
Setelah kepergian Dewa Bumi, kami segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan menuju lorong keadilan. Kami rapikan semua alat tempur, agar tidak ada satupun barang yang tertinggal di gubuk. Hari ini nampaknya Kaisar Suji menemukan kembali semangat hidupnya, wajahnya begitu bersinar karena beliau akan menjadi pemimpin dalam misi lorong keadilan.
Aku segera menghampiri Kaisar Suji.
"Apakah, Anda sudah siap?" Tanyaku kepada kaisar yang sangat adil.
"Sepertinya, hari ini aku sangat bersemangat untuk melakukan perjalanan ke lorong keadilan. Terlebih di usiaku yang sudah mulai senja, aku masih berkesempatan untuk memimpin dalam misi pertempuran. Penghargaan yang disematkan di dadaku, seolah menjadi penghargaan yang sangat berarti. Sebaiknya kamu segera mempersiapkan diri, agar kita tidak terlalu malam sampai di lorong keadilan." Ucapnya dengan sesekali melihat penghargaan yang diberikan oleh Dewa Bumi.
"Baiklah.. Kaisar Suji. Sepertinya aku sudah siap, apakah sekarang kita bisa mulai berangkat?" Seru kepada Kaisar Suji.
Saat ini, dia tersenyum lalu dia berangsur pergi meninggalkanku dan menghampiri Kenzi. Terlihat Kaisar Suji sangat memperhatikan putra kesayangannya. Walaupun Pangeran Kenzi sudah beranjak dewasa, akan tetapi Kaisar Suji selalu memperlakukan Pangeran Kenzi seperti anak-anak.
"Anakku yang tampan, lihat bajumu ini kurang rapi. Kemarilah.. Ayah coba memperbaiki cara berpakaianmu." Ucap Kaisar Suji dengan merapikan baju, yang dikenakan oleh pangeran Kenzi.
"Ayah.. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, aku sudah menjadi pria dewasa. Sudah, biar aku yang merapikan sendiri. Terima kasih sebelumnya." Ucapan heran Kenzi seraya dia menolak. Mungkin dia malu karena ada aku yang selalu memperhatikanya. Disudut gubuk, terlihat guru sedang merapikan buku-buku panduan. Sepertinya, guru sedikit terlihat sangat sibuk. Aku mencoba membantunya, aku hampiri guru lalu aku meraih buku-buku yang berserakan.
"Guru, ini buku-bukunya. Aku sudah membantumu untuk merapikan buku-buku panduan ini." Ucapku kepada guru.
"Terima kasih, Yuka." Ucapnya dengan tersenyum, lalu kami semua bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke lorong keadilan.
__ADS_1
"Kalian sekarang, sudah siap?" Tanya Kaisar Suji.
"Sudah.. kami semua sudah siap." Seru kami bertiga, menyahuti ucapan Kaisar Suji.
"Baiklah, marilah kita berangkat." Ujar Kaisar Suji saat ini. Kami-pun berjalan meninggalkan Gurun Haisa. Sungguh banyak sekali kenangan yang terdapat di gurun ini, satu persatu calon peserta mendapatkan gelar kesatria saat berada di sini. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa menceritakan pengalamanku kepada keturunanku tentang Gurun Haisa. Kami berjalan melewati hutan yang sangat lebat, kami berhati-hati dalam melangkah, seraya kami tidak ingin terjebak dalam perangkat hutan lebat ini. Langkah kami dipercepat karena kami tidak ingin terlalu malam berada di hutan gelap ini. Sekarang sudah mulai terlihat ada mata air di ujung sana, sungai kecil yang memiliki air yang sangat jernih.
"Kaisar Suji, di ujung hutan sana. Terdapat sungai yang sangat jernih, lihatlah.. Apakah sebaiknya kita beristirahat di sana?" Tanyaku kepada Kaisar Suji saat ini.
"Iya, benar ayah. Sungainya sangat jernih, sepertinya kita bisa makan di tepi sungai." Sahut dari Pangeran Kenzi saat ini. Kaisar mengangguk, seraya dia menyetujui apa yang kami usulkan.
"Hari ini, kita membawa banyak sekali bekal makanan. Yuka, telah mempersiapkan bekal makanan kami yang sangat banyak." Seru dari guru kerajaan kepada kami semua. Dia pun berjalan dengan memegangi satu ranting pohon, digunakannya ranting itu untuk memastikan jalan tersebut aman. Kami-pun bersemangat berjalan, hingga kami tiba di sungai yang sangat jernih. Terlihat sekali pemandangan begitu indah, saat kami telah melewati hutan lebat. Perjalanan kami cukup jauh, karena kereta kuda tidak mungkin mampu membawa kami masuk ke hutan lebat ini. Kami sangat kelelahan, akhirnya aku berinisiatif untuk mengambil air yang jernih yang terdapat di sungainuntuk kami minum. Aku coba mendekat, ke arah Sungai lalu aku mengambil satu botol air dari sungai ini.
