SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM

SEDARAH PUSARA LEMBAH HITAM
Episode 46. Rintangan lorong ke 2.


__ADS_3

POV. KENZI


Entah, seberapa jauh aku berjalan melintasi lorong ini. Akan tetapi sampai detik ini, aku belum mendapat rintangan dalam perjalananku. Sejauh ini masih mulus-mulus saja, sehingga aku merasa yakin bahwa aku dapat menyelesaikan misi dalam lorong keadilan. Sesaat aku berjalan perlahan, memperhatikan arah yang akan aku lalui. Akan tetapi, tiba-tiba aku melihat seekor katak.


"Hai, Pangeran Kenzi perkenalkan aku adalah Pangeran Katak. Aku tahu kamu memiliki hati yang sangat bersih, kamu menolong gadis miskin yang bernama, Yuka. Sampai akhirnya, Yuka menjadi kesatria murni yang sekarang melintasi lorong keadilan juga. Izinkan aku untuk membantumu untuk mengarahkan jalan keluar." Ucap dari seekor katak kepadaku. Aku-pun terkejut, bagaimana bisa katak berbicara seperti manusia? Akhirnya aku coba mulai mengamati katak ini. Apakah ini adalah katak keberuntungan ataukah Ini tipu daya muslihat Iblis? Terlihat katak ini menggunakan mahkota. Sepertinya dia memang katak yang ingin membantuku, untuk menemukan jalan keluar di lorong keadilan.


"Wahai, katak. Jika memang benar kamu ingin membantuku, tunjukkanlah kemana langkahku harus melangkah. Agar aku dapat melintasi lorong ini dengan sempurna." Ucapku kepada seekor katak yang ada di hadapanku saat ini. Katak itu-pun tersenyum, seraya dia menyanggupi untuk membantuku. Agar sampai di ujung lorong keadilan.


"Baiklah, Pangeran Kenzi. Aku bersedia untuk menolongmu akan tetapi aku tidak bisa melangkah secepat kamu." Ucap katak ini, seraya menjelaskan tentang bagaimana cara dia melangkah.


"Aku tahu, kamu bisa melompat." Ucapku kepada katak ini.


"Tentu saja, pangeran. Aku bisa melompat tetapi di ujung sana kamu akan memiliki rintangan-rintangan yang akan kamu hadapi. Kamu akan bertemu dengan seekor kalajengking." Ucap katak ini begitu mengejutkan.


"Benarkah, demikian? Jadi, bagaimana aku bisa melintasi rintangan kalajengking itu?" Tanyaku kepada katak seraya aku mempertanyakan bagaimana caranya agar aku dapat melintasi rintangan di lorong keadilan.


"Pangeran, Kenzi. Kalajengking itu hanya takut dengan kebaikan hatimu. Maka dari itu, jika dia menyerangmu. Sebaiknya kamu berkata kepadanya, bahwa kamu tidak akan menyakitinya." Ucap kata ini, seraya menjelaskan tentang bagaimana cara aku menghadapi kalajengking. Akhirnya kami-pun sepakat, untuk melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, langkahku terhenti. Saat aku melihat ada 2 perlintasan. Ada lintadan sebelah kanan dan ada lintasan sebelah kiri.


"Katak.. Lihatlah, disini ada dua ruas jalan. Kemana aku harus melangkah saat ini?" Tanyaku kepada seekor katak.

__ADS_1


"Pangeran Kenzi.. Cobalah kamu pikirkan, bagaimana caramu untuk mendapatkan sabuk merah itu." Ucap katak seraya mengingatkan kepada sabuk merahku, akhirnya aku-pun melepas sabuk itu lalu aku mencoba meletakkannya di tanah.


"Wahai, sabuk merah. Tunjukkan jalan yang terbaik untuk akulitasi?" Tanyaku kepada sabuk merah yang saat ini sudah aku letakkan di bawah tanah. Sabuk itu-pun bergerak lalu menunjukkan arah ke sebelah kanan.


"Lihatlah, katak. Sabuk ini bergerak, benar ucapanmu. Sabuk ini dapat membantuku saat ini." Ucapku kegirangan saat ini.


"Baiklah.. Jika seperti itu, Pangeran Kenzi. Silakan kamu susuri lorong sebelah kanan, berhati-hatilah. Di ujung sana, kamu akan bertemu dengan kalajengking." Ucap katak seraya memperingatkanku. Aku-pun berjalan, sambil aku memegangi senter yang digunakan untuk membantu penglihatanku.


"Wah, lorong keadilan ini sangatlah panjang dan juga sangat lembab. Hampir aku sesak nafas, jika berlama-lama di dalam lorong ini." Ucapku kepada katak.


