SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM

SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM
Episode 52. Sebelum datangnya purnama.


__ADS_3

Detik-detik pertempuran telah tiba, aku menanti datangnya bulan purnama kedua. Segala macam pelatihan sudah aku persiapkan dengan matang. Aku hanya bisa berharap, kami dapat memenangkan pertarungan di Lembah Hitam nanti. Entah apa yang direncanakan oleh kakakku, untuk melenyapkan nyawaku di Pusara Lembah Hitam. Akan tetapi tujuanku hanya satu ialah memerangi kejahatan dan menegakkan keadilan. Jantungku berdebar kencang, rasanya aku mulai khawatir dengan waktu yang semakin mendekat. Kucoba menarik nafas perlahan lalu aku membuangnya secara pelan-pelan. Aku berharap aku dapat menenangkan jiwaku, agar aku tidak gegabah dalam menjalani pertarungan nanti.


Saat ini aku sedang terduduk, menantikan purnama itu datang. Pangeran Kenzi bersama Kaisar Suji telah siap untuk menjadi ksatria yang akan memerangi kejahatan.


"Bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah kamu sudah siap menjalani pertarungan nanti?" Tanya Pangeran Kenzi kepadaku dengan mengenakan sabuk merah yang terlihat pantas dia kena'kan.


"Sepertinya aku mulai resah, aku takut jika aku gugup dalam melakukan pertempuran nanti. Akan tetapi tekadku sudah bulat, aku sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Walaupun di hati kecilku terbersit rasa sedih, jika aku harus bertarung dengan kakakku sendiri. Akan tetapi kebenaran itu harus tetap ditegakkan, sesuatu kejahatan tidak bisa terus menjajah kebenaran di muka bumi." Ucapku dengan tegas, kepada pangeran Kenzi.


Seketika Kaisar Suji menghampiri kami berdua lalu dia berkata kepada kami.


"Wahai para kesatria, sebaiknya kalian membulatkan tekad dan menguatkan mental. Jangan sampai suasana hati, merusak tujuan utama kita dalam bertarung. Aku tahu persis kegelisahan yang dirasakan oleh Yuka. Ada rasa berat di benaknya, walaupun saat ini Yuka telah memiliki tekad untuk melawan kakak kandungnya sendiri. Akan tetapi tujuanmu sudah baik, kamu tidak perlu takut. Kebatilan harus tetap dimusnahkan di muka bumi ini. Terlebih banyak rakyat yang harus dimerdekakan." Ucap Kaisar Suci dengan bijaksana kepadaku saat ini.


Dari kejauhan Nenek Jisoo dan juga Selir Keiko menghampiri kami semua.


"Yuka, cucuku dan juga kau Kenzi adalah cucu kesayanganku. Kalian berdua adalah kesatria yang harus menegakkan keadilan, nenek akan selalu mendukung langkah terbaik dari apa yang kalian lakukan. Maka dari itu.. Kalian harus tetap bersemangat dan memiliki keyakinan bahwa kebenaran pasti akan menjadi pemenang." Ujar nasehat nenek kepada kami berdua.


Kami-pun tersenyum lalu kami mengangguk, seraya kami mengerti apa yang dibicarakan oleh nenek. Tidak lama kemudian, Selir Keiko menyahuti apa yang nenek ucapkan.

__ADS_1


"Putraku Kenzi, kamu dilahirkan dari seorang ibu yang berusaha memiliki hati yang sabar seluas Samudra. Kamu dibekali kepemimpinan dari jiwa ayahmu. Maka dari itu, kamu harus bersemangat untuk memenangkan pertarungan nanti. Walaupun nyawa harus dipertaruhkan, itu tidak akan menjadi sia-sia karena semesta pasti akan mendukungmu." Ucap dari selir kepada Pangeran Kenzi.


Tidak lama kemudian, Selir Keiko menatapku lalu dia membelai rambutku.


"Hai, Yuka.. Kamu adalah kesatria murni. Perjalanan hidupmu begitu sulit, kamu memiliki jiwa yang tegar. Aku yakin kepadamu, kamu bisa memenangkan pertarungan nanti. Jangan pernah mengkhawatirkan tentang kehidupan dan juga kematian. Semua itu telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Maka dari itu, kalian sebagai para kesatria. Harus tetap yakin, dengan apa yang kalian lakukan. Semangat untuk kalian..!!" Ucap dari Selir Keiko begitu membuatku semakin bersemangat. Tidak lama kemudian, Jae Jun menunjuk ke arah langit.


