
POV. KAISAR SUJI
Roda kehidupan memanglah berputar, kadang kita di atas dan tidak jarang dibawah. Saat Kerajaan Keytaro berjaya, perangainya begitu angkuh seolah tidak akan pernah tumbang. Kerajaan Keytaro saat itu memandangku sebelah mata tanpa membantu Kerajaan Suji. Mungkin saja di benak Keytaro masih ada dendam pribadi kepadaku, ini tentang kisah di masa lampau.
Sebenarnya aku tidak pernah mempengaruhi Yiza agar dia mau menikah denganku, akan tetapi perangai wanita itu memanglah sangat buruk dan arogan. Saat ini aku baru tersadar bahwa Yiza menikah denganku hanya karena kejayaan dan kekayaan Kerajaan ku. Sejak aku menikah dengan Yiza, Kerajaan Keytaro berambisi menyaingiku sampai akhirnya Kerajaan Suji mengalami krisis dan Keytaro enggan membantuku. Beruntunglah aku saat keadaan kembali berbalik, akhirnya kesombongan Keytaro ia tanggalkan untuk meminta bantuan kepadaku. Bahagia sekali rasanya mendapatkan putra yang amat sangat tampan dan juga bijaksana. Putra mahkota Kerajaan Suji yang memiliki perangai sepertiku, walaupun dia terlahir bukan dari rahim permaisuri. Putraku terlahir dari rahim seorang selir yang amat sangat baik, seketika aku mengingat Keiko. Wanita itu sungguh baik, dia bersikap lembut dan penyayang.
"Ayah sedang apa? kenapa Ayah masih saja melamun? bukankah kita akan bernegosiasi dengan Kaisar Keytaro." Terdengar suara putraku yang membuatku tersadar dari lamunan panjang saat ini.
"Putraku, maafkan aku. Ayah terlarut dalam lamuman, baiklah kita hampiri segera Kaisar Keytaro." Ujarku kepada Kenzi, beriringan dengan aku bangkit dari tempat duduk.
Aku berjalan dengan santai untuk menghampiri Kaisar Keytaro, terlihat dari kejauhan Keytaro sedang menunggu kedatanganku saat ini.
"Salam, Kaisar Suji." Ucap gagah dari seorang Kaisar yang bernama Keytaro.
"Salam juga untuk Kaisar Keytaro, duduklah. Sebelumnya aku ingin tahu, apa maksud kedatanganmu datang ke Kerajaan Suji?" Ucapku kepada kaisar Kerajaan Keytaro.
__ADS_1
Sebelumnya aku ingin membuat kerjasama dengan Kerajaan Suji, apakah kaisar bersedia bekerjasama dengan Kerajaan Keytaro? Kerajaan kami mengalami kekeringan panjang, sawah-sawah kering sehingga separuh rakyat kami kelaparan dan kehausan. Kami membutuhkan sumber mata air untuk kemakmuran rakyat. Ladang kami membutuhkan sumber air yang banyak, begitu pula sawah-sawah dan hewan ternak membutuhkan banyak air. Apakah Kaisar Suji berkenan menerima tawaran kerjasama yang aku ajukan saat ini?" Ucap kaisar Keytaro.
"Maaf sebelumnya, perkenalkan saya putra mahkota dari Kerajaan Suji. Sebenarnya tidaklah sulit bagi kami untuk memberikan sumber mata air kepada Kerajaan Keitaro, akan tetapi hal itu tidaklah cuma-cuma. Kerajaan kamipun ingin mendapat keuntungan dari kerjasama yang kita sepakati. Jika kita merasa saling menguntungkan, mungkin saja kerajaan kami akan menerima kerja tawaran kerjasama dari Kerajaan Keitaro." Ucap Putraku dengan gagah.
"Pangeran, Kenzi. Aku datang kesini tidak dengan tangan kosong, pasti Kerajaan kami memberi keuntungan untuk Kerajaanmu. Coba lihatlah, ini upeti yang kubawa bahkan emas batangan. Kami sediakan untuk Kerajaan Suji, rakyat kami bisa mati kelaparan jika terus mengalami kekeringan seperti ini. Apakah kalian menerima tawaran kerjasama dari Kerajaan Keytaro?" Tanya Kaisar Kieytaro saat ini.
"Bagaimana ayah? Apakah ayah setuju? Sepertinya upeti ini tidak sebanding dengan nilai mata air yang kami punya. Ayah, bagaimana jika kita meminta dua peti tambahan untuk emas batangan dari Kerajaan Keytaro? Sepertinya permintaan ini tidak berlebihan sebab Kerajaan Keytaro memiliki harta yang sungguh berlimpah." Ucap anakku dengan cerdik benar.
