
Sesaat aku berlatih bersama Kenzi, tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar saat ini.
Cekiiittt- duar- duar- duar... Duuarrrr.
Suara dan kilatan itu membuatku terkejut. Kami-pun berhenti berlatih seraya berhati-hati karena mendengar suara petir yang menggelegar. Kami segera masuk ke dalam gubuk, seraya kami menanti apa yang terjadi.
Peralatan tempur-pun, kami rapikan saat ini. Aku pun terduduk dengan perasaan khawatir yang berkecambuk di jiwa ini.
"Pangeran Kenzi.. Apakah kamu mendengar suara gelegar itu?" Tanyaku kepada Pangeran Kenzi, dia pun menoleh ke arahku lalu menghampiriku saat ini.
"Yuka, aku pun mendengarnya akan tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi." Sahutnya kepadaku saat ini. Dia memasang wajah yang kebingungan, seraya dia tidak mengerti dari mana asal suara ledakan itu.
Sesaat kami berkomunikasi, tiba-tiba Kaisar Suji menghampiriku saat ini.
"Wahai, kesatria murni dan juga Kesatria berhati emas. Aku pernah mendengar suara gelegar ini. Suara gelegar ini adalah pertanda akan datangnya seorang Dewa ataupun Dewi untuk menghampiri para kesatria." Ucapnya begitu meyakinkan, akhirnya aku-pun terdiam lalu aku berpikir, apalagi yang akan kami lakukan?
"Benarkah itu, Kaisar Suji?" Tanyaku kepada Kaisar Suji, aku mengangkat tanganku seraya aku tidak mengerti dengan suara yang keluar begitu keras saat ini.
"Benar, Yuka. Aku pernah mengalami hal ini, sebelum kita pergi ke Gurun Haisa. Aku di datangi, Dewa bumi bersamaan dengan getaran dan ledakan sama seperti ini." Ucap dari Kaisar Suji kepadaku saat ini. Tiba-tiba, Kenzi menyahuti apa yang diucapkan oleh ayahnya.
"Aku hampir melupakan hal ini. Benar sekali, Yuka. Aku-pun mendengarnya, suara itu bersamaan dengan kedatangan Dewa Bumi ke Kerajaan Suji. Saat itu, Dewa memerintahkan kami berlatih ke Gurun Haisa. Seingatku, terdengar suara ledakan seperti petir dan juga getaran yang begitu dahsyat." Ucap dari pangeran Kenzi saat ini .
__ADS_1
Aku-pun terdiam lalu aku berpikir keras. Dalam benak ku, hanya mengkhawatirkan rintangan selanjutnya yang mungkin akan lebih berat dari misi saat ini.
Guru pelatih menghampiri kami, seraya kami berkumpul berempat dengan berhadap-hadapan. Kami berdiskusi dengan apa yang akan kami lakukan setelah ini. Tiba-tiba guru membukakan buku panduan tentang pertempuran, lembar demi lembar dia buka. Seraya dia menginginkan petunjuk atas apa yang terjadi setelah ini.
"Dari buku yang aku baca, aku melihat bahwa setelah pelatihan ini akan ada lorong keadilan. Seperti yang disebutkan dalam buku panduan pada halaman 52, tentang puncak dari segala perjuangan sebelum dimulainya pertarungan nanti. Kita harus bisa melewati lorong keadilan, lorong ini akan menjadi penentu akan keselamatan dalam pertempuran nanti." Ucapnya dengan menunjuk ke arah lembar halaman nomor 52, kami-pun segera melihat lembaran itu. Di Ujung hutan sana, terdapat petunjuk gambar akan adanya lorong keadilan.
"Apakah sebaiknya kita pergi ke lorong itu, guru?" Tanya Pangeran Kenzi kepada guru Kerajaan Suji.
"Sebaiknya kita menunggu petunjuk dari Dewa Bumi, kita tidak boleh bergerak tanpa arahan dari seorang Dewa." Ucap dari guru kerajaan, mengingatkan kepada Pangeran Kenzi.
"Oke.. Baiklah, guru. Akan tetapi, petir itu terus menyambar dan menggelegar ini. Kejadian ini membuat kekhawatiranku semakin tinggi." Ucapnya dengan wajah yang terlihat pucat saat ini.
