Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 10


__ADS_3

Bab 10


Uci dapat bernapas lega. Akhirnya wanita itu pun menghilang dan berhenti berteriak padanya.


"Maaf, Mas. Karena aku, Mas jadi ikut terlibat," ujar Uci merasa sungkan pada Hengki. Gadis itu benar-benar malu.


"Tidak masalah! Lagi pula kita juga tidak tahu kalau kita akan bertemu dengan orang gila dijalan, kan?" sahut Hengki tak ingin mempermasalahkan hal tersebut.


"Aku selalu saja membuat Mas Hengki terkena masalah! Aku sudah banyak merepotkan Mas! " ucap Uci mulai merasa bersalah pada Hengki, karena sudah membuat pria baik itu selalu terlibat dalam urusannya.


Hengki mengulas senyum sembari mengusap lembut kepala Uci. "Sudahlah! Tidak perlu dipikirkan!" sahut Hengki.


"Tidak perlu dipikirkan bagaimana? Wanita itu ikut berkata ketus pada Mas," cetus Uci dengan wajah pucat. "Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi di sini."


Hengki pun mengajak Uci untuk duduk sejenak dan menenangkan diri. "Kamu mau aku belikan minum?" tawar Hengki.


"Tidak perlu, Mas. Terima kasih banyak sebelumnya!" sahut Uci. "Sepertinya Mas kenal juga dengan wanita itu, ya?" tanya Uci penasaran.


Mendengar perkataan Erin tadi, cukup jelas jika Hengki ternyata mengenal Erin dan juga Arifin. "Mas kenal, kan? Mas sepertinya juga kenal dengan Tuan Arifin," ujar Uci makin dibuat penasaran dengan hubungan antara Hengki Erin dan juga Arifin.


Namun Hengki sepertinya tidak mau menjelaskan apa pun mengenai dirinya dan juga Arifin. Pria itu justru mengalihkan pembicaraan tanpa ingin membahas hal tersebut lebih jauh.


"Ternyata sudah larut! Lebih baik kita pulang sekarang saja!" sahut Hengki dengan mudahnya mengalihkan pembicaraan.


Uci pun ikut fokus melihat jam, dan menyadari jika waktu memang sudah semakin larut. "Astaga! Ternyata sudah larut ini!" timpal Uci mulai lupa dengan pertanyaannya pada Hengki.


"Aku akan mengantarmu sekarang!"

__ADS_1


Meskipun sebenarnya Uci masih menunggu jawaban, tapi gadis itu tidak ingin memaksa jika memang Hengki tidak mau bercerita. Terlihat jelas sekali jika Hengki sengaja menghindar dan tidak mau membicarakan hal tersebut di depan Uci.


Keduanya pun bergegas pulang ke rumah masing-masing tanpa membahas kembali mengenai keributan tak terduga yang terjadi sebelumnya. Sementara Hengki dan Uci berada dalam perjalanan pulang, di tempat lain, Arifin dan Erin pun mulai beradu mulut membahas mengenai pertemuan mereka dengan Uci yang melahirkan keributan di tempat umum.


*Sudah puas kamu? Sudah puas kamu mengomeli gadis yang tidak bersalah? Kamu sama sekali tidak pernah berubah!" omel Arifin pada Erin.


"Aku melakukan ini juga demi kamu! Aku berusaha membela kamu!" tukas Erin mencoba mencari pembenaran atas tingkahnya pada Uci.


"Kamu tidak perlu melakukan hal itu! Memangnya apa yang dia lakukan padaku? Memangnya dia menyakitiku? Memangnya dia merugikanku? Hanya hal sepele saja kenapa kamu selalu membesar-besarkannya seperti ini?" gerutu Arifin mengomel tanpa henti.


"Kamu harus bersikap tegas pada orang-orang seperti gadis miskin itu! Dia sudah bersalah, wajar saja kalau aku memarahinya, kan? Di mana letak kesalahanku?"


Aduh mulut pun berlangsung semakin panjang. Dan Uci masih menjadi bahan perdebatan oleh kedua orang itu.


"Kamu terlalu berlebihan! Gadis itu tidak sengaja! Dia juga sudah menyesal dan meminta maaf!" Sahut Arifin. Seharusnya kamu tidak bersikap arogan seperti ini! Kamu terlalu angkuh dan sombong! Kamu juga sangat posesif padahal kita tidak memiliki hubungan apa pun!"


