berarti Allah siapkan Hanggi pangeran di surga." Ucap Hanggi di barengi tawa dari bude dan Ranti.
Hari sudah sore dan Hanggi bersama ibunya kembali ke rumah, disambut oleh sang ayah yang sudah duduk manis sambil minum kopi, ayah Hanggi seorang pensiunan polisi, dan dia sekarang membuka toko sembako di pasar.
"Ayah udah makan?" Tanya sang ibu.
"Udah, makan angin tadi."
Hanggi hanya tersenyum mendengar jawaban ayahnya yang ngambek dengan ibunya.
"Yaudah yah.. Hanggi kedalam ya..."
Sang ayah hanya mengangguk dan mendiamkan sang ibu yang juga mengikuti langkah Hanggi.
__ADS_1