
Hari ketiga di Gurun Haisa. Beberapa jurus telah aku kuasai saat ini. Terlebih Pangeran Kenzi telah mendapatkan julukan baru sebagai kesatria berhati emas, kulihat keadaan Kaisar Suji telah membaik. Seperti kita ketahui beberapa hari yang lalu energi dari Kaisar Suji telah habis untuk melawan Monster berkepala naga.
Aku segera menghampiri pelatih untuk menanyakan perihal misi yang akan dijalani.
"Wahai guru.. Setelah kita beberapa hari melewati misi di Gurun Hiaisa. Apakah kita akan melanjutkan perjalanan untuk hari ini?" Tanyaku kepada Guru Kerajaan Suji.
"Wahai.. Kesatria murni, seperti yang aku ketahui dalam buku panduan kesatria yang selama ini aku pelajari. Gurun Haisa memiliki misteri, disini terdapat beberapa Monster dan Siluman, akan tetapi kedatangan mereka secara diam-diam. Kami pun tidak boleh lengah dengan keadaan yang sepertinya damai untuk dinikmati. Gurun ini menyimpan banyak misteri yang harus terpecahkan, sekarang sudah ada dua Kesatria yang ada di Gurun Haisa. Tinggal satu calon peserta pertarungan yang belum memiliki gelar kesatria." Ucapnya kepadaku saat ini.
"Emh, maksudmu Kaisar Suji?" Tanyaku kepada guru pelatih.
"Benar sekali, Yuka. Mungkin ada emosi yang Kaisar Suji sembunyikan, Kaisar Suji belum bisa melepas rasa sakit hatinya. Hal itu akan membuat dia lemah, Kaisar Suji akan mengalami terkikisnya energi untuk berlatih di Gurun Haisa." Ucapnya kepadaku dengan memandang Kaisar Suji yang sedang duduk termenung.
Aku pun segera menghampiri Pangeran Kenzi saat ini.
"Pangeran Kenzi, sebaiknya kamu tanyakan kepada ayahmu. Apakah di dalam batinnya masih menyimpan rasa sakit hati? Aku berharap Kaisar Suji segera mendapatkan Gelar Kesatria. Menurut penuturan Guru Kerajaan SuJi. Kaisar Suji memiliki emosi yang terpendam, itu akan membahayakan diri kaisar dalam pelatihannya di Gurun Haisa." Ucapku kepada Pangeran Kenzi saat ini.
Pangeran Kenzi pun sejenak terdiam. Sepertinya dia memikirkan keadaan ayahnya saat ini. Dia pun menarik nafas dengan perlahan lalu membuangnya secara kasar.
Hufh!
__ADS_1
Suara nafasnya yang terdengar, seraya dia mengetahui apa yang menjadi beban pikiran ayahnya. Aku pun kembali mempertanyakan, tentang apa yang dipikirkan oleh pangeran Kenzi.
"Wahai.. Pangeran Kenzi. Maafkan aku jika aku banyak bertanya, aku tahu apa yang dilewati dalam perjalanan hidup ayahmu begitu berat. Aku pun tidak menerima dengan takdirku jika aku terus menyalahkan dengan keadaan ini. Akan tetapi kita hidup bukan untuk menoleh ke belakang, kita harus maju menumpas segala kejahatan dan kezaliman yang dilakukan oleh Kerajaan Keytaro. Aku tahu, jika ayah nu dan juga kamu sangat membencinya. Aku tidak menyalahkan jika ayahmu membenci ayahku. Ayah dan ibuku memang pantas untuk kalian benci, namun semua itu akan terkalahkan oleh kesabaran dan juga kerelaan dalam diri " Ucapku seraya menasehati Kenzi.
"Wahai pangeran, sebenarnya aku juga membenci keadaan ini. Aku membenci ayah dan ibuku, aku pun menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku terlahir dari hubungan terlarang? Akan tetapi ini adalah takdir yang harus aku jalani. Aku sebagai anak dari Keytaro memohon maaf kepadamu dan juga kepada ayahmu." Ucapku dengan ber-besar hati.
"Wahai, Yuka. Gadis cantik yang sangat kucintai, sama sekali aku tidak membencimu. Begitu juga ayahku,;dia sangat menyayangimu. Akan tetapi perlakuan ibumu kepada ayahku membuat pukulan besar di dalam kehidupan ayahku saat ini.. Sebaiknya kita berbicara baik-baik kepada ayahku, agar dia bisa melanjutkan pelatihan ini." Ucap Pangeran Kenzi dengan bijaksana, dia pun tersenyum kepadaku lalu dia berkata saat ini.
