
Dengan perasaan yang tidak menentu, aku pun menunggangi kuda putih yang biasa aku pergunakan. Untung saja Jae Jun menggunakan kuda putih ini, sehingga aku bisa bekerja sama dengan tungganganku. Sepanjang perjalanan air mataku berderai, bagaimana bisa Permaisuri Yiza menghianati ayah kandungku.
Detak jantungku begitu kencang, seolah aku tidak bisa menyembunyikan amarah ini. Bagaimanapun aku harus menyelamatkan ayahku saat ini, jangan sampai ayahku diperdayai oleh wanita jahat itu beserta kaisar licik yang saat ini mengganggu keamanan Kerajaan Suji.
Sesampainya Aku di depan kerajaan, aku pun segera berlari mencari ayahku.
"Ayah di manakah engkau?" Teriak aku seolah-olah tidak memedulikan seisi istana saat ini.
"Wahai anakku, kamu dari mana saja? Ayah mengkhawatirkanmu, nak." Ucap ayah dengan wajah yang begitu sendu. Sepertinya dia benar-benar bingung menghadapi kaisar Keytaro.
"Ayah, bisakah aku berbicara denganmu? Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui akan tetapi hal ini hanya untuk kami berdua." Ucapku kepada ayahku, terlihat raut wajah ayah seolah menggambarkan seperti sedang bingung. Bagaimana tidak, apa yang aku lontarkan pastilah membuat pertanyaan besar di dalam benaknya.
"Baiklah, anakku. Marilah kita pergi ke Sungai amanta di sana adalah tempat ayah untuk merenung. Bergegaslah putraku, segera kita menaiki kereta kerajaan saat ini." Ucap ayah dengan menarik tanganku, seolah dia ingin segera mengetahui apa yang ingin aku ucapkan sekarang.
Saat ini ku sudah menaiki kereta bersama ayah, terlihat dari raut wajah ayah menggambarkan kegelisahan. Sepertinya ayah tidak sabar mengetahui apa yang ingin aku sampaikan. Sesampainya di tempat tujuan, aku pun melihat sungai yang begitu indah. Pantas saja ayahku sering menyambangi tempat ini karena tempat ini adalah tempat yang amat sangat nyaman untuk kita merenung, akhirnya aku turuni kereta ini lalu aku duduk di atas batu.
__ADS_1
"Anakku.. segeralah kamu berbicara. Sekarang hanya ada aku dan kamu, tidak ada satu orang pun yang dapat mendengar percakapan kita." Pinta ayah kepadaku seraya dia tidak sabar untuk mengetahui apa yang aku ingin bicarakan.
"Ayah.. Apakah benar Kaisar Keytaro menekan Kerajaan Suji untuk menyuplai makanan kepada Kerajaan Keytaro?" Dengan gugup aku pun bertanya sambil menatap raut wajah ayahku yang begitu sendu.
"Wahai anakku, sekian lama aku mengenal Keytaro. Dia selalu mencurangiku, apa pun dia lakukan untuk menghancurkanku seolah aku ini adalah saingan terbesarnya. Saat kamu berada di sisiku, tidak sama sekali dia mencoba untuk melangkahi tahtaku. Akan tetapi saat kamu tidak berada di singgasana, dia sangat menekan ayah. Bahkan memanfaatkan Kerajaan Suji untuk kemakmuran Kerajaannya." Ucap ayah dengan nada yang begitu berat, suaranya begitu lirih membuatku makin sedih dengan pernyataannya.
"Wahai, ayahku. Apakah kamu telah tahu tentang kebenaran yang sebenarnya disembunyikan oleh permaisuri Yiza." Ucapku kepada ayahku sontak membuat ayahku terkejut. Bagaimana bisa aku memanggil ibuku dengan sebutan Permaisuri Yiza, seolah aku berucap tentang orang asing di hadapannya.
"Putraku Kenzi, mengapa kamu menyebut ibumu dengan sebutan permaisuri. Apakah kamu sudah tidak menganggap ibumu lagi?" Ucap ayahku dengan penekanan saat ini kepadak.
"Kenzi, apakah kamu mengenal Selir Jisoo? Sudah lama dia menghilang, aku pun tidak tahu keberadaannya. Entah mengapa kepergian Jisoo menyiratkan sebuah tanda tanya besar di benak ayah. Apakah ada rahasia yang aku tidak ketahui?" Tanya saja kepadaku.