"Putraku, ayah setuju. Sepertinya imbalan itu cukup sedikit, seandainya ada dua peti emas batangan kami pasti setuju. Dulu saat kerajaan kami mengalami krisis, Kerajaan Keytaro sama sekali tidak membantu Kerajaan kami akan tetapi kami tidak ingin membalas perbuatan itu. Kami berbaik hati menerima tawaran kerjasama, tapi dengan satu catatan. Imbalan yang kami dapat sesuai dengan apa yang diminta." Ucapku menyahuti pertanyaan putraku.
"Baiklah, jika seperti itu yang kalian mau. Kalian hanya meminta dua tambahan peti emas batangan. Aku menyanggupinya, besok pengawal kerjaan akan mengantarkan." Ucapnya dengan tegas.
"Akan tetapi satu hal yang kupinta saat ini, besok kami kirimkan tambahan dua peti emas batangan kesini. Setelah itu kalian pun harus segera mengaliri kerajaan kami dengan mata air yang tersedia."Ucap sabungnya seolah ingin memastikan jika kami akan benar-benar memberikan mata air.
"Tenang saja Kaisar Keytaro, kami tidak mempunyai sifat yang culas. Imbalan ini pun, bukan semata-mata untuk kekayaan Kerajaan Suji. Semua ini akan kuberikan untuk rakyatku, jadi kembalilah kalian besok ke sini. Jangan lupa, antarkan dua peti emas batangan untuk kerajaan kami lalu kami akan mengalirkan air dari sumbernya." Ucap sinisku kepada Keytaro. Senyumku menyaeringai, terlihat sangat sinis seolah menandakan kepuasan atas keadaan kerajaan Keytaro. Taktik yang direncanakan oleh putraku ini benar-benar luar biasa, aku kagum pada kecerdasan otak Kenzi.
__ADS_1
"Baiklah, jika seperti itu. Aku pamit pergi, tunggu besok kekuranganya. Terima kasih banyak Kaisar Suji, terima kasih banyak Pangeran Kenzi." Ucapnya sembari berlalu pergi saat ini.
Aku menoleh arah anakku lalu aku menepuk pundaknya seraya aku bangga memiliki putra mahkota seperti Kenji.
"Wahai putraku, kamu amat sangat cerdas. Kepintaranmu memainkan strategi benar-benar luar biasa, jiwa sosialmu begitu tinggi bahkan bijaksana. Teruslah belajar menjadi penggantiku, suatu saat nanti ayah akan merasa bangga jika kerajaan ini diturunkan kepadamu." Ucapku dengan senyuman.
"Baik ayah, akan kulakukan yang terbaik untuk Kerajaan Suji. Akan kubuktikan kepada kerajaan yang dulu pernah menghina kerajaan kami bahwa untuk saat ini Kerajaan Suji wajib diperhitungkan. Tenang saja ayah, aku akan tetap menjadi anakmu yang terbaik." Ujar Kenzi dengan begitu menggebu-gebu, akhirnya kami berdua pun berangsur pergi dari ruangan tadi. Tidak lama kemudian, Kenji meminta izin untuk keluar dari istana Kerajaan Suji.
"Ayah, bolehkah aku keluar dari kerajaan? aku ingin bertemu dengan temanku." Seru putra kebangganku.
"Tentu saja boleh, anakku. Siapa yang berani melarangmu, pergilah, aku sudah mengizinkanmu untuk pergi kemanapun yang kamu mau." Ucapku mempersilahkan kepada putra ku Kenzi.
"Baiklah, terima kasih ayah. Aku pamit pergi." Ucapnya dengan membungkukkan badannya sembari ia berlalu pergi.
Aku pun kembali duduk di kursi singgasana, senyumku mengiringi langkah putraku yang sekarang beranjak dewasa.
__ADS_1
"Putraku, Kenzie. Suatu saat nanti, kamu akan tahu siapa jati dirimu sebenarnya." Gumamku dalam hati seraya aku terus mengingat tentang Keiko saat ini. Semakin dalam Aku merenung, semakin dalam aku pula lamunanku. Aku memikirkan keadaan Keiko saat ini. Setelah Keiko diusir dari Kerajaan oleh istriku, mungkinkah dia masih hidup? entahlah, sudah lama sekali aku tidak mendengar kabarnya. Semoga saja, Keiko baik-baik saja.