"Memang benar, Pangeran Kenzi. Banyak yang tidak selamat melewati lorong ini, akan tetapi seseorang yang memiliki hati yang tulus pasti bisa melewatinya. Walaupun mereka harus melintasi dengan perjuangan yang sangat panjang." Ucap katak ini kepadaku, tiba-tiba aku dikejutkan dengan datangnya seekor kalajengking yang sangat besar.


"Berhenti..!" Ucapku kepada katak lalu katak itu-pun bersembunyi. Seraya dia Takut melihat kalajengking itu.


"Wahai kalajengking, izinkanlah aku untuk melintasimu. Agar aku sampai di ujung lorong keadilan, bekerja samalah dengan baik. Karena aku hanya ingin menegakkan kebenaran dan keadilan." Ucapku kepada kalajengking ini.


"Oh, tidak bisa semudah itu. Aku ingin menyengat darahmu. Jika kamu memberikan sedikit darahmu, aku akan memberikan jalan untukmu agar dapat melintasi lorong keadilan ini." Ucap kalajengking dengan memaksaku untuk memberikan darahku.


Tiba-tiba, aku teringat akan ucapan katak tadi. Kalajengking ini hanya takut dengan ketulusan hati.

__ADS_1


"Emh, baiklah jika seperti itu kalajengking. Jika kamu menginginkan darahku, silahkan kau ambil sepuasmu. Aku hanya ingin dapat menyelesaikan misi ini, agar aku bisa menegakkan keadilan dan memakmurkan rakyat-rakyatku." Ucapku kepada kalajengking itu.


Seketika kalajengking itu-pun mundur lalu dia meneteskan air mata.


"Tidak mungkin aku menyengat darah seseorang yang sangat tulus. Silahkan kamu melewati perlintasan ini, aku tidak akan mengganggumu." Ucap kalajengking ini kepadaku, akhirnya aku-pun tersenyum lalu aku mengucapkan terima kasih kepada kalajengking itu.


"Terima kasih banyak kalajengking, engkau sangat baik kepadaku. Semoga keberuntungan selalu menghampirimu, sampai jumpa kalajengking." Ucapku seraya meninggalkan kalajengking itu.


Saat ini katak setia di sebelahku, aku lanjutkan perjalanan bersama katak ini. Tiba-tiba katak ini mengucap sesuatu kepadaku.


"Kamu berhasil, Pangeran Kenzi. Kamu memang kesatria berhati emas. Kalajengking itu tunduk kepadamu. Aku tidak menyangka kamu dapat melewatinya dengan semudah itu. Ternyata, apa yang aku ucapkan. Kamu dapat mencerna dengan baik. Kamu memanglah kesatria berhati emas. Selamat, Pangeran Kenzi." Ucap katak itu.


"Ujung jalan sana, adalah garis finish loronng ini. Kamu selesai melewati lorong keadilan ini. Selamat kamu berhasil, Pangeran Kenzi." Sambung ucap katak itu dengan suka cita, akhirnya aku-pun dengan perlahan melewati lorong yang sangat panjang ini. Hingga tiba, aku di ujung jalan.


Terlihat, ini adalah puncak dari keberhasilan misiku.


"Terima kasih, katak. Engkau telah menemaniku, selama di perjalanan. Aku berhasil melewati lorong keadilan, aku akan menunggu kesatria yang lain .Untuk menyusulku saat ini." Ucapku kepada katak yang saat ini tersenyum lalu tiba-tiba dari tubuhnya mengeluarkan cahaya dan dia-pun menghilang.


Tring tring tring tring..

__ADS_1


Katak itu menghilang lalu tubuhnya berubah menjadi mahkota. Aku lihat di sebelah mahkota ini terdapat secarik kertas, aku harus segera membaca agar aku tahu maksud dari mahkota ini.


"Hai, Pangeran Kenzi. Selamat kamu berhasil melewati lorong perlintasan keadilan. Kamu adalah peserta pertama yang berhasil melewati lorong Ini, sementara teman-temanmu masih berjuang dan berusaha untuk melintasi lorong keadilan. Ini mahkota untukmu, ini adalah penghargaan untuk Kesatria berhati emas. Terima kasih Kenzi, ketulusan mu memang sudah terbukti. Katak itu sebenarnya adalah perangaimu sendiri, kata hatimu-lah yang membantumu. Hingga bisa melintasi lorong Keadilan, katak itu adalah dirimu sendiri. Aku senang kamu bisa menggunakan nuranimu, untuk melintasi perlintasan ini. Selamat, Kenzi.." Pesan dari semesta kepadaku saat ini, aku-pun tersenyum lalu aku sematkan mahkota ini di kepalaku. Saat ini, aku menanti mereka tiba. Yuka, ayahku dan juga pelatih mereka sepertinya masih berjuang untuk melintasi lorong keadilan.


__ADS_2