
Tidak mudah kami untuk sampai ke Gurun Haisa. Jalan yang sangat terjal harus dilewati sangat menakutkan. Kami memilih lokasi pelatihan di dekat mata air. Hanya ada satu mata air yang terdapat di Gurun Haisa. Tempat yang kami pilih bukan tidak beralasan, melainkan kami membutuhkan banyak air untuk kelangsungan hidup saat berlatih di Gurun Haisa.
Saat ini kita sudah sampai di sebuah gubuk kecil yang dekat sekali dengan mata air. Gubuk kecil ini sepertinya sengaja disediakan oleh semesta untuk pelatihan para kesatria. Kami pun segera menurunkan peralatan tempur agar kami bisa berlatih dengan baik. Saat kami sibuk mempersiapkan alat-alat tempur, tiba-tiba terdengar suara ledakan seperti petir yang menyambar pepohonan.
Kami pun segera bergegas untuk keluar dari gubuk ini. Kami melihat kedatangan Dewa Bumi hadir menyambangi kami.
"Wahai para calon kesatria. Kalian adalah orang-orang yang terpilih untuk memiliki kekuatan murni dan juga kekuatan inti melampaui batas. Musuh yang kalian akan hadapi adalah manusia dari golongan hitam. Sejarah dari Kerajaan Keytaro adalah kerajaan yang bersekutu dengan Iblis. Maka dari itu kalian harus berhati-hati dan waspada saat menghadapi serangan yang dikeluarkan oleh lawan kalian masing-masing." Seru dari Dewa Bumi saat ini.
"Wahai kesatria murni, majulah kamu ke depan." Sambung ucap dari Dewa Bumi kepada Yuka saat ini.
"Salam hormatku kepada Dewa Bumi. Terima kasih Dewa, takdir baik telah menghampiriku saat ini. Aku diberi anugerah memiliki kekuatan murni, saat aku datang membuka Gerbang Jumali. Sekarang telah tiba bersama seluruh peserta pertarungan untuk berlatih sesuai dari petuahmu, wahai Dewa Bumi." Ucap Yuka saat ini.
"Aku hanya ingin menjelaskan kepada kalian, kalian harus melewati beberapa misi yang ada di Gurun Haisa. Gurun yang terlihat tenang bahkan nyaman untuk berlatih, menyimpan banyak siluman bahkan Monster yang mungkin dapat menyerang kalian. Kalian harus memenangkan pertandingan melawan Siluman dan juga Monster yang ada di Gurun Haisa. Kamu Yuka.. Sebagai kesatria murni adalah tombak utama dari pelatihan ini. Keberhasilan semua peserta yang ada di sini bergantung kepadamu, Yuka. Satu hal yang harus kamu ingat, kekuatan yang kamu dapatkan saat ini adalah dari hasil manifestasi ketulusan dan ketabahan yang ada di jiwamu. Tetaplah memiliki hati yang bersih agar kamu dan kawan-kawanmu bisa menyelesaikan misi dari pelatihan Gurun Haisa." Ucap Dewa Bumi dengan tegas kepadaku saat ini.
Aku pun membungkuk lalu aku menggangguk kepada Dewa Bumi.
"Wahai, Dewa Bumi. Sebisaku aku akan memimpin dalam pelatihan ini." Sahutku kepada dewa bumi.
"Baiklah jika kalian sudah tahu tentang peraturan di Gurun Haisa. Jangan pernah ada satu orang pun yang melanggar peraturan. Jika salah satu dari kalian memiliki dendam ataupun hasrat ingin membalas atas pertempuran nanti. Kalian akan mengalami resiko yang sangat tinggi, kematian bisa saja terjadi saat kalian melawan siluman dan monster yang ada di tempat ini. Jadi.. Jangan anggap remeh tempat yang tenang ini. Sekiranya hanya cukup sekian yang bisa aku utarakan kepada kalian. Semoga apa yang aku utarakan dapat menjadi arahan agar kalian berhasil. Selamat berjuang wahai para kesatria." Ucap dari Dewa Bumi. Dia pun pergi meninggalkan kami semua.
Tring tring tring.
Wus wus wus zzzz..
Angin berhembus kencang, mengiringi kepergian Dewa Bumi dari Gurun Haisa.
"Sepertinya apa yang diterangkan oleh Dewa bumi sudah cukup jelas bagi kami semua. Aku pun harus mengubur dalam-dalam rasa kebencian yang tertanam kepada Kaisar Keitaro." Ucap Kenzi dengan sikap yang sangat bijaksana.
__ADS_1
"Benar, anakku. Kamu harus menghapuskan rasa benci dan dendam. Kami semua tidak akan mengetahui, bagaimana rintangan yang akan kami hadapi saat berada di Gurun Haisa." Sahut Kaisar Suji.
