
Bab 28
"Bapak sakit buk?"
"Iya, bapakmu sakit."
"Sakit apa buk? Kalau bapak sakit kenapa ibuk malah kemari?" Tanya Uci heran.
"Ya buat jemput kamulah."
Uci semakin bingung, juga takut jika terjadi apa-apa pada bapaknya. "Ibuk kan bisa kabari Uci buk, dari pada ibuk kemari."
"Oo, jadi kamu nggak suka kalau ibuk kemari?"
"Bukan gitu buk, kalau ibuk di sini siapa yang jagain bapak?"
"Alah, nggak usah sok perduli kamu ci, kamu di minta kirim duwit aja malah pacaran di sini. Sama laki-laki kere lagi." Sungut Bu Sumi dengan bibir yang manyun.
Uci hanya bisa menghela nafasnya, memang sudah begini sifat sang ibu, ia tak bisa apa-apa. Setelah cukup lama Uci mendengarkan sang ibu bicara panjang lebar akhir nya Uci bisa tidur juga. Besok Uci masih harus bekerja dan meminta ijin cuti untuk pulang. Karena Bu Sumi terus mendesaknya.
Keesokan paginya, Uci di jemput oleh Hengki untuk berangkat kerja.
"Eeh, kamu ngapain pagi-pagi sudah ke sini?" Sinis Bu Sumi ketus dengan tangan yang terlipat di dadanya.
"Jemput Uci buk," ucap Hengki sopan, tangannya terulur menyalami Bu Sumi. Namun wanita tua itu tak menggerakkan tangan sedikitpun hingga tangan Hengki hanya mengambang di udara. Sadar Bu Sumi acuh, Hengki menarik kembali tangannya.
"Ini tadi saya beli mocil rasa, buk. Buat teman ngeteh." Hengki berganti mengulurkan kantung kresek.
Walau terlihat tak suka. Bu Sumi menerimanya dengan wajah jutek dan malas. Uci yang melihatnya dari jauh hanya bisa mengelus dada. Bagaimana bisa sang ibu begitu ketus dan sinis pada kekasihnya.
"Mas, ayo berangkat." Ucap Uci karena melihat sang ibu yang tak ramah pada Hengki. Jujur saja, Uci malu."buk, Uci berangkat ya." Pamit nya mencium tangan Bu Sumi.
"Heemm, ingat ijin besok kamu harus pulang." Pesan Bu Sumi masih terdengar ketus.
"Iya buk. Moga bos Uci kasih ijin."
"Saya pamit anter Uci buk." Lagi, Hengki mencoba menyalami Bu Sumi, namun masih di abaikan.
"Heemm." Dengus Bu Sumi melengos masuk. Uci menatap sang ibu dengan kecewa dan malu.
"Maaf ya, mas." Kata Uci merasa tak enak pada Hengki.
"Nggak papa." Sahut Hengki lembut mengusap kepala Uci dengan penuh kasih."Ayo naik." Ajak Hengki menepuk jog belakang motornya.
Mereka pun pergi, Bu Sumi mengintip dari balik gorden jendela. Mendengus dengan sebal."Huuhh, pasti pacaran mereka itu. Sampai pegang-pegang rambut segala. Kelihatan banget kok laki-laki kere itu suka sama Uci."
Tangan Bu Sumi terkepal kuat,"nggak bisa di biarin nih, aku harus melakukan sesuatu. Yang bener aja Uci sama laki-laki kere. Rugi dong aku modalin ngrawat bocah itu sampai Segede ini kalau cuma dapat mantu kere." Bu Sumi menutup gorden dengan kasar.
Sementara itu, dalam perjalanan Uci terus merasa tak enak pada Hengki. Ia menatap sang kekasih dari sepion yang terlihat wajah tampannya.
Hengki melirik kecil ke arah yang sama melihat wajah sendu Uci, ia tersenyum kecil. "Kenapa? Jelek tau kalau cemberut gitu."
"Maaf mas."
"Maaf kenapa lagi?"
"Sikap ibuk..."
"Udahlah, namanya juga orang tua, pasti pengen anak gadisnya bahagia."
"Tapi kata-kata ibuk tu keterlaluan banget, mas."
__ADS_1
"Ibuk cuma khawatirin kamu, Ci."
"Enggak mas, kamu nggak kenal ibuk Uci. Dia itu..."
"Mata duitan?"
Uci tersenyum sebal, memang begitu kenyataannya.
"Mas udah cukup tau hanya dari cerita kamu Uci, dan mas semakin tau setelah ketemu dan berinteraksi dengan beliau." Ucap Hengki sembari terus mengendarai motor nya."Jalan kita nanti akan emakin sulit, ci. Tapi kamu percaya kan sama mas? Kalau mas bisa bahagiain Uci?"
Uci mengangguk, Hengki tersenyum melihat dari kaca spion. Motor Hengki semakin melambat, bukan karena Hengki menikmati momen sederhana itu. Tapi, karena memang motornya tiba-tiba bermasalah.
"Sory ci, motornya ngadat." Ucap Hengki menepi. Uci pun langsung turun mengikuti Hengki. Pria tampan itu mengecek motornya, beberapa kali mencoba menghidupkan motor bahkan mengecek tangki bensin. Semua normal.
"Ci, kamu naik ojek aja ya, ini keknya harus di bawa ke bengkel deh." Ucap Hengki yang sudah mengecek mesin sampai ujung jari nya hitam oleh oli.
"Tapi mas,"
"Nanti kamu telat loh." Ucap Hengki yang mengerti kegelisahan sang kekasih.
