
Setelah kami melintasi perjalanan yang sangat panjang, akhirnya kami semua sampai di lorong keadilan. Lorong ini jauh dari apa yang aku bayangkan, terlihat keadaan yang sangat mencekam saat kami tiba di lorong ini.
Lorong ini seperti gua yang sangat panjang, terdapat ada 4 lorong disini. Kami-pun berinistiatif untuk istirahat sebentar sebelum melintasi lorong yang panjang ini. Senja telah tiba, kami-pun singgah di gubuk yang berada tepat di samping lorong.
"Kaisar Suji, apakah kita akan menerobos malam untuk melintasi lorong keadilan?" Ucapku kepada Kaisar Suji.
"Lebih baik, kita bermalam di gubuk ini." Sahutnya kepadaku.
"Ayah.. Jadi kita semua bermalam disini?" Tanya Kenzi kepada ayahnya.
"Iya, nak. Sebelum kita melintasi lorong panjang-nan gelap ini. Sebaiknya kita lihat situasi pada pagi hari. Kita rencanakan strategi agar kita selamat sampai di ujung lorong ini." Sahut Kaisar Suji kepada Kenzi.
"Pelatih, coba kamu lihat dalam buku panduan." Ucap kaisar seraya memerintah kepada Pelatih Kerajaan Suji.
"Baik, kaisar. Aku akan membuka langkah dalam buku panduan inti." Sahut guru pelatih.
Akhirnya pelatih-pun mebuka buku kitab panduan inti, lembar perlembar dia buka. Kami menunggu arahan dari pelatih saat ini.
"Dalam buku panduan ini, dijelaskan bahwa di lorong keadilan terdapat beberapa rintangan. Rintangan itu hanya bisa dilalui, oleh seseorang yang berjiwa adil. Disana juga terdapat beberapa siluman, bahkan tipu muslihat memperangkap kita agar melewati jalan yang salah." Sahut penuturan dari pelatih kerajaan saat ini.
"Sekarang aku paham, bagaimana caranya agar kita lolos dalam lorong keadilan. Lorong itu terbagi 4 dan kita harus melintasi, lorong itu dengan sempurna. Sepertinya lorong itu berbentuk labirin, kalian harus bisa mengambil pertimbangan untuk memutuskan arah yang akan kita pilih. Kita harus menggunakan insting dan juga kebijaksanaan dalam memutuskan sesuatu." Ucap Kaisar Suji kepada kami semua.
"Hilangkan rasa ego dalam diri. Sepertinya itu adalah kuncinya, ayah." Sahut dari kesatria berhati emas.
__ADS_1
"Aku sangat yakin sekali. Jika kita dapat melewati lorong keadilan, akan tetapi ini bukan hal yang mudah kalian harus bisa membedakan mana bisikan iblis dan kata hati kalian masing-masing." Sahut Kaisar Suji, seraya memberikan arahan kepada kita semua.
"Jadi, kita tidak boleh asal memilih untuk menentukan arah yang kita tuju. Benarkah seperti itu, Kaisar Suji?" Tanyaku kepada Kaisar Suji saat ini. Tidak lama kemudian terdengar suara Kaisar Suji, menyahuti ucapan aku saat ini.
"Benar sekali, kesatria murni. Kamu memiliki kelebihan dalam hal ini. Kamu adalah seorang kesatria yang memiliki keteguhan hati dan juga kesabaran dalam menjalani sesuatu. Kamu bisa pergunakan hal itu untuk memilih jalan keluar di dalam lorong keadilan. Sedangkan kamu Kesatria berhati emas, kamu bisa mengandalkan kata hatimu saat kamu melintasi lorong keadilan. Itu adalah hal yang tepat dalam memutuskan segala sesuatu keputusan dan terakhir untuk pelatih, kamu memiliki insting yang kuat dan juga bisa memilih jalan keluar." Sambung ucapan dari Kaisar Suji.
"Baiklah, jika seperti itu Kaisar Suji. Kita harus segera beristirahat karena besok kita akan membutuhkan stamina yang sangat kuat. Perlintasan ke lorong keadilan, akan membuat kita kelelahan." Ucap pelatih saat ini seraya memperingatkan kami utuk segera istirahat.
"Mari istirahat, selamat tidur." Ucapku kepada semua orang.
Tidak lama kemudian, kami-pun terlelap seketika.
Zzz zzzz zzzzz.