"Tujuan kami adalah untuk menjadi ksatria, agar kita bisa memenangkan pertarungan di Lembah Hitam." Sambung ucapnya berbicara kepada Kenzi saat ini.
"Salam hormatku kepada Kaisar Suji dan juga Pangeran Kenzi. Pertarungan di Gurun Haisa harus kita lewati dengan hati yang tulus dan bersih, tujuan kita adalah membela kebenaran. Sesuatu perbuatan baik tidak akan menjadikan kita kecewa. Semoga kami semua selalu diselimuti oleh takdir baik yang dikehendaki oleh semesta." Ucapku kepada Kaisar Suji dan juga Pangeran Kenzi.
"Sepertinya kita sudah siap untuk melawan apapun yang akan terjadi. Suatu kehormatan bagiku dapat melatih semua calon kesatria yang ada di sini." Ucap dari pelatih kerajaan.
"Aku telah menyaksikan dengan kebenaran. Gerbang Ajmali yang berabad-abad tidak bisa dibuka, ternyata bisa terbuka dengan adanya ketulusan dari hati kesatria murni. Ini adalah pelajaran untukku, bahwa setiap rintangan harus dihadapi dengan ketulusan dan kasih. Waktu terlihat sudah mulai sore. Senja telah menampakkan wujudnya saat ini. Marilah kita beristirahat, agar di pagi hari kita dapat berlatih dengan maksimal." Ucap dari pelatih Kerajaan Suji.
Kami semua segera bergegas, masuk ke dalam gubuk kecil yang berada di Gurun Haisa. Kami pergunakan waktu istirahat sebijaksana mungkin untuk memulihkan energi yang hilang karena kelelah saat di perjalan. Pelatihan besok hari harus kami lewati secara sempurna. Kami semua pun segera memejamkan mata seraya beristirahat.
Zzz zzz zzzz.
Dengkuran Kaisar Suji saat terlelap.
Grrrrr-cekit-cekit-duar duar duar.
Teerdengar ada suara menggelegar yang berasal dari luar gubuk.
"Pangeran Kenzi, bangunlah!" Seru dariku kepada Pangeran Kenzi, seraya aku membangunkan Pangeran Kenzi dari tidur lelapnya.
"Ada apa, Yuka? Sepertinya terjadi hal yang tidak menyenangkan saat ini." Tanya dari Pangeran Kenzi kepadaku. Kami pun semua terbangun dari tidur lalu kami mempersiapkan alat-alat pertempuran untuk pertahanan diri.
Aku berjalan menghampiri jendela yang ada tepat berada di samping dipan tidurku. Dipan kayu yang aku pergunakan untuk beristirahat pun bergetar. Betapa aku terkejutnya, saat aku melihat sosok Monster. Dia sedang kami dari luar. Sesosok Monster berkepala naga, berdiri tepat di balik pintu gubuk. Aku pun segera menghampiri Kenzi dengan wajah khawatir.
"Pangeran, disana terlihat ada monster berwujud naga. Tubuhnya besar sekali seperti manusia raksasa yang memiliki bulu yang sangat lebat. Matanya mengeluarkan sinar berwarna merah, sepertinya dia akan menyerang kami di gubuk ini." Ucapku dengan sangat serius saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, Yuka. Marilah kita bertempur." Ucap Kenzi kepada Kaisar Suji dan pelatih.
"Baiklah, anakku. Aku sudah siap." Ucap dari Kaisar Suji saat ini.
Pelatih Kerajaan Suji mempersiapkan semua alat-alat tempur dengan rapi. Kami dibekali satu persatu persenjataan untuk melawan Monster naga.
"Sekarang kita semua sudah siap. Ingatlah, jangan pernah ada amarah dan dendam saat bertarung. Lakukan ini dengan ketulusan." Ucapku seraya memimpin dalam pertarungan ini.
Kami semua segera berjalan keluar, menghadang monster berkepala naga. Saat ini aku angkat tanganku dengan memegang samurai sakti lalu aku pun berkata kepada sosok monster yang ada di hadapanku.
"Hai, Monster naga. Apa yang kamu inginkan?" Ucapku dengan lantang kepada Monster itu dengan menunjuk menggunakan samurai sakti.
"Hah, manusia-manusia bodoh. Untuk apa kamu datang ke gurun ini?" Sahut dari sosok Monster yang ada di hadapanku, dia pun menyemburkan api dari mulutnya lalu mengeluarkan ledakan yang menyerang ke arah kami semua.
Bbuasttt busttt, duar duar duar.
Semburan api dari mulut monster naga, menyerang kami.
Brerak gubrak..
Kami pun terjatuh seraya kami terkejut dengan api yang begitu besar.
"Lekaslah bangkit, semuanya. Mari kita serang." Ucapku memimpin pertempuran.
Hiyaaaaaaaa heit heyaaaa..
Teriakan kami menyerang Monster berkepala naga berbulu lebat.
__ADS_1