SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM

SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM
Episode 11. Pertolongan Dewi Bumi.


__ADS_3

Malam ini begitu sunyi, di dalam kepalaku hanyalah memikirkan tentang tantangan dari putri mahkota. Entah mengapa aku merasakan kegelisahan yang begitu sangat dahsyat, di saat semua orang telah terlelap aku masih duduk termenung memikirkan apa yang harus aku lakukan. Angin berhembus seraya menusuk kulitku, terasa dingin menyayat tubuhku. Pikiranku melayang tak tentu arah, akupun mencoba berjalan ke teras rumah. Barangkali dengan menyendiri dapat membuat aku sedikit tenang.


Dari kejauhan terlihat cahaya yang begitu menyilaukan, aku berjalan mendekati cahaya itu. Aku terpaku melihat cahaya indah, terlihat satu sosok di hadapanku saat ini.


"Kamu siapa? Ada perlu apa, kamu menghampiriku?" Tanyaku kepada sosok wanita yang amat sangat cantik. Sepertinya dia bukan manusia, aku terus memandanginya seraya aku terkesima melihat wujudnya yang begitu cantik.


"Yuka, janganlah kamu bersedih. Perkenalkan aku adalah Dewi Bumi, tidak selayaknya kamu termenung sendirian. Sepertinya kamu sedang dirundung kegelisahan." Ucap Dewi Bumi saat ini.


"Apakah aku tidak bermimpi? Benarkah kamu Dewi Bumi?" Tanyaku seolah aku ingin meyakinkan bahwa di hadapanku adalah sesosok Dewi Bumi. Sosok itu pun tersenyum kepadaku, tubuhnya dipenuhi kilauan yang begitu indah.


"Yuka, kamu adalah orang yang terpilih untuk kutemui. Semasa hidupmu penuh dengan kesedihan, tidak jarang teman sebayamu mengejekmu karena miskin. Itu bukan suatu masalah, Yuka. Aku tahu apa yang membuatmu gelisah, kamu takut untuk menghadapi Suzuka?" Tanya Dewi Bumi kepadaku.


"Benar, Dewi. Aku sangat takut, bagaimana bisa aku melawan seorang putri mahkota? apa yang bisa aku lakukan? lagi pula aku tidak ingin memiliki musuh, aku benar-benar takut. Sampai detik ini aku bingung dengan kesalahanku, kenapa putri mahkota sangat ingin menyerangku." Tanyaku kepada Dewi Bumi, air mataku menetes tanpa aku sadari.


"Yuka, kamu adalah takdir baik. Kedatanganku ke sini untuk merubah nasibmu, banyak hal yang tidak kamu ketahui akan tetapi belum saatnya kamu tahu. Jalanilah prosesnya, sehingga kebahagiaan itu benar-benar kamu miliki. Aku hanya ingin memberikan perlindungan kepadamu, seraya Aku tidak ingin kamu terluka. Terimalah ini, Yuka." Ucap Dewi Bumi dengan memberikan sesuatu kepadaku.


Aku pun meraih pemberian darinya lalu aku coba melihatnya. Ternyata Ini adalah sebuah tongkat!


"Dewi, untuk apakah tongkat ini? Yang aku ketahui dalam pertempuran biasanya menggunakan sebilah pedang, akan tetapi mengapa engkau memberikanku tongkat?" Tanyaku keheranan kepada Dewi bumi saat ini.

__ADS_1


"Yuka, nanti kamu akan mengerti saat pertarungan itu dimulai. Lembah hitam adalah tempat berbahaya, tidak ada yang tahu fenomena alam yang akan terjadi. Kamu akan terjaga dengan adanya tongkat ini. Begitu banyak tragedi yang akan membuatmu terkejut, kamu pun tidak akan mempercayainya saat kamu menerima takdir kebahagiaanmu. Takdirmu menjadi anak yang sangat bahagia, akan tetapi hidupmu menderita akibat tingkah ibumu sendiri. Ingat satu pesanku, jangan pernah kamu membenci ibumu, sejahat apapun dia kepadamu dia wanita yang melahirkanmu." Ucap Dewi Bumi dengan mengelus kepalaku.


"Baik, Dewi. Apakah aku masih memiliki Ibu?" Tanyaku dengan rasa yang sungguh penasaran.


"Yuka, ayah ibumu masih hidup. Suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan mereka. Tetapi ingatlah pesan pentingku, satu-satunya orang yang bisa kamu percayai hanyalah Pangeran Kenzi. Kenzi adalah sosok pemuda yang sangat tulus menjagamu, apapun yang ia sarankan lebih baik lakukanlah karena dia akan memberikan yang terbaik untukmu." Seru di bumi memaparkan apa yang harus aku lakukan.


"Baiklah, Dewi. Aku akan mengikuti apa yang engkau sarankan, akan tetapi rasa takut ini tidak bisa aku tutupi. Aku tidak memiliki keahlian dalam bertempur, sepanjang hidupku aku tidak pernah ikut bela diri." Ucapku kepada Dewi Bumi.