"Tapi mas gimana?"
"Udah, tenang aja. Mas bisa cari bengkel terdekat kok. Mana hape mu, biar mas Carikan ojek online."
Wajah Uci semakin merasa tak enak dan sedih melihat Hengki. Saat ini Hengki sedang kesusahan dan dia malah akan meninggalkan kekasihnya.
"Uci ijin masuk telat aja, mas." Ucap Uci akhirnya mengeluarkan hp.
"Eh, jangan. Sayang ci. Nanti gaji kamu kepotong, kamu kan masih harus pulang kampung sama ibuk." Potong Hengki merebut hp dari tangan Uci.
"Uci nggak bisa ninggalin mas..."
"Ssstt! Nurut ya, nanti kamu telat. Kamu harus profesional dalam bekerja. Karena ini juga bisa dapat promosi kan? Jangan bikin atasanmu kecewa."
Sebuah mobil hitam berhenti di sisi sepasang kekasih itu. "Uci? Hengki? Ngapain? Motornya mogok?"
Uci dan Hengki melihat ke arah suara berasal.
"Pak Arifin!"
"Iya, mogok mas. Skalian angkut Uci ya mas, kalian sekantor, kan?" Pinta Hengki berbicara santai. Ia lupa jika Arifin atasan Uci dan gadis itu tak tau jika mereka kakak beradik.
"Ayok."
Uci menatap Hengki heran, karena Hengki bisa bersikap kurang sopan seperti itu.
"Ayok, nanti telat loh."
"Sana!" Hengki mengkode Uci agar masuk ke mobil sang kakak.
Walau merasa berat, Uci akhirnya masuk ke dalam mobil Arifin. Bahkan sampai mobil itu bergerak, Uci masih melihat kearah belakang, di mana ia meninggalkan Hengki sendiri dengan motor yang mogok. Sampai mobil yang ia tumpangi berbelok di tikungan.
"Kenapa? Nggak rela pisah sama yayang?" Ledek Arifin mendengar suara helaan nafas berat Uci.
"Uci merasa bersalah ninggalin mas Hengki sendiri di sana."
"Kamu ninggalin buat kerja ci, bukan buat kawin lari."
Uci tersenyum kecil, namun hatinya masih merasa tak enak pada sang kekasih. Arifin melirik Uci, sebenarnya, ia juga memiliki secuil rasa untuk gadis di sampingnya. Tapi, melihat keseriusan Hengki dalam hubungannya dengan Uci. Arifin memilih mundur. Ia tak ingin hubungan baik dalam bersaudara rusak hanya karena masalah hati.
"Aku pasti akan dapat wanita baik juga." Pikir Arifin melihat lurus ke depan.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Uci bergegas masuk setelah mengucapkan terima kasih pada Arifin.
"Makasih pak, atas tumpangannya." Ucap Uci.
"Oke, santai aja."
Lalu mereka berpisah ke ruangan masing-masing. Arifin terlonjak kaget melihat sang mama sudah duduk di kursi kerjanya.
"Mama? Ngapain pagi-pagi mama ke sini?" Arifin mencoba mengatur detak jantungnya yang masih berdegup kaget.
"Mama liat dari jendela, kamu berangkat bareng sama Uci ya?"
"Iya," jawab Arifin sekenanya.
"Ck!" Mama Artika memukul lengan Arifin.
"Auw, sakit ma." Protes Arifin menggosok lengannya.
"Kamu tau kan kalau Uci itu sama Hengki?"
"Iya ma, tau, tau."
"Terus ngapain berangkat bareng sama Uci?"
"Tadi ketemu dijalan. Motor Hengki macet, jadi ku angkut Uci sekalian biar nggak telat masuk kerja."
"Huuhh, kamu ini, terus Hengki mana?"
"Ya tertinggallah di sana."
"Kamu kakaknya kok malah ninggalin adek sih?"
"Ya dari pada kami berdua telat, kena sp ntar."
"Siapa yang bisa kasih kamu sp Arifiiinn!!" Mama Artika menjewer telinga Arifin dengan gemas.
"Mamamamamam..."
***
Hengki menatap mobil yang membawa kekasihnya menjauh. Ada sedikit perasaan tak rela saat Uci pergi dengan mobil sang kakak. Tapi, ia tak ingin egois, karena ini bukan hanya tentang hati, dan di tinggal pergi. Tapi juga tentang hidup Uci, tentang pekerjaannya, tentang perjuangan sang kekasih hingga sampai di titik ini. Dan berlanjut pada perjuangan Hengki dalam meluluhkan hati sang calon mertua tanpa menggunakan harta orang tua.
Hengki menghela nafasnya, lalu menghubungi seseorang.
"Restu, motorku mogok."
("Oke, dimana lokasimu.")
"Sesuai GPS."
("Baiklah, akan kukirim orang ke sana. Kau bersama seseorang?")
"Tidak."
("Oke, tunggu saja bos. Tidak kurang dari sepuluh menit.")
Hengki menunggu di atas motornya yang mogok. Tak lama sebuah truk pengangkut motor berhenti didepannya. Pria tampan itu menggeleng.
"Gila! Ngapain pake bawa beginian."
"Buat angkut motor tua bos, nanti rontok onderdil susah." Suara pria di balik kemudi.
__ADS_1
Setelah motor berhasil diangkut di atas truk pengangkut motor. Hengki duduk di sisi motor dan bersandar pada benda kesayangan nya itu. Melaju pelan menyusuri jalanan ibu kota.
"Orang kere ya gitu, motor mogok masih bisa bergaya, ckckck..."