"Iya, Yuka. Sepertinya, Air ini bisa langsung kita teguk. Serunya kepadaku, Kenzi pun mengelus kuda- kuda itu seraya memberikan kasih sayang. Akhirnya, kami duduk di atas bebatuan di tepi sungai. Kami menikmati bekal makanan yang kami bawa, cuaca di sini sangat sejuk sekali. Begitu kontras dengan cuaca pada saat kita di Gurun Haisa.
"Sampai detik ini, masih menjadi misteri. Mengapa ada gurun yang berseberangan dengan hutan, bahkan hutan yang memiliki sungai sejernih ini." Ucap Kaisar Sujii dengan sesekali mengunyah makanannya.
"Benar, Kaisar. Sepertinya disini tidak ada tanda-tanda kehidupan. Seperti yang kita ketahui, di hutan lebat pastilah ada binatang buas akan tetapi di hutan perbatasan Gurun Haisa, tidak ada sama sekali binatang buas." Seru dari Guru Kerajaan Suji. Kami segera menghabiskan makanan dengan cepat karena terlihat sepertinya, sebentar lagi waktu sore akan tiba.
"Apakah kalian sudah menyelesaikan makanan kalian?" Tanya dari Kaisar Suji saat ini. Beliau memperhatikan kami satu persatu.
__ADS_1
"Kita sudah siap, untuk melanjutkan perjalanan kembali kaisar." Ucap Guru Kerajaan Suji, tapi tunggu sebentar Kaisar. Disini terlihat, setelah kita melewati hutan lebat kita akan bertemu dengan sungai yang jernih lalu di seberang sungai ini kita akan menemukan persimpangan jalan. Tunggu aku, aku sedang memeriksa di dalam buku panduan. Aku tidak ingin kami tersesat." Ucap guru kerajaan dengan membuka buku panduan. Kami menunggu beberapa saat karena peta perjalanan hanya ada di dalam buku panduan. Tidak lama kemudian, guru kerajaan-pun berkata.
"Wahai, Kaisar Suji. Sepertinya, persimpangan jalan ini adalah jebakan untuk mengecoh kita. Kita harus bisa masuk ke tahap berikutnya, sebelum kita menemui persimpangan jalan. Kita harus kita harus pastikan bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan yang memiliki simbol bintang di salah satu sudut pohon yang ada di sana." Ucap guru kerajaan dengan menjelaskan isi dalam buku panduan.
"Emh, baik guru. Sepertinya kita harus berhati-hati di sini, mungkin hanya aku yang bisa membantu untuk menentukan jalan karena hanya kesatria murni lah yang bisa menemukan simbol itu." Ucapku kepada guru Kerajaan Suji. Kami pun menyeberangi sungai yang sangat jernih lalu benar saja setelah sungai ini kami lewati terlihat ada dua cagak jalan yang sepertinya bisa menyesatkan kita.
"Sepertinya, dua persimpangan ini yang dimaksudkan dalam buku panduan." Ucapku kepada seluruh peserta pertempuran.
"Benar, Yuka. Ini persimpangannya.." Ucap Guru Kerajaan Suji. Aku coba mengamati lingkungan sekitar, ku coba melihat di mana simbol itu berada. Aku amati secara seksama, tidak ingin satu pohon-pun terlewat olehku. Aku berjalan ke sebelah kiri, namun firasatku sepertinya kurang baik melihat jalan ini. Aku menoleh ke sebelah kanan jalan. Aku maju beberapa langkah untuk menghampiri pohon-pohon yang ada di sekitar. Ada satu pohon yang menarik perhatianku, pohon itu memiliki ukuran yang sangat besar akan tetapi satu pohon itu tidak memiliki daun sama sekali. Aku coba mengitari satu pohon besar ini, tiba-tiba aku melihat kilauan cahaya yang begitu menyilaukan mata di balik pohon besar yang saat ini kusentuh.
"Aduh, cahaya apa ini? Bantulah aku, kemarilah!" Ujarku kepada seluruh anggota pertempuran.
"Yuka, kamu berhasil menemukan simbol itu. Teriak dari Kenzi yang saat ini mengejutkanku.
"Benarkah itu?" Ucapku seraya tidak percaya dengan apa yang aku lakukan.
"Kerja bagus, anak baik." Ucap Kaisar Suji saat ini dengan menepuk pundak ku.
"Sekarang kita telah menemukan jalan, maka segeralah kita lanjutkan perjalanan kita untuk menuju ke lorong keadilan." Seru dari guru pelatih Kerajaan Suji. Kami langsung berjalan menyusuri jalan yang kami pilih.
__ADS_1