"Lihatlah.. Sepertinya Bulan Purnama itu telah tiba. Wahai para kesatria, lihatlah segera! Bulan purnama telah muncul saat ini. Bulan purnama telah menampakkan sinarnya, ini adalah waktunya untuk kalian memerangi kejahatan." Ucap dari pengawal pribadi Kerajaan Suji.


Kami-pun bertiga, berhadap-hadapan lalu saling menggenggam tangan kami seraya saling menguatkan mental dan juga memberi dukungan di antara kami bertiga.


"Baiklah, aku siap Ayah." Ucap dari Pangeran Kenzi dengan penuh semangat.


"Bagaimana dengan kamu, Yuka? Apakah kamu siap?" Sambung ucap Kenzi menanyakan kepadaku.


"Aku siap Pangeran Kenzi.. Apapun yang terjadi aku telah serahkan hidup dan matiku kepada semesta." Ucapku dengan tegas dan lugas saat ini.


Kami-pun segera bergegas untuk pergi ke Lembah Hitam, lambaian tangan dan juga dukungan dari orang-orang yang tersayang saat ini menyertai langkah kami bertiga. Kami melangkah seirama dengan menggunakan perlengkapan pertempuran, bintang kehormatan-pun kami telah selamatkan di pakaian kami. Samurai sakti, tombak, liontin, sabuk merah serta mahkota kami kenakan saat ini.

__ADS_1


Tongkat pemberian Dewi-pun, sudah bersatu dengan tombak. Sepertinya aku yang akan terlebih dahulu bertarung, sebelum pertarungan antara Kaisar Sujii dan Kaisar Keytaro dimulai. Ini sungguh tantangan untukku, karena aku harus melawan ayah sekaligus kakak kandung ku sendiri. Langkah dipercepat, kami berharap kami segera tiba di Lembah Hitam dengan waktu yang tepat.


Semangat kami-pun berkobar, kami telah dipilih sebagai kesatria dan kami akan selalu menjaga amanah atas kepercayaan semesta kepada kami. Diujung sana, telah terlihat Lembah Hitam. Suasana sangat mencekam disini, aura gelap yang memancar menjadi ciri khas dari Lembah Hitam. Terlihat di ujung pelupuk mata, kakakku yang akan menyerangku saat ini. Persis dari sudut kiri, aku melihat ayahku akan bertempur dengan Kaisar Sujii, memang sungguh miris apa yang aku jalani . Aku tidak akan pernah membela sedikitpun tentang kejahatan, hidup dan matiku akan kuserahkan untuk membela keadilan. Aku tidak ingin ada lagi korban yang mengalami nasib sama seperti aku. Penghianatan, kekacauan, bahkan diskriminasi dalam kasta sosial. Harus segera musnahkan, kami berbaris seraya berhadap-hadapan.


Sedangkan Kenzi, hanya melihat dari sudut belakang untuk menjadi bala bantuan pertempuran. Tugas utamaku sekarang adalah bertarung dengan kemampuan yang telah aku asah selama ini. Terrdengar teriakan dari ujung sana, sepertinya kakakku sudah mulai ingin menyerangku.


"Hai, tadis miskin. Sekarang kita telah berjumpa di Lembah Hitam. Apakah kamu siap untuk melakukan pertarungan denganku?" Teriakannya membuatku tidak bergeming. Aku tidak pernah takut dengan ancamannya, dengan berani aku-pun menjawab saat ini.


"Huh, wahai Putri Suzuka. Aku telah sampai di Lembah Hitam, itu menandakan bahwa aku telah siap untuk melawanmu. Aku tidak pernah gentar untuk melawan kejahatan yang ada di dunia ini, sekalipun nyawaku hilang di tanganmu. Aku tidak akan pernah menyesal telah melakukan ini terhadap dunia." Ucapku dengan lantang kepada kakakku.


"Sombong sekali, gadis miskin. Jangan banyak berbicara, marilah kita mulai untuk bertempur." Ucapnya seraya mengumandangkan genderang perang.


"Aku datang menghampirimu.. Suzuka. Hiyaaaaaaaaaaa.." Teriakku dengan langsung berlari menyerang ke arahnya.


Hiyaaa... Hiyaa.. Ciaaaat..


Teriakan kami saling menyerang.

__ADS_1


__ADS_2