SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM

SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM
Episode 45. Melintasi lorong yang berbeda.


__ADS_3

Sekarang aku tempat berada di lorong keadilan, terlihat ada 4 lorong yang berbeda-beda. Saat ini aku menempati lorong yang pertama lalu Kenzi menempati lorong yang kedua, Kaisar Suji menempati lorong yang ketiga dan pelatih menempati lorong yang ke empat.


Hari ini kami-pun telah bersiap, untuk melewati segala rintangan yang akan kami hadapi di dalam lorong keadilan. Seketika, Kenzi menatapku dengan tajam. Sepertinya dia khawatir, membiarkan aku melintasi lorong sendirian.


"Yuka.. Apakah kamu berani untuk melewati lorong itu sendiri?" Tanya Kenzi kepadaku saat ini.


Terlihat kegelisahan hati yang begitu dalam, wajahnya begitu gelisah saat ini.


"Tenang saja, Pangeran Kenzi. Kita adalah seorang keseatria, alangkah baiknya kita harus bisa melewati rintangan masing-masing." Sahutku kepadanya saat ini.


"Baiklah.. Jika seperti itu, marilah kita mulai untuk melintasi lorong keadilan. Berhati- hatilah kalian." Ucap dari Kaisar Suji kepada kami semua.


"Baiklah, aku telah bersiap. Marilah kita mulai masuk ke dalam lorong keadilan." Sahutku kepada semua peserta yang ada di sini, akhirnya aku-pun mulai memasuki lorong yang harus aku lintasi saat ini. Lorong ini begitu sangat gelap, sepertinya keadaan di lorong ini sangatlah lembab.

__ADS_1


Aku mencoba memberanikan diri, untuk terus berfokus melewati lorong keadilan dengan segala rintangannya.


Hawa udara di lorong ini sangatlah dingin, mungkin kurangnya cahaya masuk. Mengakibatkan lorong ini menjadi lembab. Aku berjalan dengan perlahan, tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggilku.


"Yuka, kemarilah.. Ini Ibu, apakah kamu tidak ingin dipeluk olehku?" Ucap seseorang di dalam lorong ini. Aku-pun berpikir keras, bagaimana mungkin masuk ke dalam lorong ini? Aku yakin ini hanya jebakan Iblis, Iblis hanya ingin memperdayai agar aku tersesat. Aku-pun tidak menghiraukan ucapan itu lalu aku terus berjalan menyusuri lorong keadilan, ternyata di dalam lorong ini terdapat berapa pilihan yang harus aku pilih. Dari arah depan, samping kanan, samping kiri dan juga belakang. Terdapat 4 lorong yang ada di seklilingku, sekarang aku tepat di tengah-tengah perlintasan 4 ruas jalan. Aku-pun tidak boleh salah melangkah, jika aku sampai membuat kesalahan. Aku akan tersesat, di dalam lorong ini. Aku menggunakan intuisi ku saat ini, sekarang aku mencoba menarik nafas lalu aku keluarkan dengan perlahan. Aku coba berpikir, langkah mana yang harus kupilih? Selama ini, insting-ku yang selalu berbicara karena memang pilihanku selalu tepat. Jika aku mengandalkan kata hatiku, entah mengapa aku ingin berjalan ke arah samping kiriku. Sepertinya disana adalah tempat yang benar untuk aku melangkah.


Akhirnya aku memilih arah sebelah kiri, untuk lintasan yang akan aku lalui. Aku berjalan dengan harap-harap cemas, aku takut jika kali ini aku salah memilih jalan. Tiba-tiba aku terkejut saat ini, ular besar itu datang dan melilit kakiku.


Ular itu memancarkan sorot mata yang begitu tajam, matanya berwarna merah dan juga bertubuh panjang. Aku-pun segera mempergunakan tongkat saktiku saat ini.


"Jika kamu tidak ingin pergi dari tubuhku, aku akan membunuhmu jika kamu tidak pergi. Wahai ular, segeralah menyingkir." Ucapku untuk kesekian kalinya, meminta ular ini untuk pergi akan tetapi sepertinya ular ini enggan untuk pergi dari diriku. Dengan berat hati, aku-pun harus membunuh ular ini.


"Rasakan tusukanku, saat ini." Teriaku sambil memukul dan mengeluarkan tombak tongkat sakti.

__ADS_1


Ciaaatt-ciaaat-sreng-x-slah...


Hiyaaaa-hiyaaa..


Teriakku saat ini, aku-pun telah menghabisi ular ini lalu ular ini pun hilang.


Saat ini, aku memiliki firasat buruk. Sepertinya aku salah, memilih jalan untuk melewati perlintasan. Akan tetapi, lorong ini seperti labirin. Aku begitu sulit untuk memilih jalan keluar dari perlintasan ini, aku memutuskan untuk kembali ke persimpangan lorong keadilan. Akhirnya sekarang aku cepat berada di tempat sebelumnya, akhirnya aku memilih perlintasan sebelah kanan. Aku berjalan menyusuri perlintasan sebelah kanan, aku terangi jalan-nya seraya aku ingin dapat melihat rintangan-rintangan yang akan menghampiriku nanti. Sontak aku-pun terkejut, saat aku melihat lubang yang begitu dalam. Sepertinya aku terlalu gegabah dalam memutuskan sesuatu dan akhirnya aku coba melompat melintasi lubang hitam yang tepat di dalam lorong keadilan.


Hiyaaa-hiyaaaa-bugh-gubrak...


Aku-pun terjatuh dan aku akhirnya bisa melintasi rintangan lubang itu.


"Hufffh, syukurlah aku bisa melewatinya." Gumamku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2