"Yuka, aku sangat mencintaimu. Apapun akan aku lakukan untuk menjagamu." Sambungnya mengucap kata-kata manis, yang membuatku tersenyum.
Pangeran Kenzi pergi menghampiri Kaisar Suji. Secara perlahan, dia mencoba untuk berbicara dengan ayahnya.
"Ayah.. Apakah keadaan ayah baik-baik saja? Apakah ayah yakin dengan pertarungan nanti? Tanya Kenzi kepada ayahnya.
"Ayah.. Apakah kamu mencintai ibu?" Tanya aku kepada ayahku.
"Sebenarnya aku ingin sekali mempersunting Keiko saat itu, akan tetapi itu tidak mungkin aku lakukan. Menurut aturan yang ada dalam kerajaan adalah seorang kaisar hanya bisa memiliki satu permaisuri. Bertahun-tahun, aku mencari ibumu tetapi sampai detik ini aku tidak tahu keberadaannya. Mungkinkah dia masih hidup atau dia sudah tewas? Aku tidak tahu. Setelah melahirkanmu saat itu, aku merasa berdosa karena aku tidak melindungi Keiko saat dibuang oleh permaisuri Yiza." Ucap Kaisar Suji, terlihat wajah Kanzi memerah. Sepertinya dia sedang menahan amarah saat ini lalu aku hampiri dia seraya menenangkan emosinya.
"Wahai Kesatria berhati emas, sekarang kamu bukan hanya seorang Pangeran Kenzie yang berasal dari Kerajaan Suji, akan tetapi kamu telah menjadi kesatria berhati emas. Kontrol emosimu, jika kamu ingin memenangkan pertarungan nanti. Apa yang kamu rasakan sekarang sama persis dengan apa yang aku rasakan. Pangeran Kenzie kamu mengetahui jika aku akan bertarung dengan saudara kandungku sendiri. Bagaimana bisa ayah dan saudara kandungku menjadi musuh dalam pertarungan itu?" Ucapku kepada Pangeran Kenzi, seraya aku menjelaskan kepadanya bahwa aku pun merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Mohon maaf, Kaisar Suji. Lepaskan beban pikiranmu, marilah kita fokus berlatih. Hanya tinggal kaisar yang belum memiliki gelar kesatria, jangan kuras energimu dengan memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan dalam pelatihan di Gurun Haisa." Ucapku kepada kaisar Suji.
"Benar apa yang kamu katakan, Yuka. Aku harus melepaskan segala beban pikiranku, semakin aku memikirkan semakin lemah tubuhku dan aku tidak bisa bertarung." Ucap Kaisar Suji yang mengakui dengan adanya penuturanku saat ini.
"Baiklah, jika seperti itu. Mari kita lanjutkan pelatihan untuk hari ini." Ucap pelatih Kerajaan Suji. Kami segera meraih senjata yang akan kami gunakan untuk bertarung. Kami pun bersemangat untuk memenangkan pertarungan nanti, tiba-tiba saat waktu menjelang sore. Aku merasa keanehan terjadi di Gurun Haisa.
"Pangeran Kenzi, aku merasakan adanya kehadiran seseorang yang memperhatikan kita saat berlatih.
Pangeran Kenzi pun segera berhenti dari pelatihannya. Dia menjatuhkan samurainya dan membidik seluruh sudut dengan mata yang tajam.
"Wahai, anakku. Coba kamu lihat, dibalik pohon besar itu. Sepertinya ada bola mata yang mengintai kita." Ucap Kaisar Suji saat ini.
Guru Kerajaan Suji, segera mengambil buku yang ada di dalam gubuk. Dia segera membaca buku panduan Gurun Haisa. Satu persatu lembar dia buka, seraya dia mencari tahu tentang keanehan ini.
"Ini dia.." Teriaknya saat ini.
"Apakah itu, guru?" Tanyaku dengan begitu terkejut.
"Dia adalah sosok Siluman Black Eye. Siluman ini berasal dari kegelapan Lembah Hitam, dia akan mencelakai seluruh peserta pertarungan yang memiliki amarah dan dengki." Ucapnya sontak mengejutkanku.
__ADS_1
"Apakah dia mengetahui, bahwa ada beberapa hal yang belum bisa termaafkan oleh Kaisar Suji?" Tanyaku dengan resah.
"Sepertinya, dia mencium radar itu. Kita harus waspada karena dia akan menyerang dalam kegelapan." Ucap Guru Kerajaan Suji saat ini. Kami pun semua terdiam lalu saling bertatapan satu sama lain.