"Yuka, anak yang cantik. Takdir baik akan segera menghampirimu, tunggu saja waktunya. Semua yang kamu lakukan akan mendapatkan jalan yang begitu mulus, kamu akan mendapatkan kekuatan dan juga keahlian dalam bertempur. Percayalah kepadaku dan ikuti perintahku." Sahut Dewi Bumi dengan tersenyum indah seraya memancarkan kenyamanan di dalam hatiku.


"Baiklah, Dewi. Terima kasih banyak."


"Satu-satunya orang yang bisa kamu percayai adalah Dewi Bumi, selebihnya jangan kamu ceritakan kepada siapapun termasuk kepada nenekmu. Nenekmu ada hubungannya dengan kejadian di masa lampau, hanya Kenzie dan kamu satu pasang insan korban keegoisan orang tua." Ucapnya seraya memberi petunjuk kepadaku saat ini.


"Baiklah, Dewi. Aku tidak akan berbicara pada siapapun, terkecuali kepada Kenzie. Terima kasih atas tongkatnya lalu bagaimana cara menggunakan tongkat ini?" Tanya ku kepada Dewi Bumi.


"Saat pertempuran nanti, kamu akan mengetahui apa ke istimewaan tongkat itu. Jika kamu dalam keadaan terdesak, kamu dapat menggunakanya. 3 kali kamu sentuhkan ke atas tanah, maka keajaiban akan muncul melindungimu." Ujar Dewi Bumi dengan begitu menenangkan hatiku.


"Terima kasih banyak, Dewi Bumi. Entah bagaimana lagi aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu, tanpa dipinta engkau hadir di hadapanku bahkan melindungiku saat ini. Aku akan terus berjuang demi mendapatkan takdir baikku. Aku pun kembali termenung, terpaku melihat tongkat indah ini. Seolah aku terbawa dalam suasana hati yang begitu sendu. Saat aku menoleh, ternyata Dewi Bumi telah hilang dari dapanku. Sepertinya Dewi bumi telah pergi saat ini, aku pun kembali duduk di teras rumah.

__ADS_1


Tongkat ini berwarna emas, akupun semang menerima tongkat pemberian Dewi Bumi. Aku harus segera menyimpannya baik-baik, aku bergegas ke kamar lalu aku simpan tongkat ini di dalam sebuah peti kayu. Sontak aku pun terkejut saat aku mendengar suara nenek, aku pun segera menyembunyikan peti ini di bawah ranjangku.


"Yuka, kamu belum tidur?" Tanya nenek saat ini.


Belum, nek. Aku tidak bisa tidur, pikiranku tak karuan. Aku terus memikirkan tentang tantangan dari putri Suzuka. Bagaimana bisa aku bertempur? sedangkan aku pun tidak memiliki keahlian dalam bela diri. Rasa takut ini terus menggerogoti jiwaku, terlebih saat Putri Suzuka mengucapkan arena bertarung kita nanti." Ucapku dengan ketakutan.


"Yuka, memang Putri Suzuka meminta bertarung di mana?" Tanya nenek dengan keheranan, dahinya dia kerutkan. Sepertinya nenek sedang berpikir dengan ucapanku saat ini.


"Iya, Nek. Putri Suzuka mengajakku bertempur di Lembah hitam." Ucapku dengan terbata-bata.


"Apa....? Lembah hitam? Sudah gila putri itu. Mana mungkin anak seusia mu bertarung di Lembah hitam? Lembah itu sangat berbahaya, tidak ada satu orang pun yang selamat jika telah bertempur di sana. Ini akan membahayakan nyawamu dan juga nyawa putri Sizuka. Sebaiknya kamu menolaknya, jangan pernah kamu bertempur di arena yang sangat berbahaya itu." Ucap nenek dengan tegas saat ini.


"Nek, tetapi aku tidak bisa menolak. Dia mendesaku, saat bulan purnama kedua datang aku harus bertempur. Mau tidak mau aku harus melakukanya. Tadi pagi Putri Suzuka menyambangi kediaman kita, berulang kali aku diperingatkan olehnya bahkan tubuhku didorong hingga terjatuh ke tanah. Untung saja ada Kenzi yang menolong ku saat itu." Ucapku menjelaskan tentang apa yang terjadi.


"Mengapa kamu baru bilang sekarang, nak?" Ucap nenek dengan rasa kekhawatiran tinggi.


"Aku bingung harus bercerita dimulai dari mana? Aku takut, nek. Itulah sebabnya aku tidak bisa tertidur pulas malam ini. Sepertinya aku harus berlatih!" Ucapku menjelaskan kepada nenek.


"Tidak mungkin kamu menang, sekuat apapun kamu berlatih kamu tidak akan bisa mengalahkan Putri Suzuka. Seorang putri mahkota telah dilatih dari usia belia, sedang kamu tidak memiliki dasar teknik pertempuran." Ucap nenek kepadaku.

__ADS_1


"Sudahlah, nek. Aku tidak mau terlalu berat berpikir, lebih baik aku paksakan untuk istirahat. Kita lanjutkan besok untuk pembicaraan malam ini." Aku pun segera berlalu meninggalkan nenek dan menaiki ranjang tidurku. Dengan rasa yang begitu takut, aku pun mulai memejamkan mata sehingga aku terlelap dengan sendirinya.


__ADS_2