"Sebaiknya ayah membaca terlebih dahulu surat ini, agar Ayah mengerti apa yang aku lontarkan. Aku tidak ingin berbicara banyak, biarlah ayah mengetahui dengan sendirinya." Sahutku kepada Ayahku saat ini, akhirnya aku keluarkan secarik kertas yang menyimpan banyak rahasia di dalamnya lalu saat ini ayahku meraihnya dengan cepat. Ayahku segera membacanya, setelah surat ini selesai dibaca oleh ayahku. Tiba-tiba Ayah pun menitikan air mata lalu dia memelukku saat ini.
Bruggggh..
__ADS_1
Pelukan yang begitu erat saat ini kepadaku lalu dia menangis sambil berkata sesuatu hal yang mengejutkan hatiku. Wahai Kenzi anakku, terlalu banyak rahasia yang disembunyikan oleh Yiza di belakangku. Akan tetapi aku bangga telah memilikimu, sejak lama aku pun memikirkan Keiko. Keiko adalah Ibu kandungmu, entah mengapa Yiza tidak bisa memberikan keturunan kepadaku. Padahal sebenarnya dia telah berhubungan gelap dengan kaisar Keytaro." Ucap ayahku dengan sesekali mengusap air matanya.
"Ayah... Dengarkan Aku. Seorang Kaisar Suji tidak boleh lemah di hadapan seorang wanita, kita harus memberi perhitungan kepada Yiza dan juga Keytaro. Akan tetapi yang jadi permasalahan saat ini adalah gadis miskin yang bersamaku tidak lain ialah anak dari Yiza. Dia memiliki perangai yang jauh berbeda, dia sangat halus dan baik hati. Mungkin ini berkat bimbingan dari Selir Jisoo, aku tidak ingin gadis ini terluka karena Suzuka. Suzuka telah menantangnya untuk berperang di Lembah hitam." Ucapku kepada ayahku dengan tegas.
"Hah, apa kamu bilang? Lembah hitam? Sungguh keterlaluan sekali anak itu, aku ingin mengusir mereka dari dalam istana. Akan tetapi jika aku langsung mengusirnya, aku tidak akan bisa melakukan taktik balas dendam kepada Kerajaan Keytaro." Ucap ayah sambil mengepalkan tangannya.
"Sabarlah dahulu, ayah. Sebaiknya kita berpikir dengar jernih, apa pun yang telah terjadi ini di luar kehendak kita. Akan tetapi kita harus bisa membedakan yang mana yang baik dan juga mana yang jahat saat ini. Kita harus melindungi Yuka dari serangan Suzuka, aku pun akan terus memberi pelajaran kepada Keytaro. Ayah bisakah ayah membantuku untuk memerintahkan Guru persenjataan untuk membimbing Yuka agar dia menjadi kesatria?" Ucapku seraya memohon kepada ayahku.
Ayahku terdiam saat ini, sepertinya dia sedang berpikir lalu tiba-tiba ayahku mengucapkan apa yang aku inginkan.
"Wahai, putraku. Apa pun yang kamu inginkan akan aku kabulkan karena kamulah anakku satu-satunya penerus harapan Kerajaan Suji. Aku percayakan kepadamu dan aku yakin kamu akan menjadi pemimpin yang adil." Ucap ayah membuatku bahagia.
"Baiklah, ayah. Setelah kita pulang dari tempat ini, kita harus menyusun strategi agar kita bisa memberi pelajaran kepada kaisar Keytaro. Kita hentikan pengaliran mata air untuk ke Kerajaan Keytaro, biarkan rakyatnya merasa kelaparan hingga mereka kita merdekakan untuk menjadi rakyat Kerajaan Suji." Ucapku menatap wajah ayahku dengan tajam.
"Ide yang bagus, anakku. Dengan seperti itu dia akan menyesal berurusan dengan Kerajaan Suji. Kamu memang anak yang sangat pintar, aku bangga memiliki putra sepertimu." Ucap ayahku dengan menepuk pundakku.
__ADS_1
"Baiklah, ayah. Marilah kita kembali ke dalam istana Kerajaan, segera utus guru persenjataan agar pergi ke Bukit hijau karena di sanalah Jae Jun dan Yuka berada." Ucapku kepada ayah dengan berlalu pergi menaiki kereta Kerajaan Suji.