Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 12


__ADS_3

Bab 12


Uci akhirnya menapakkan kembali kakinya di desa tempat kelahirannya. Setelah lama merantau di Kota Jakarta, akhirnya Uci pun kembali pulang.


"Tidak ada yang banyak berubah," gumam Uci saat menikmati perjalanan menuju ke rumah kedua orang tuanya.


Tak lama kemudian, akhirnya uji pun tiba di kediaman kedua orang tuanya yang sudah ramai dengan para warga yang sibuk mempersiapkan acara hajatan untuk kakaknya. Uci mengulas senyum begitu ia melihat wajah sang ibu yang melihat dirinya di depan pintu. Namun, bukannya mendapatkan sambutan baik, Uci justru mendapatkan omelan dari Bu Sumi.


"Ibu!" sapa Uci sembari bersiap mencium tangan sang ibu.


"Kenapa kamu baru pulang sekarang? Acaranya tinggal dua hari lagi! Kenapa tidak sekalian saja kamu pulang waktu hari acara!" omel Bu Sumi pada Uci yang baru saja tiba setelah melewati perjalanan jauh.


Bukannya disambut dengan senyuman, lagi-lagi Uci mendapatkan omelan. Baik di telepon maupun bertemu secara langsung, Uci tak pernah sekalipun mendapatkan perlakuan hangat dari ibunya sendiri.


"Maaf, Bu. uci baru dapat izin hari ini," ujar Uci mencoba menjelaskan.


"Tidak perlu banyak alasan! Bilang saja kalau kamu malas pulang, kan? Bilang saja kalau kamu tidak mau hadir di pernikahan kakak kamu! Bilang saja kalau kamu tidak mau menyisihkan uang untuk pernikahan kakak kamu!" Setelah apa yang Uci lakukan, hanya makian yang ia terima.


Bu Sumi mengomeli Uci seolah Uci adalah anak durhaka yang tidak pernah memperhatikan keluarga. Padahal, selama ini Uci banting tulang hanya demi mengurus keluarga dan berbakti pada orang tua. Tapi rasanya semua pengorbanan Uci tidak pernah cukup di mata Bu Sumi.


"Maaf, Bu !" Hanya itu yang bisa Uci ucapkan untuk meredakan kemarahan sang ibu. Tak lupa, Uci juga memberikan beberapa kantong barang dan juga amplop uang yang sudah ia persiapkan untuk sang ibu.


"Ini barang titipan Ibu. Uci sudah belikan semuanya sesuai dengan permintaan ibu," ungkap Uci.


Akhirnya omelan Bu Sumi pun terhenti. Setelah melihat amplop uang yang disodorkan oleh Uci, barulah wanita paruh baya itu bungkam.

__ADS_1


"Cepat ganti baju! Di rumah sudah ada banyak orang! Bantu-bantu di dapur sana!" perintah Bu Sumi.


Tanpa beristirahat, Uci pun langsung disibukkan dengan kegiatan memasak para ibu-ibu untuk acara hajatan. Meskipun lelah, Uci tetap memaksakan diri membantu ibu-ibu rewang yang tengah menyiapkan makanan.


"Eh, Uci! Kapan pulang?" sapa beberapa warga dan kerabat yang berada di kediaman kedua orang tua Uci.


"Baru sampai, Bi. Bibi apa kabar?" tanya Uci sembari membantu ibu-ibu memasak, Uci juga menyapa para tetangga dan kerabat yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.


"Baik, Uci! Bibi kira kamu tidak pulang," sahut beberapa bibi Uci yang berada di sana.


"Uci pulang agak mepet, Bi. Baru dapat izin dari pabrik," terang Uci.


"Lama di kota, kamu makin cantik, ya?" puji beberapa Bibi Uci.


Uci mengulas senyum. Meskipun kepulangannya disambut wajah masam dari sang ibu, tapi setidaknya masih ada kerabat dan tetangga akrab yang mau menyapa dirinya dengan senyuman.


Setidaknya rasa lelah Uci bisa berkurang sedikit dengan berbincang bersama kerabat. Di sela-sela kesibukannya, tiba-tiba Bu Sumi mendatangi Uci di dapur dan memerintahkan hal lain pada Uci.


"Uci!" panggil Bu Sumi membuat Uci langsung kelabakan berlari menghampiri sang ibu.


"Ada apa, Bu?" tanya Uci.


"Buatkan minuman dan antarkan ke ruang tamu!" perintah Bu Sumi pada sang putri.


Sebelum Uci benar-benar pergi, Bu Sumi pun memandangi penampilan Uci yang sudah kucel. Wajar saja Uci sudah kucel. Setelah melewati perjalanan jauh, Uci belum sempat membersihkan diri, ditambah lagi gadis itu juga sudah sibuk berada di dapur.

__ADS_1


"Eh, tunggu sebentar!" ujar Bu Sumi sebelum Uci pergi menyiapkan minuman.


"Ada apa lagi, Bu?" tanya Uci.


"Ganti pakaian kamu sebelum kamu ke depan! Pakai baju yang lebih bagus! Dandan juga kalau perlu! Jangan terlihat kumal seperti ini!" perintah Bu Sumi lagi.


Uci mengerutkan kening. Hanya membuat minuman saja, untuk apa gadis itu harus bersolek segala?


"Memangnya kenapa Bu Uci cuma harus membuat minuman, kan?"


"Kamu juga yang harus antar ke depan! Pokoknya jangan muncul di depan dengan penampilan seperti ini! Pakai baju yang lebih bagus!" sahut Bu Sumi tanpa mengatakan siapa kamu yang hendak dibuatkan minuman oleh kucing itu.


Uci menganggukkan kepala. Gadis itu tak lagi berani banyak bertanya. "Baik bu!" sahut Uci Menuruti perintah dari sang ibu.


Sebelum membuatkan minuman, Uci pun bergegas mengurus penampilannya terlebih dahulu di dalam kamar. Uci mencuci wajah dan juga membasuh kaki serta tangannya. Gadis itu juga memilih pakaian yang lebih rapi dan tampil lebih bersih dari sebelumnya.


"Siapa sebenarnya yang akan datang?" gumam Uci penasaran. "Apa mungkin keluarga besan sudah datang?"


Uci sibuk menerka-nerka sembari memilih pakaian yang cocok untuk ia kenakan. "Pakai pakaian kasual saja, deh.p Yang penting bersih dan sopan. Buat apa juga aku memakai pakaian seronok?"


Sebagai anggota keluarga, wajar saja jika Bu Sumi ingin putrinya tampil bersih dan rapi di hadapan tamu-tamu yang akan datang dalam acara hajatan mereka. Meskipun tidak tahu siapa sebenarnya tamu yang akan datang, Uci juga harus tetap tampil rapi di depan semua tamu yang akan berkunjung.


Selesai merapikan diri, Uci segera menyiapkan minuman sesuai dengan pesan sang ibu. Dengan nampan yang penuh dengan gelas teh hangat, Uci mulai melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu untuk melihat siapa tamu yang datang.


"Kira-kira siapa ya tamu yang datang?" gumam Uci.

__ADS_1


****


__ADS_2