SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM

SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM
Episode 39. Jurang kematian.


__ADS_3

Aku mencari hingga ke seluruh hutan belantara. Tidak luput satu jangkauan penghitanku, membidik seisi hutan lebat ini.


perlintasan kami lalui melampaui batas Gurun Haisa. Berjalan menyusuri hutan dengan harapan menemukan Kaisar Suji yang di bawa jauh oleh Siluman Black Eye.


"Kaisar... Kaisar Suji." Teriaku sekuat tenaga.


Tubuh ini mulai kedinginan karena waktu telah larut malam. Hutan gelap kami susuri tanpa ada rasa takut sedikitpun.


Terlihat Pangeran Kenzi yang mulai resah dalam pencarian ini.


"Ayah, pulanglah.. ! Dimana ayah berada?" Teriak Pangeran dengan wajah yang pucat.


"Pangeran Kenzi lebih baik kita mencari ke sebelah kanan, sepertinya hutan di bagian kanan belum kita susuri sepenuhnya. Aku takut jika di ujung sana ada jurang kematian." Ucapku secara spontan, kepada Pangeran Kenzi. Pelatih-pun menatapku dengan tajam, seolah dia mengingat sesuatu tentang jurang kematian.


"Mengapa kamu bisa berbicara tentang jurang kematian? Apakah kamu mengetahui bahwa di ujung Gurun ini terdapat jurang kematian?" Tanya dari seorang guru kerajaan. Aku-pun terdiam bahkan aku tidak mengerti apa yang aku ucapkan.


"Sebaiknya, kita cari saja ke arah sebelah kanan. Mungkin saja, insting dari seorang kesatria bisa dibuktikan kebenarannya." Ucap Pangeran Kenzi yang menyambut ucapanku, akhirnya kami semua bergegas menelusuri hutan di bagian kanan. Setiap sudut kami terangi dengan center yang kami pergunakan, saat berjalan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini, akan tetapi aku melihat bayangan di ujung pelupuk mata.


"Wahai guru, apakah itu Kaisar Suji?" Tanyaku kepada guru kerajaan, akhirnya mereka berdua menoleh ke arah sebelah kanan yang aku tunjuk.

__ADS_1


Pangeran Kenzi-pun berlari seraya dia ingin memastikan, bahwa itu Kaisar Suji.


"Pangeran Kenzi, berhati-hatilah. Aku takut jika di sana adalah tipu daya dari siluman." Ucapku kepada Pangeran Kenzi. Aku segera berlari mengikuti langkahnya, tidak ada rasa lelah yang kami rasakan. Seolah-olah, kami hanya ingin menemukan Kaisar Suji saat ini.


"Woaaah, ternyata aku terkejut saat aku memastikan. Siapa orang yang berdiri di ujung sana?


"Semua berhenti.." Teriakku kepada Pangeran Kenzi dan juga guru. Langkahnya pun terhenti saat aku berteriak.


Aku menunjuk ke arah bayangan itu lalu aku segera berlari seraya tubuhku terbang saat ini.


Ciat ciat ciatttt.


Sambil berlari aku segera nenghampirinya. Sontak aku terkejut saat aku melihat itu adalah Kaisar Suji.


"Kaisar Suji.... Mundur." Ucap ku kepada kaisar, aku segera meraih tangannya lalu aku menarik seraya aku menarik tubuhnya agar tidak terjatuh ke bawah jurang.


"Gubrak gubrak." Tubuhku terjatuh bersamaan dengan tubuh Kaisar Suji saat ini.


Seketika Kaisar Suji, tersadar seraya dia terhipnotis oleh bisikan Siluman Black Eyes.

__ADS_1


"Kesatria murni... Dimana aku berada?" Taanya Kaisar Suji saat ini. Sontak aku terkejut, bagaimana bisa dia berjalan tanpa menyadari bahwa hampir saja dia akan terjatuh ke jurang.


"Kaisar Suji, segeralah bangkit. Mari kita pulang ke gubuk." Teriakku kepada Kaisar Suji saat ini.


Kami pun berjalan meninggalkan jurang yang hampir saja merampas nyawa Kaisar Suji.


"Ayah... Mengapa ayah berjalan terlalu jauh dari perbatasan gurun dan juga hutan. Jarak tempuh sangatlah terbentang jauh akan tetapi ayah berjalan seolah tiada hentinya. Hampir saja nyawa ayah melayang saat ayah berdiri di depan jurang tadi." Ucap Kenzi kepada ayahnya saat ini.


"Uh, maafkan aku anakku. Ayah tidak menyadari jika ayah sedang berjalan." Sahutnya kepada putra kesayangannya itu.


"Sudahlah kalian, jangan berdebat. Sebaiknya kita segera pergi ke Gurun Haisa." Teriakku kepada seluruh orang yang ada di hutan ini. Akhirnya kami pun bergegas segera pulang kembali ke Gurun Haisa, sepertinya fajar mulai terbit. Kami melewatkan waktu semalaman di dalam hutan sampai akhirnya tibalah kami sampai di Gurun Haisa.


Tepat di depan gubuk ini. Aku melihat ada sesuatu yang tergeletak di atas dipan. Aku segera meraihnya lalu aku coba memastikan benda apa yang terletak di atas dipan ini, ternyata ada sepucuk surat dan juga bintang kehormatan. Aku pun segera membaca surat ini. Seluruh orang, menyimak apa yang aku baca.


"Kalian bisa melewati misi dari tipu daya Siluman Black Eye. Ini adalah bintang kehormatan yang akan aku berikan kepada Kaisar Suji, kehormatan ini adalah bintang keadilan Kaisar Suji . Kaisar diselamatkan oleh keadilannya saat dia memimpin di kerajaan. Sekarang ada gelar baru yang disandangnya yaitu kesatria keadilan. Berikan bintang ini lalu sematkan di bajunya!" Tulisan yang tertera pada surat yang tergeletak saat ini.


"Kaisar Suji.. Ini bintang kehormatan untukmu, semesta memberikanmu bintang ini karena selama Kaisar memimpin kerajaan kaisar adalah sosok pemimpin yang sangat adil. Raihlah ini kaisar, aku persembahkan kepadamu." Aku pun memberikan bintang itu seraya memberi penghormatan kepada kaisar Suji. Kaisar Suji-pun segera meraihnya lalu menyematkan bintang itu di atas bajunya.


"Terimakasih, Yuka." Sahut Kaisar Suji.

__ADS_1


__ADS_2