Duar-gelegar-duar-guar- duar.
"Yuka, kamu baik-baik saja?" Tanya Pangeran Kenzi yang begitu perhatian kepadaku. Bibirku bergetar, seraya aku sangat takut dengan getaran itu. Ledakan dan getaran bersamaan muncul saat ini. Aku terus memegang erat ujung bajuku.
"Pangeran Kenzi, mendekatiku saat ini. Sekarang dia berada tepat di sebelahku, dia merangkulku seraya dia memberikan perlindungan kepadaku yang sedang ketakutan.
"Kamu tidak usah khawatir, Yuka. Disini kamu tidak sendiri. Ada kami yang akan selalu menjaga kamu, lebih baik kita menunggu dengan sabar kedatangan Dewa Bumi." Ucapnya kepadaku saat ini. Aku mengangguk, seraya aku menerima penjelasan dari pangeran Kenzi dengan baik.
"Baiklah pangeran, tetapi aku tetap saja merasa takut."Ujarku saat ini, dengan menatap bola mata Pangeran Kenzi. Dia membelai rambutku, seolah-olah dia akan selalu menjadi garda terdepan untuk kehidupanku.
__ADS_1
"Yuka.. Tenanglah! Aku ada di sisimu, semua akan baik baik saja." Ucapnya yang begitu sangat menenangkan hatiku saat ini.
Dengan harap-harap cemas kamipun kedatangan Dewa Bumi. Tiba-tiba ada suara dari arah luar gubuk. Suara itu bersamaan dengan sinar yang sangat indah.
"Wahai, para kesatria. Aku tunggu kamu di depan gubuk." Teriakan seseorang dari arah luar. Kami segera bergegas keluar, ternyata Dewa Bumi sudah datang menghampiri kami saat ini.
"Wahai, Dewa Bumi. Akhirnya Dewa datang juga." Ucapku kepada Dewa Bumi.
"Kali ini aku datang menghampiri kalian, selamat kalian telah lolos dalam misi pertempuran di Gurun Haisa. Setelah ini aku akan memerintahkan kalian, untuk menuju tahap berikutnya. Tahap ini adalah tahap keadilan, disana akan terdapat banyak jebakan atau pun rintangan yang akan menghadang kalian. Saat kalian sampai di lorong keadilan, sebaiknya kalian berusaha masing- masing. Ada 4 lorong yang berbeda disana, kalian akan berjuang sendiri-sendiri.
Disana tidak ada kerjasama antar kesatria. Keberhasilan kalian adalah di saat kalian menemukan pintu arah keluar dari lorong keadilan. Jika kalian berhasil, melintasi lorong keadilan. Maka sudah dipastikan pada pertempuran di Lembah Hitam. Kegigihan kalian masing-masing" Ucap Dewa Bumi, seraya dia menjelaskan apa langkah selanjutnya yang harus kami lakukan.
"Terima kasih Dewa Bumi, atas petunjuk darimu. Jika saya boleh tahu, dimana letaknya lorong keadilan? "Ucap Kaisar Suji saat ini.
"Wahai, Kesatria keadilan. Kamu adalah seorang pemimpin yang sangat adiil. Dalam misi pertempuran ini, kamu sebagai tombak utama saat menjadi pemimpin pada misi berikutnya. Sebelum kalian memasuki lorong, alangkah lebih baiknya Kaisar Suji memberikan wejangan dan petuah kepada masing-masing peserta. Tujuan kedatanganya adalah memproteksi keselamatan saat menemukan jalan keluar di lorong keadilan. Hanya insting seorang kesatria keadilan, yang dapat membuat semua peserta selamat." Ucapan dari dewa.
"Terima kasih, Dewa bumi. Aku akan berusaha semaksimal mungkin dan aku berharap semua peserta yang ada di sini bisa menemukan ujung lorong keadilan. Salam hormat kami kepada dewa bumi." Ucap dari Kaisar Suji, kami-pun membungkuk seraya memberi penghormatan untuk Dewa bumi saat ini.
Seketika angin kencang-pun tiba..
Wuhs wis wis wish hus hus hus hus hus hus hus hus hus hus .. Suara angin yang datang bersamaan dengan kepergian Dewa bumi.
__ADS_1
Tring tringing..
Dewa Bumi-pun, menghilang.