Pagi hari aku bangun paling awal, kulihat gubuk yang kami singgahi telah menghilang. Apakah ini pertanda bahwa kami harus segera melakukan perlintasan ke lorong keadilan. Aku menoleh ke arah Kenzi, ternyata dia masih tidur pulas saat ini. Bagaimana caranya aku bisa membangunkan Kaisar suci dan juga pelatih? Aku segan untuk membangunkannya sendiri, akhirnya aku beranikan diri untuk menghampiri Pangeran Kenzi saat ini.
Aku membelai pipinya lalu ku sebut namanya saat ini. Seraya aku membangunkannya, agar dia bangkit dari tidur.
"Pangeran Kenzi, bangunlah. Hari sudah mulai pagi." Ucapku kepada Pangeran Kenzi saat ini. Aku menyentuh tubuhnya, kulihat sepertinya dia kelelahan sehingga dia tidak mendengar apa yang aku ucapkan. Kali ini aku harus membangunkannya dengan nada sedikit keras, agar dia mendengar ucapanku.
"Pangeran Kenzi, lekaslah bangun. Hari sudah mulai pagi, apakah kamu tidak ingin melanjutkan misi kita?" Ucapku yang kedua kali, terlihat dia pun menggerakkan tubuhnya lalu akhirnya dia membukakan mata.
"Oh, iya Yuka. Hari sudah mulai pagi tapi mengapa kita tidur di rumput?" Tanya Pangeran Kenzi keheranan.
__ADS_1
"Justru itu yang mau aku tanyakan, seingatku tadi malam aku kita tidur di sebuah gubuk. Akan tetapi kengapa sekarang kita tidur hanya beralaskan rumput liar?" Tanyaku keheranan kepada Pangeran Kenzi.
"Pangeran Kenzi, sepertinya kita harus segera memulai perlintasan ke lorong keadilan. Mungkin ini adalah pertanda jika kita harus segera bangun." Sambungku berucap kepadanya, dia pun mengangguk seraya mengerti perkataanku saat ini
"Baiklah, jika seperti itu. Aku segera bangun, akan tetapi sepertinya ayah dan juga pelatih belum bangun, Yuka." Tanyanya kepadaku saat ini.
"Iya, sepertinya mereka kelelahan. Aku segan untuk membangunkannya sendiri. Maka dari itu, aku berinisiatif untuk membangunkanmu saat ini." Tuturku kepada Pangeran Kenzi.
"Oke, baiklah. Jika seperti itu, aku yang akan membangunkan mereka. Tetapi saat ini, aku ingin sekali minum Yuka. Apakah kamu masih menyimpan persediaan air minum?" Tanya Pangeran Kenzi kepadaku. Sejenak aku terdiam, aku mengingat-ingat apakah aku membawa botol minum dari sungai itu? Aku segera memeriksanya, ternyata masih ada satu botol persediaan air. Akupun saat ini langsung menghampiri Pangeran Kenzi lalu aku memberikan botol minum ini.
"Pangeran Kenzi, beruntunglah ternyata masih ada satu botol air minum." Ucapku kepada Pangeran Kenzi saat ini.
Aku memberikan botol minum itu kepadanya lalu dia meraihnya, terlihat dia sangat halus sekali. Dia meminum air begitu sangat kehausan. Aku pun sejenak mengingatkannya, agar dia tidak menghabiskan air minum itu.
"Pangeran Kenzi... Tolong jangan habiskan minumnya. Aku takut jika guru dan juga Kaisar Suji ingin minum juga." Ucapku kepadanya, membuat dia terhenti dari minum.
"Iya, Yuka. Hampir saja, aku melupakan itu. Terima kasih sudah mengingatkanku. Untunglah aku tidak menghabiskan air ini." Ucapnya kepadaku saat ini.
Di-pun menyimpan botol minum itu lalu membangunkan ayahnya, seraya untuk melanjutkan misi dalam melintasi lorong keadilan.
"Ayah lekaslah bangun, hari sudah mulai pagi." Ucapnya kepada ayahnya lalu dia pun menghampiri guru saat ini.
"Guru, lekaslah bangun. Hari sudah mulai pagi, kita harus segera melanjutkan misi untuk perlintasan di lorong keadilan." Ucapnya yang kedua kalinya, membangunkan pelatih dari tidur. Akhirnya saat ini kita semua telah bangun dan kita siap untuk melintasi perlintasan itu.
__ADS_1