Erin terdiam. Hatinya benar-benar sakit mendengar perkataan Arifin yang cukup menyakitkan. Memang keduanya tidak memiliki hubungan spesial. Erin bukanlah kekasih dari Arifin. Tapi Erin sudah lama memendam rasa pada Arifin.


Erin sendiri beranggapan kedua orang tua mereka akan menjodohkan mereka saat dewasa. Karena itulah Erin terus menempel pada Arifin, dan menganggap pria itu adalah miliknya, meskipun mereka tidak memiliki hubungan khusus apa-apa.


"Aku tidak suka melihat kamu bersikap arogan seperti itu pada orang lain! Kamu harus belajar menghargai dan menghormati orang lain tidak peduli siapapun itu!" tegas Arifin pada Erin. "Tidak peduli dia pelayan, pemulung, atau apa pun itu, kamu harus belajar menghormati orang lain!"


Erin menundukkan kepala. Wanita itu hanya diam menerima omelan Arifin.


"Aku juga tidak suka kamu bersikap posesif! Kita hanya teman! Tolong bersikaplah sewajarnya seperti teman!" ujar Arifin membuat batasan yang jelas di antara mereka.


"Aku minta maaf," ucap Erin kemudian. Dengan berat hati, wanita itu pun memutuskan untuk mengalah. Tidak ada gunanya juga dia terus bertengkar dengan Arifin. Hal itu hanya akan membuat hubungan dirinya semakin jauh dengan Arifin.

__ADS_1


"Aku minta maaf, ya? Jangan marah lagi!" rengek Erin dengan manja.


Wanita itu mengucapkan maaf berulang kali dan berusaha merayu Arifin agar memaafkan dirinya. "Tolong jangan marah padaku lagi! Aku melakukan hal ini juga karena kamu. Aku tidak akan melakukannya lagi kalau kamu tidak suka," bujuk Erin.


Bukan pertama kalinya Erin bersikap arogan, kemudian meminta maaf. Sudah berulang kali wanita itu membuat Arifin jengkel. Sudah berulang kali juga Erin minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Tapi hasilnya apa? Erin tetap saja tidak berubah.


"Kamu selalu saja mengulanginya! Kamu tidak pernah berubah, Erin!"


"Kali ini aku benar-benar minta maaf! Aku minta maaf, kalau aku sudah berlebihan. Aku minta maaf, Arifin! Kamu mau memaafkanku, kan?" pinta Erin dengan wajah memelas.


Arifin menghela nafas. Pria itu juga tidak tega melihat Erin yang terus-terusan meminta maaf padanya. Apalagi mengingat kedua keluarganya juga dekat. Arifin tidak ingin merusak hubungan keluarga mereka yang sudah terjalin lama.


"Ini untuk yang terakhir kalinya! Aku tidak suka melihat kamu melakukan hal itu lagi di depanku!" ujar Arifin pada Erin.


"Aku tidak akan melakukannya lagi!" ujar Erin penuh dusta.


Meskipun mulutnya mengatakan hal itu, tapi hatinya berkata lain. Erin melakukan hal itu hanya demi membujuk Arifin agar tidak lagi marah padanya.


"Berubahlah, Erin! Jangan bersikap arogan seperti itu!" nasihat Arifin.


"Aku mengerti. Aku menyesal," ucap Erin dengan kepala tertunduk. Tentu saja semua itu hanya demi membuat Arifin senang. Erin tidak akan berubah dengan mudahnya hanya dengan perkataan dari Arifin.


Demi mamanya, Arifin pun akhirnya memaafkan Erin. "Kamu harus berjanji! Jangan bersikap arogan dan posesif seperti ini! Jangan lagi bersikap menyebalkan seperti ini!"


Erin menganggukkan kepala dengan patuhnya. "Aku janji!" sahut Erin.


Keduanya pun akhirnya perbaikan dan menyudahi pertengkaran mereka. Namun, urusan Erin dengan Uci sepertinya belum selesai. 'Lihat saja nanti kamu, Gadis Pelayan! Aku akan membalas kamu nanti!' batin Erin berniat melakukan sesuatu pada Uci, dan menganggap gadis itu sebagai biang masalah.

__ADS_1


'Aku tidak akan meloloskanmu hanya karena kamu mendapatkan pembelaan dari Arifin! gerutu Erin dalam hati.


****


__ADS_2